HomeNalar PolitikGagasan Ketum Dipagar, Agak Laen Golkar?

Gagasan Ketum Dipagar, Agak Laen Golkar?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Partai Golkar seolah menerima diskursus pembatasan masa jabatan ketua umum, dan hampir semua orang mungkin salah membacanya. Ini bukan soal tekanan regulasi. Ini adalah satu-satunya partai yang berani menginterupsi hukum besi oligarki dari dalam. Sebuah anomali yang seharusnya menjadi standar?


PinterPolitik.com

Ada momen-momen dalam politik yang tampak sepele di permukaan, tetapi menyimpan tekanan besar di kedalamannya. Salah satunya terjadi ketika Golkar, partai dengan genealogi terpanjang dalam sejarah politik Indonesia modern, memilih untuk menerima wacana pembatasan masa jabatan ketua umum.

Bukan dengan resistensi. Bukan dengan manuver. Tapi dengan sikap yang, dalam konteks kultur partai Indonesia hari ini, terasa nyaris asing, penerimaan institusional.

Reaksi publik yang paling umum adalah membaca ini sebagai respons taktis terhadap tekanan KPK atau regulasi eksternal. Bacaan itu tidak salah, tetapi dangkal.

Sebab yang sesungguhnya sedang terjadi lebih dalam dari sekadar kalkulasi jangka pendek. Partai Golkar tampilkan sedang melakukan sesuatu yang jarang dilakukan oleh organisasi kekuasaan mana pun secara sukarela: membatasi dirinya sendiri.

Untuk memahami mengapa ini penting, kiranya perlu meminjam lensa Robert Michels. Dalam magnum opus-nya, sosiolog Jerman itu merumuskan apa yang ia sebut sebagai Iron Law of Oligarchy, hukum besi oligarki.

Tesisnya sederhana namun brutal, setiap organisasi, tanpa kecuali, akan bergerak menuju penguasaan oleh segelintir elite.

Bukan karena niat jahat, melainkan karena logika organisasi itu sendiri yang mendorong sentralisasi.

Jika Michels benar,  dan hampir semua sejarah organisasi modern membenarkannya โ€” maka apa yang dilakukan Golkar adalah sesuatu yang secara sosiologis hampir mustahil, yakni menginterupsi hukum besi itu dari dalam.

Sebuah anomali. Dan anomali, dalam ilmu sosial, selalu layak untuk diperiksa lebih serius. Mengapa demikian?

Pilihan Eksistensial Beringin

Perdebatan soal batas masa jabatan ketua umum partai bukan soal teknis administratif. Ini adalah pertarungan antara dua model partai yang berbeda secara filosofis.

Model pertama adalah partai sebagai kendaraan kekuasaan personal, personalized party. Di sini, ketua umum adalah partai itu sendiri. Loyalitas mengalir ke bawah dari figur, bukan ke atas dari sistem.

Baca juga :  Anies dan Koleksi Pion Riyadh

Pergantian pemimpin bukan regenerasi, melainkan krisis eksistensial. Dan karena partai bergantung pada personal brand sang pemimpin, umur partai pada dasarnya adalah umur figur dominannya. Ini bukan karikatur, ini adalah potret sebagian besar partai besar Indonesia hari ini.

Model kedua adalah partai sebagai institusi atau institutionalized party. Samuel Huntington, dalam Political Order in Changing Societies, menetapkan bahwa kekuatan sebuah institusi ditentukan oleh empat hal, yaitu adaptabilitas, kompleksitas, otonomi, dan kohesi.

Partai yang kuat bukan yang paling setia pada satu figur, melainkan yang mampu bertahan dan beradaptasi melampaui figur tersebut.

Angelo Panebianco menyebutnya value infusion, ketika kader loyal bukan pada pemimpin, melainkan pada organisasi sebagai entitas yang memiliki nilai dan sistem tersendiri.

Partai Golkar, dalam konteks ini, lebih dekat pada model kedua, meski tidak sempurna dan tidak steril dari praktik oligarkis. Ia telah melewati Orde Baru, Reformasi, berbagai koalisi pemerintahan, pergantian presiden, dan tetap relevan secara struktural.

Tidak ada figur tunggal yang bisa mengklaim bahwa eksistensi Partai Golkar bergantung padanya. Itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil dari infrastruktur institusional yang dibangun, dan terus dirawat lintas generasi.

Di sinilah letak insight yang paling sering luput, yakni Partai Golkar bertahan bukan karena bersih dari oligarki, tetapi karena mampu mengelola oligarki. Ini perbedaan yang sangat krusial.

Menolak oligarki adalah idealisme. Mengelolanya secara terstruktur adalah realisme tingkat tinggi, dan jauh lebih sulit.

Vilfredo Pareto, sosiolog Italia yang merumuskan teori circulation of elites, menegaskan bahwa sistem sosial yang sehat membutuhkan pergantian elite secara reguler.

Ketika sirkulasi itu macet โ€” ketika elite lama tidak memberi ruang bagi elite baru โ€” yang terjadi bukan stabilitas, melainkan stagnasi yang menyimpan konflik laten.

Pembatasan masa jabatan ketua umum adalah, dalam kerangka Pareto, mekanisme formal untuk memastikan sirkulasi itu terjadi secara tertib, bukan hanya ketika krisis atau kekalahan elektoral memaksanya.

Yang lebih menarik lagi adalah dimensi Montesquieu-an dari langkah ini. Prinsip trias politica, bahwa kekuasaan harus mengecek kekuasaan โ€” biasanya kita terapkan pada level negara.

Baca juga :  โ€œMixed Feelingsโ€ ala Megawati Berlanjut?

Partai Golkar tampaknya sedang mencoba menerapkannya di dalam tubuh partai sendiri: sebuah internal separation of power yang jarang dibahas dalam studi kepartaian Indonesia.

Kekuasaan ketua umum dibatasi bukan oleh oposisi eksternal, tetapi oleh desain institusional dari dalam.

bahlil resmi ketum golkar

Anomali, Seharusnya Menjadi Standar

Ada satu pertanyaan yang lebih besar dari sekadar Partai Golkar, mengapa sikap ini terasa asing?

Jawabannya justru itulah diagnosisnya. Sebagian besar partai besar Indonesia telah beroperasi begitu lama sebagai closed power circuit โ€” lingkaran kekuasaan tertutup โ€” sehingga ketika ada satu partai yang mencoba membuka pintunya dari dalam, kita menyebutnya “beda” atau “agak laen.”

Padahal yang seharusnya terasa asing adalah sebaliknya, partai yang seluruh eksistensinya bergantung pada satu nama, satu wajah, satu tangan.

Partai Golkar sedang mengirim pesan yang tidak nyaman kepada seluruh ekosistem partai politik Indonesia, bahwa ancaman terbesar bagi sebuah partai bukan serangan dari luar, melainkan kekuasaan yang terlalu lama tinggal di satu tangan.

Bahwa yang membusuk paling diam-diam adalah jaringan ketergantungan personal yang tak pernah diputus. Bahwa partai yang terlalu setia pada satu figur akan mati bersama figur itu: pelan, pasti, dan seringkali tanpa menyadarinya.

Isu ini, pada akhirnya, bukan tentang Partai Golkar. Ini tentang masa depan desain partai politik Indonesia. Jika tren ini diikuti, jika pembatasan masa jabatan menjadi norma, bukan pengecualian, maka kita sedang bergerak menuju ekosistem partai yang lebih tahan lama, lebih bisa diprediksi, dan lebih sehat secara demokratis.

Jika tidak, Indonesia akan terus menjadi laboratorium hidup bagi teori Michels, negara demokrasi yang partai-partainya, satu per satu, dikuasai oleh logika oligarki yang tak pernah diinterupsi.

Bahwa sebuah partai tua memilih untuk membatasi dirinya sendiri sebelum terpaksa, itulah yang membuat langkah Partai Golkar bukan sekadar berita. Ia adalah argumen. Argumen bahwa institusi yang kuat bukan yang tak bisa dijatuhkan, melainkan yang tahu bagaimana cara memperbarui dirinya sendiri. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, โ€œrayapโ€ tidak takut pada menterinya.

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing

BGN and the โ€˜Nurturingโ€™ Nanik

Prabowo tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit?ย 

Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Simbolisme Marhaen kini bergeser ke kisah Fatimah Iryanti. Seratus tahun lalu, Soekarno menemukan wajah kemiskinan di sawah yang kering. Hari ini, wajah itu duduk di jok motor, menanggung terik kota, mengantar pesanan demi pesanan yang surplusnya tidak pernah benar-benar sampai ke tangannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara โ€œsenyapโ€.

“Termul” Pensiun, AI Ambil Alih

Mereka tidak mencoba meyakinkan Anda. Mereka hanya perlu meyakinkan Anda bahwa semua orang lain sudah setuju. AI akan mengambil posisi Buzzer Konvensional. Mereka tidak bergerak dengan ratusan akun, mereka bergerak dengan ribuan atau jutaan akun. Manusia biasa tidak mungkin bisa melakukannya. Selamat Datang di fenomena AI SWARM.ย 

Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Pertemuan Megawati dan Sultan Hamengku Buwono X beberapa hari lalu terlihat seperti silaturahmi biasa โ€” kangen-kangenan setelah lama tak berjumpa. Namun di balik hangatnya obrolan itu, banyak pihak membaca makna lebih dalam: Sultan sekali lagi berdiri di persimpangan politik Indonesia, menjadi titik temu yang tak bisa diabaikan.

More Stories

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara โ€œsenyapโ€.

Dahsyatnya โ€œBuahlil Feverโ€

Lagu โ€œMas Bahlil Gantengโ€ kiranya menjadi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konteks sosial-politik Indonesia. Kedahsyatannya yang dinyanyikan dewasa maupun Gen-Alpha, mendobrak algoritma untuk mengubah citra seketika saat seorang pejabat yang awalnya dinaungi nuansa skeptisisme.