HomeNalar PolitikJokowi Dalam Pusaran Proksi Vaksin?

Jokowi Dalam Pusaran Proksi Vaksin?

Kecil Besar

Presiden Jokowi menyatakan bahwa 1,2 juta dosis vaksin Sinovac yang baru saja tiba tak bisa segera digunakan karena menunggu tahapan dari BPOM. Lantas, jika masih belum bisa langsung digunakan saat ini, mengapa vaksin asal Tiongkok itu tetap didistribusikan ke tanah air?


PinterPolitik.com

Vaksin Covid-19 batch pertama dari perusahaan asal Tiongkok, Sinovac, telah mendarat dengan mulus di tanah air. Meskipun jumlahnya baru 1,2 juta dosis vaksin, kehadirannya cukup memantik beragam reaksi dari publik dalam negeri yang telah berpeluh selama sembilan bulan terakhir melawan pandemi dengan segala dramanya.

Di satu sisi, ada yang menyoroti tentang tidak gratisnya rencana vaksinasi Covid-19 secara menyeluruh dan dinilai cukup memberatkan bagi sebagian kalangan. Di sisi lain, masih terdapat pula sejumlah pihak yang mempertanyakan efektivitas dan keamanan vaksin itu sendiri.

Untuk reaksi terakhir agaknya memang tidak berlebihan. Saat melakukan konferensi pers atas kedatangan vaksin Sinovac di Indonesia pada Ahad lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa vaksinasi belum dapat langsung diimplementasikan karena masih menunggu sejumlah tahapan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Hal itu menurut mantan Wali Kota Solo dilakukan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan masyarakat. Vaksin nantinya baru dapat digunakan setelah mendapatkan izin edar atau persetujuan penggunaan pada masa darurat atau emergency use authorization (EUA).

Hal ini terlihat berbeda misalnya dengan yang terjadi di Inggris saat vaksin asal Amerika Serikat (AS) Pfizer, yang mendarat di negeri Ratu Elizabeth pada 4 Desember, langsung dapat digunakan empat hari kemudian dan dibingkai secara monumental di sejumlah media.

Lantas, dengan juga berkaca pada penundaan rencana vaksinasi pada November lalu, mengapa vaksin Sinovac tetap didistribusikan ke tanah air saat ini meski belum dapat langsung digunakan?

Demi Impresi Vaksin Tiongkok?

Bary Buzan dalam An Introduction to Strategic Studies: Military Technology and International Relations menyebutkan action and reaction model atau model aksi dan reaksi dalam konteks arms race atau pelombaan senjata.

Model itu menjelaskan bahwa negara akan mengupayakan berbagai reaksi terkait persepsi ancaman yang dirasakan dari pesaingnya. Atau dengan kata lain, model ini menjelaskan bahwa faktor eksternal adalah pendorong utama sebuah negara dalam dinamika sebuah persaingan atau perlombaan.

Ihwal yang dikemukakan Buzan tersebut tampaknya dapat diadopsi untuk menjelaskan momentum serta mengapa vaksin Sinovac tetap didistribusikan di tanah air walaupun belum dapat langsung digunakan.

Dengan kabar progres anti-virus asal AS, mungkin saja kedatangan vaksin asal Tiongkok di Indonesia merupakan bagian dari reaksi lanjutan di tengah atmosfer saat ini yang jamak diberikan predikat sebagai โ€œperlombaan vaksinโ€.

Selain Rusia dengan Sputnik V-nya, produsen-produsen vaksin yang prominen sendiri tak dapat dipungkiri berasal dari dua kekuatan dunia itu yang memang tengah sengit bersaing saat ini dalam berbagai aspek.

Dan untuk saat ini, Tiongkok bukan tidak mungkin merasa tertinggal dari pesaing Baratnya, terutama Pfizer dan Moderna. Kedua produsen asal AS belakangan memang menunjukkan perkembangan sangat signifikan dari efikasi vaksin yang diproduksinya yang mencapai di atas 90 persen.

Baca juga :  Komprador Gurita Batu Bara

Negeri Tirai Bambu sendiri sebelumnya sempat tampak memimpin perlombaan ketika Sinovac, CanSino, maupun Sinopharm melakukan uji coba masif di berbagai negara dengan tingkat ekspektasi yang tinggi.

Namun belakangan, pamor vaksin asal Tiongkok meredup saat Pfizer dan Moderna semakin menunjukkan tajinya. Inggris lantas menjadi negara pengejawantahan hal itu dengan menjadi yang pertama memberikan izin darurat bagi Pfizer.

Batch pertama vaksin kemudian mendarat di London pada 4 Desember lalu, dan dengan segera memulai vaksinasi nasionalnya kemarin. Vaksinasi ini sendiri seketika menjadi sorotan dunia.

Dan oleh karenanya, itu mungkin yang mengakibatkan akselerasi pengiriman vaksin Sinovac ke Indonesia dilakukan Tiongkok walau kondisi tampak tak berbeda dengan penundaan eksekusi di November lalu saat belum dapat lampu hijau BPOM.

Tentu dengan probabilitas reaksi balasan untuk mengimpresikan bahwa vaksin Tiongkok pun tak kalah siap dengan segala keunggulannya โ€“ seperti dari sisi distribusi dan penyimpanan yang tak butuh suhu ekstrem dan sebagainya โ€“ dibandingkan vaksin asal AS yang sudah sampai tahap vaksinasi di Inggris.

Apalagi sebelumnya, Tiongkok melalui Menteri Luar Negeri (Menlu)-nya, Wang Yi memproyeksikan Indonesia sebagai vaccine hub bagi kebutuhan antivirus di kawasan Asia Tenggara saat mengeratkan kemitraan dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan pada Oktober lalu.

Kemungkinan ini diperkuat dengan masifnya pula sorotan media internasional ketika vaksin Sinovac tiba di Indonesia, yang seolah sahut menyahut karena tak berselang lama dengan rangkaian implementasi vaksinasi Pfizer oleh pemerintahan Britania di bawah Perdana Menteri (PM) Boris Johnson.

Lalu, terlepas dari inisiatif global akses vaksin yang digaungkan organisasi kesehatan dunia (WHO), tren seperti apakah yang terjadi nantinya jika gelagat yang tampak seperti persaingan antara AS dan Tiongkok dalam konteks vaksin Covid-19 ini terus terjadi?

Jokowi Harus Waspadai Proksi?

Menurut Eko Sulistyo, sejarawan dan eks Deputi Kantor Staf Presiden periode 2015-2019, kekhawatiran masih meliputi penanganan pandemi Covid-19 secara global, ketika kecenderungan nada nasionalisme dan proksi dalam perlombaan vaksin muncul sebagai senjata geopolitik.

Gelagat proksi sendiri tampaknya telah terlihat pada aksi-reaksi AS dan Tiongkok dalam konteks distribusi vaksin di Inggris dan Indonesia seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Meski terlihat sedikit berbeda dari proksi yang terjadi saat Perang Dingin, Oliver Branzaga dalam Proxyeconomics, the Inevitable Corruption of Proxy-Based Competition menggambarkan karakteristik persaingan semacam itu sebagai proxy-based competition.

Mantan duta besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Samantha Power dalam acara GPS di CNN yang dipandu Fareed Zakaria, menyebutkan satu hal penting yang bisa dilakukan AS dan Joe Biden kelak untuk memulihkan kembali pengaruh dan kepemimpinan global, yakni melalui global vaccine distribution atau distribusi vaksin global.

Baca juga :  Dahsyatnya โ€œBuahlil Feverโ€

Dari ranah domestik sendiri, misiย global vaccineย distributionย seolah berpihak padaย Biden. Selama kampanyenya, Biden disokong oleh para konglomerat mulai dari mereka yang terkait dengan perusahaan teknologi hingga farmasi, seperti AmgenInc., Merck & Co., dan termasuk Pfizer.

Harapan reformasi harga produk farmasi yang ditumpukan pada Biden, menjadikan relasi simbiosis dalam hal ekonomi politik tampaknya akan menjadi kunci bagi sang mantan Wapres AS, termasuk dalam hal mendukung misi global vaccine distribution kelak.

Selain itu, Bill Gates yang ternyata merupakan sosok prominen di balik inisiatif vaksin global bertajuk Covax, tampaknya juga menjadi pendorong tersendiri bagi Biden kelak, yang di bawah Trump, AS menolak bergabung.

Gates disebut terus mengadvokasi AS untuk mengambil kembali leadership-nya dalam global health tanpa melihat afiliasi politiknya. Gates mengatakan bahwa dirinya telah mengupayakan konsolidasi dengan Partai Republik, Demokrat dan para pejabat administrasi termasuk yang berada di National Institutes of Health.

Namun, keberadaan pihak-pihak tersebut bukan tidak mungkin membawa kepentingan tersendiri dalam hal pembangunan, ekonomi, dan politik dalam waktu yang bersamaan.

Ketika AS dengan โ€œamunisinyaโ€ telah siap, mereka tampaknya secara otomatis akan berhadapan dengan Tiongkok, seperti yang telah mulai terlihat saat ini. Dan jika persaingan yang tercipta benar-benar adalah proxy-based competition, Braganza menyebut akan ada dampak negatif yang muncul.

Untuk mencapai tujuan โ€œsupremasiโ€, sebuah kompetisi proksi membutuhkan situasi yang memiliki efek merugikan atau detrimental effect pada subjek kepentingannya. Detrimental effect dalam kompetisi berorientasi proksi ini sendiri menjadi sebuah alat evaluasi yang tersembunyi.

Pada konteks persaingan vaksin, efek negatifnya sendiri sesungguhnya dapat dilacak dari kemungkinan minor atas akselerasi riset vaksin itu sendiri. Vaksin asal AS dan Tiongkok, sama-sama menempuh jalan pintas, baik melalui perizinan, prosedur, hingga teknologi untuk mendapatkan vaksin yang cepat dan optimal.

Efek merugikannya pun seperti yang disiratkan oleh Braganza, bahkan menjadi tak dapat โ€œdirabaโ€ secara pasti, meski secara historis terdapat sejumlah kemudaratan akibat percepatan vaksin seperti pada vaksinasi campak di tahun 1960-an di AS, maupun efek narkolepsi di Eropa pada vaksinasi flu babi di tahun 2009.

Walau begitu, saat ini masih ada kemungkinan bagi negara-negara di dunia untuk membuka opsi diversifikasi vaksin yang dapat menghindari tendensi adanya keberpihakan dalam persaingan vaksin antara AS dan Tiongkok, yang mana berpotensi memiliki dampak negatif tersendiri.

Ihwal yang dinilai harus pula diupayakan oleh Presiden Jokowi. Salah satunya dengan menyediakan infrastruktur vaksin seperti cold chain yang memadai bagi beragam jenis vaksin.

Tentu agar tak memiliki kesan ketergantungan ataupun terjebak di salah satu kutub yang tampak sedang terlibat persaingan vaksin. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (J61)


Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik diย bit.ly/ruang-publikย untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA

Seorang mahasiswi kedokteran memukau publik di panggung debat nasional. Mengapa cara bicaranya yang tenang justru terasa begitu radikal?ย 

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan โ€˜Centil-ismeโ€™

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

Rame โ€œKe-triggerโ€ PDIP, PAN Chill

Mengapa PAN tetap santai saat partai-partai lain sibuk mengulik arah politik PDIP? Di balik sikap chill itu seakan tersimpan strategi besar, meliputi kohesi elite, jaringan kekuasaan yang terjaga, dan penguasaan atensi publik. Sebuah resep politik baru yang bisa menentukan siapa paling relevan menuju Pemilu 2029.

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista โ€” melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri.ย 

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi โ€” Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme โ€” melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Tiga dekade ia berderap melawan setiap kekuasaan. Ibaratkan pedang, Fahri Hamzah menggunakan mulutnya seperti pedang yang tajam. Begitu ia masuk ke dalamnya, pedang itu nampak seperti pedang yang โ€œkaratanโ€

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.

More Stories

Rame โ€œKe-triggerโ€ PDIP, PAN Chill

Mengapa PAN tetap santai saat partai-partai lain sibuk mengulik arah politik PDIP? Di balik sikap chill itu seakan tersimpan strategi besar, meliputi kohesi elite, jaringan kekuasaan yang terjaga, dan penguasaan atensi publik. Sebuah resep politik baru yang bisa menentukan siapa paling relevan menuju Pemilu 2029.

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

Dari membeli lukisan siswi SMP hingga mendengar langsung aspirasi mahasiswa, Dudung Abdurachman seolah menampilkan wajah baru KSP. Apakah ini sekadar pencitraan, atau tanda lahirnya paradigma baru komunikasi institusi dan seorang purnawirawan jenderal di saat bersamaan?

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?