HomeCelotehWelcome to Republik Para Broker

Welcome to Republik Para Broker

Kecil Besar

Konon, ada sebuah republik yang dikendalikan oleh broker. Mereka duduk di puncak gedung tinggi, mengambil untung dari perputaran uang rakyat, dekat dengan elit politik, serta bisa melakukan apa pun yang mereka mau.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]M[/dropcap]ukanya kusut dan rambutnya berantakan akibat habis begadang semalaman suntuk menyiapkan pesanan katering tetangga. Namun, mata Abdul terbelalak memandangi halaman depan koran pagi yang ada di tangannya.

Gile, itu 28 kotak senjata semua?

Berita yang ia baca adalah tentang senjata impor yang kabarnya ada di bandara Soekarno-Hatta. Polemik senjata inilah yang sempat membuat situasi politik nasional beberapa waktu lalu sedikit memanas.

Ditengarai, pengadaan senjata ini melibatkan broker atau perusahaan yang mengambil untung dari jual beli barang.

Pantesan Panglima TNI sampai harus mencak-mencak segala. Apalagi ini melibatkan importir yang bukan orang militer dan pemerintahan. Apa jadinya kalau senjata-senjata itu malah digunakan oleh kelompok tertentu, misalnya para teroris. Bisa kacau negara ini!

Walau cuma tamat SMA, Abdul ingat bahwa dulu gurunya pernah bercerita tentang broker yang mampu mengguncang stabilitas negara bahkan dunia.

Ada nama Jesse Livermore (1877-1940), broker saham yang mengambil keuntungan dari the great depression atau krisis ekonomi tahun 1930.

Atau broker saham yang masih hidup seperti George Soros yang dijuluki ‘The Man Who Broke the Bank of England’ akibat aksinya di tahun 1992. Konon, opa-opa ini juga dipercaya sebagai salah satu broker saham yang mengambil untung pada krisis Asia 1998.

Di negara ini pun banyak brokernya. Bukan hanya bermain di sektor saham, mereka juga seringkali menjadi penghubung antara pemerintah dengan perusahan di luar negeri dalam pengadaan barang atau jasa tertentu.

Jangankan senjata, hampir semua komoditas kebutuhan sehari-hari pun ada brokernya. Minyak bumi, gas, jasa keuangan, passport, hingga tetek bengek bumbu dapur seperti cabe dan bawang pun ada brokernya – walaupun beberapa lebih suka menyebutnya sebagai makelar.

Tetapi, apakah pekerjaan ini salah? Sebetulnya, broker adalah sesuatu yang legal, asalkan tetap berada dalam jalur hukum yang berlaku.

Hanya saja, seringkali broker memanfaatkan koneksi yang dimiliki untuk memenangkan tender proyek tanpa melalui prosedur lelang – katakanlah dalam proyek-proyek pemerintah. The business of connection, mungkin itulah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan hal ini.

Soal senjata ini juga disebut melibatkan broker tertentu. Tetapi, apakah broker-nya yang salah dalam masalah ini?

Hmm, kayaknya tidak sesederhana itu. Jangan-jangan brokernya juga cuma jadi kambing hitam. Abdul ingat semalam di tivi ada yang menggunakan istilah ‘gajah vs gajah’ ketika bicara masalah ini.

Busyet, habis cicak vs buaya, terus cicak vs paus, sekarang gajah vs gajah! Kebun binatang aja diadu domba, apalagi rakyat.

“Woi, Dul. Bengong aja lu pagi-pagi. Mandi sana, badan lu bau pasir pantai Ancol, yang masuknya gratis tapi jadi kompensasi lancarnya proyek bikin pulau-pulau”.

Bini gua mimpi apaan, ya semalam?

Di tempat lain, dua sejoli itu senyam-senyum membayangkan tampilan mereka yang beberapa hari lagi akan dilantik dengan baju dinas putih-putih.

Iya, Om, pasti keren keliatannya. Tapi, jangan lupa janji rumah DP nol persennya ditepati.

Kalau tidak ditepati, ‘aku ingin pindah ke…..’ – eh malah iklan. Setidaknya, iklan ini bikin ramai pilgub daerah tetangga…

(S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.