J61 ─ author

Latest articles

Generasi Melesat Bersama Sekolah Rakyat

Progres 104 sekolah, 32 provinsi — bukan sekadar angka. Sekolah Rakyat adalah pernyataan struktural paling berani Indonesia sejak berdirinya Republik, bahwa tempat dan kondisi atau “takdir” lahir tidak boleh lagi menentukan nasib. Negara kini membangun bukan sekadar sekolah, melainkan ekosistem mobilitas sosial yang nyata.

Didit, The Next Gen Metronom

Di tengah polarisasi sosial-politik, Didit Hediprasetyo hadir sebagai simpul sunyi yang menjembatani elite lintas kubu. Tanpa jabatan formal, ia memainkan diplomasi personal berbasis trust dan simbol.

Pramono, Comfort Zone Trap?

Dengarkan artikel ini: Audio ini dibuat menggunakan AI. Kepemimpinan Pramono Anung di Jakarta memunculkan pertanyaan besar: apakah kota ini dipimpin oleh reformator struktural atau sekadar manajer...

Gejolak Iran, Smart Move Efisiensi

Dengarkan artikel ini: Audio ini dibuat menggunakan AI. Di tengah gejolak harga minyak akibat konflik global, pemerintah memilih jalan sunyi: menjaga defisit tetap di bawah 3%....

Prabowo, Optimisme Berantas Budaya ABS

Di balik pujian birokrasi, tersembunyi ancaman yang lebih berbahaya: kekuasaan yang perlahan terputus dari kenyataan. ABS bukan sekadar budaya menjilat, melainkan penyakit informasi yang dapat menyesatkan negara. Lalu, mengapa perang melawan budaya “asal bapak senang” menjadi begitu menentukan bagi masa depan pemerintahan?

Teater Para Panglima

Restrukturisasi besar di tubuh Tentara Nasional Indonesia membuka panggung baru bagi para perwira. Dari reinkarnasi Kaster TNI hingga Pangdam Jaya berbintang tiga, “teater para panglima” ini bukan sekadar mengurai bottleneck karier—tetapi berpotensi melahirkan elite militer yang kelak memengaruhi arah politik dan demokrasi Indonesia.

Sekolah Kekuasaan, Ajudan Naik Takhta

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para mantan ajudannya mengingatkan satu pola menarik dalam politik Indonesia: banyak ajudan justru melesat menjadi elite negara—dari Try Sutrisno, Budi Gunawan, hingga Teddy Indra Wijaya. Mengapa kedekatan dengan pusat kekuasaan kerap menjadi jalan sunyi menuju puncak politik?

PKB Melesat via Tehran?

Langkah Partai Kebangkitan Bangsa mengutuk serangan AS–Israel ke Iran memantik pertanyaan baru: sekadar sikap moral atau strategi politik? Di tengah diamnya partai Islam lain, PKB justru membaca momentum geopolitik. Apakah ini awal perebutan kepemimpinan narasi politik Islam Indonesia di panggung global?

Iran, Upgrade Doktrin Pertahanan Udara TNI?

Konflik Iran–Israel–AS bukan sekadar dinamika Timur Tengah; ia adalah laboratorium kontemporer tentang bagaimana negara menghadapi ancaman udara berlapis. Dalam konteks ini, Jakarta—sebagai pusat gravitasi politik, ekonomi, dan militer Indonesia—menjadi pertanyaan strategis: apakah langitnya benar-benar terjaga?

Rahasia Politik Medal of Honor

Kembalinya Donald Trump menganugerahkan Medal of Honor kiranya bukan sekadar seremoni, melainkan politik simbolik. Dari Washington hingga Jakarta, simbol kehormatan menjadi instrumen kuasa—menguji batas relasi sipil-militer menuju kontestasi 2029 yang menentukan arah demokrasi.

Jakarta 500, Ambisi 2029 Pramono?

Menjelang 500 tahun Jakarta pada 2027, panggung perayaan berubah menjadi arena kalkulasi kekuasaan. Dari revitalisasi kota hingga ambisi juara Persija, semua mengarah pada satu tanya: sekadar klimaks kinerja, atau batu loncatan Pramono Anung menuju pertarungan politik 2029?

Anies Butuh “Bapak Ideologis”?

Di tengah pemanasan dini menuju 2029, Anies Baswedan diuji: aktor otonom atau produk patronase? Antara bayang-bayang Surya Paloh dan Jusuf Kalla, pertarungan sesungguhnya bukan sekadar dukungan elite, melainkan soal siapa menguasai mesin, ideologi, dan masa depan politik 2029.
- Advertisement - spot_img