J61 ─ author
Latest articles
Nalar Politik
Trust Game Intelijen Ompreng MBG?
J61 -
Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.
Nalar Politik
Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?
J61 -
Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara “senyap”.
Nalar Politik
Dahsyatnya “Buahlil Fever”
J61 -
Lagu “Mas Bahlil Ganteng” kiranya menjadi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konteks sosial-politik Indonesia. Kedahsyatannya yang dinyanyikan dewasa maupun Gen-Alpha, mendobrak algoritma untuk mengubah citra seketika saat seorang pejabat yang awalnya dinaungi nuansa skeptisisme.
Nalar Politik
The Grand Banten Model, Dinasti-Prosperity
J61 -
Sekian lama hanya “nggak diajak” dalam diskursus politik-pemerintahan tanah Jawa, Banten agaknya mulai bergerak ke arah positif dengan kebijakan baru dalam lima helix kunci yang sangat menentukan di era Presiden Prabowo Subianto.
Headline
Cuan Bengkel C-130 Hercules Majalengka
J61 -
Ketika Indonesia berencana membangun “bengkel resmi” pesawat angkut Hercules di Kertajati, yang sedang dipertaruhkan kiranya bukan sekadar kontrak perawatan pesawat, melainkan posisi Indonesia di peta pengaruh militer Indo-Pasifik. Dari pembeli, menjadi penentu. Mungkinkah itu terjadi?
Nalar Politik
Tito Karnavian, Politik “Low Exposure”?
J61 -
Di tengah hiruk-pikuk politik pemerintah, Tito Karnavian seolah tampil dengan eksposur yang tak terlalu masif, tersimpan strategi survival elite yang sangat terukur: tetap kuat tanpa terlalu terlihat, tetap relevan tanpa memancing ancaman. Apakah ini profesionalisme birokrasi atau kalkulasi politik tingkat tinggi?
Nalar Politik
Verrell, Esetetika Kuasa dan Fatamorgana?
J61 -
Di-summon Kepala Negara dan pertanyaan setelahnya membuat sorotan auto tertuju kepada Verrell Bramasta. Menyingkap tabir besar arah demokrasi, impresi politisi, dan kinerja serta representasi bekerja di era algoritma.
Nalar Politik
Rahasia Piramida Tumpukan Uang Kejagung
J61 -
Gunungan uang sitaan Kejaksaan Agung bukan sekadar pajangan perkara korupsi. Ia adalah simbol politik visual tentang bagaimana negara modern membangun legitimasi di era media sosial. Di tengah publik yang skeptis terhadap hukum, negara kini tidak hanya dituntut bekerja, tetapi juga menunjukkan pekerjaannya secara konkret dan emosional.
Nalar Politik
Luhut-Sjafrie, Letjen Pangkat Legend
J61 -
Pengaruh terbesar seorang perwira kadang baru terasa setelah seragamnya dilepas. Menariknya, seragam dengan bintang tiga di pundak atau kerah yang bukan tanda batas akhir karier. Sebagai penanda kematangan yang paling cair untuk dikonversi menjadi kekuasaan baru. Mengapa demikian?
Nalar Politik
Sing Along Prabowo, Pemersatu Bangsa
J61 -
Di balik nyanyi bersama lagu nasional dan lagu rakyat bersama Presiden, tersimpan transformasi besar politik Indonesia menuju politik afeksi dan simbol persatuan yang nyata. Musik, emosi kolektif, dan budaya populer menjadi instrumen baru membangun legitimasi, rekonsiliasi sosial, sekaligus citra kepemimpinan dalam era demokrasi digital yang semakin performatif dan cair.
Headline
Fatamorgana “Fobia” Loreng-Loreng
J61 -
Hangat isu pembekalan militer di beasiswa LPDP, Republik ini memanggil militer setiap krisis, tetapi sebagian kalangan selalu cemas pada kehadirannya. Mengapa demokrasi terbesar ketiga dunia belum selesai berdamai dengan "loreng-loreng"?
Nalar Politik
Bedol Dirjen, Dirigen Deep State?
J61 -
Pergantian sejumlah Dirjen di kementerian strategis bukan sekadar mutasi birokrasi. Di balik reposisi senyap itu, tersimpan pertarungan lebih besar: siapa sebenarnya yang mengendalikan negara—menteri hasil demokrasi atau jejaring administratif yang bertahan melampaui rezim? “Bedol Dirjen” mungkin bukan soal jabatan, melainkan perebutan cara negara berpikir.

