HomeCelotehWiranto Yang Ditukar

Wiranto Yang Ditukar

Kecil Besar

“Orang ini orang baik”. – BJ Habibie tentang Wiranto dalam wawancara di acara Kick Andy


PinterPolitik.com

Apa yang terjadi jika seseorang mengubah pilihan kariernya ke hal lain sebelum ia memutuskan menggeluti apa yang saat ini ia lakukan? Tentu saja akan ada perubahan signifikan dalam garis tangan dan perjalanan hidupnya secara keseluruhan.

Misalnya nih, kalau Dwayne “The Rock” Johnson memutuskan untuk jadi penari balet dibandingkan pegulat, mungkin kita nggak akan menyaksikannya seperti sekarang ini.

Atau kalau Jackie Chan memilih untuk jadi pemain sepak bola, mungkin kita nggak akan menyaksikan fenomena popularitas action comedy – genre film yang kerap dimainkan oleh Jackie.

Pertanyaan yang sama bisa nih diajukan pada Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Wiranto. Mantan Menko Polhukam ini emang terkenal sebagai salah satu politisi dan elite nasional yang jago bernyanyi loh.

Publik mungkin ingat saat Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo berpasangan dan menazarkan diri maju pada Pilpres 2014, keduanya sempat hadir di acara Natal bersama yang disiarkan RCTI – stasiun TV milik Hary. Nah, ada satu kesempatan saat Wiranto menyanyikan salah satu lagu rohani kala itu dan buset dah, suaranya si bapak bagus banget.

Doi juga ternyata pernah bikin album pada tahun 2001 bertajuk Untukmu Indonesiaku dengan melibatkan dua musisi ternama Embong Rahardjo (saksofon) dan Jopie Item (gitar) yang sudah banyak makan asam garam di dunia jazz Indonesia era 1970-an dan 1980-an.

Secara total ada 17 lagu dalam album ini dan semuanya diciptakan komposer kawakan seperti Ismail Marzuki, Iwan Abdurachman, hingga A. Riyanto yang sebetulnya telah dibawakan oleh banyak biduan dan biduanita nusantara. Beh, nggak kurang-kurang tuh satu album 17 lagu.

Nah, bakat Wiranto ini ternyata masih terjaga hingga kini dan dipakai untuk mengajak masyarakat. Itu loh terkait Covid-19 dan ajakan agar masyarakat tidak mudik.

Jadi ceritanya Wiranto, Moeldoko, serta beberapa kepala daerah dan seniman membuat lagu berisi ajakan kepada masyarakat untuk tidak mudik. Ada dua versi lagu itu, yakni dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Jawa judulnya “Ra Mudik Ra Popo”, sementara dalam Bahasa Indonesia judulnya ditulis “Gak Mudik Ga Papa”.

Yang versi Bahasa Indonesia-nya, Wiranto terlihat bernyanyi sendirian. Sementara yang Bahasa Jawa dinyanyikan bersama tokoh-tokoh yang lain.

“Yuk gak usah mudik, tinggal di rumah lebih baik. Yuk gak usah pulang saudara tak akan hilang. Rindu bisa disimpan kalau sakit siapa yang senang. Tunggu saja wabahnya mengghilang”, demikian penggalan beberapa bagian dari lagu tersebut.

Hmm, keren juga Pak Wir ini. Tapi, lagu itu malah dapat “nyinyiran” netizen. Taulah, netizen Indonesia itu kejamnya kayak gimana. Malah ada yang ngedit videonya dan masukin wajah-wajah orang-orang yang hilang pada tahun 1998. Uppps.

Bukannya gimana-gimana ya, Pak Wir kan jadi Panglima ABRI kala itu, jadi wajarlah kalau banyak yang nuduh.

Mungkin kalau Pak Wir nggak milih jadi tentara dan fokus jadi penyanyi, bisa jadi malah lebih sukses loh. Ibaratnya nuker nasib gitu.

Bayangin kalau ternyata garis waktu bisa diubah dan Pak Wir justru jadi salah satu biduan terkenal negeri ini. Mungkin doi nggak harus menghadapi stigma dan tuduhan yang selama ini terus menderanya. Iya nggak? (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Sandi Galau Jokowi Makin Sakti

“Berikan tubuhmu sebanyak mungkin nutrisi supaya kuat, sehat dan bertenaga. Jika tubuh sudah kuat, sehat dan bertenaga, maka silahkan lanjutkan perlawanannya.” PinterPolitk.com Sandiaga Salahuddin Uno menyambut...

Masa Suram Budiman Sudjatmiko dkk.

“Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta,” – Iwan Fals, Bongkar Pinterpolitik.com Mahasiswa bergerak. Ribuan mahasiswa  di seluruh penjuru negeri...

Pemerintah ‘Paksa’ Minum Air Kotor?

“Air berkata kepada yang kotor, ‘Kemarilah.’ Maka yang kotor akan berkata, ‘Aku sungguh malu.’  Air berkata, ‘Bagaimana malumu akan dapat dibersihkan tanpa aku?” ~...

Anak STM Mendemo “Anak TK”

“Keterangan saya tidak begitu dipahami, karena memang enggak jelas bedanya antara DPR dan Taman Kanak-Kanak,” – Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 Pinterpolitik.com Awas, awas, anak STM...

Di Balik Tutupnya McD Sarinah

Gerai McDonald’s (McD) yang terletak di Sarinah Thamrin, Jakarta, telah resmi tutup secara permanen. Mungkin, banyak kisah yang senantiasa menyertai di tempat tersebut. Kira-kira,...

SBY Khawatirkan AHY?

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan hanya ada satu matahari di Partai Demokrat. Tegasnya, saat ini yang memimpin partai adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kenapa...

PDIP Seharusnya Bersyukur Ada Luhut?

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan tampaknya membuat gerah PDIP. Masinton Pasaribu bahkan mengeluarkan kalimat tegas, hingga meminta Presiden Jokowi memecat Luhut. Namun, mungkinkah PDIP...

Ridwan Kamil dan Cerita Bukber

Meski Satgas Covid-19 telah imbau agar bukber dilaksanakan tanpa ngobrol, Ridwan Kamil sebut bukber diperbolehkan dengan syarat.

More Stories

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.