HomeTrending

Trending

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Misteri PKI di Penculikan Rengasdengklok

https://youtu.be/Lg5x8PE9rjQ Pinterpolitik.com - Banyak perdebatan soal seperti apa keterlibatan tokoh-tokoh gerakan kiri di penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Ini jadi bagian dari ketegangan politik yang terjadi...

Politisi Unlucky, Next Time Better?

Dalam politik, kapasitas personal tak selalu berbanding lurus dengan takdir. Andika Perkasa, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, dan Mahfud MD masih menyimpan potensi meski tersandung awal. Sebaliknya, Dino Patti Djalal, Erick Thohir, dan Anies Baswedan tampak terjebak kabut strategis. Membuktikan bahwa politik adalah labirin yang rumit, bukan jalan lurus.

Ilusi Reformasi Polri?

Reformasi institusi kepolisian di Indonesia kembali menjadi sorotan publik setelah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk Tim Transformasi Reformasi Polri

Eat the Rich, Mungkinkah Indonesia?

Narasi “Eat the Rich” mulai mencuat di media sosial. Namun, apakah ide ini relevan dengan konteks Indonesia saat ini?

Birokrasi Osmosis: Polri dalam “Dagri”

“Polri di Kemendagri” kiranya bukan sekadar anomali, melainkan strategi osmosis birokrasi: adaptif, saling melengkapi, dan menjaga stabilitas otonomi daerah. Tito Karnavian seolah tampil sebagai metronom triumvirat Prabowo, menjadi simbol rasionalitas Weber, dialektika Hegel, dan jalan tengah Aristoteles dalam meritokrasi kontekstual.

More Stories

The One-Man Band

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?