HomeCelotehPrabowo: Presiden Kok Etok-etok!

Prabowo: Presiden Kok Etok-etok!

Kecil Besar

“Jangan pura-pura engkau menangis, jangan pura-pura engkau bersedih. Kebencianku tak dapat kau tukar dengan air mata”. – Mansyur S., Jangan Pura-Pura


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]ura-pura, dalam bahasa Jawa “etok-etok”, adalah kondisi ketika apa yang dilakukan bukanlah hal yang sesungguhnya.

Pura-pura buta artinya bisa melihat. Pura-pura sakit artinya sehat. Pura-pura lupa artinya masih ingat. Kalau pura-pura cinta? Bikin sakit hati cuy. Hehe.

Buat yang sering ngalamin alias di-PHP-in orang, yang sabar ya. Kasus ini umum terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di negara +62 alias Indonesia saja.

Lalu bagaimana kalau pura-pura itu ada dalam dunia politik?

Lha politik bukannya emang dunia kepura-puraan? Koran The New York Times edisi 28 Desember tahun 1879 bahkan sudah menyebutkan hal tersebut.

Yang paling parah, ada yang etok-etok jadi presiden. Bilangnya independen, eh nggak tahunya petugas partai. Upppss. Itu kata kubunya Prabowo loh ya. Share on X

Sementara Bob Marley dalam lagunya yang berjudul “No Woman No Cry” menyinggung hal ini ketika ia menceritakan kenangan duduk di sebuah taman pemerintah dan menyaksikan para hipokrit alias orang-orang yang berpura-pura baik. Bahasa kerennya “munafikers”.

Kolumnis The Washington Post, Michael Gerson bahkan langsung mengidentikkan hipokrisi atau kepura-puraan sebagai hal yang berkaitan langsung dengan politik.

Ibaratnya, politik tanpa hipokrisi itu kayak Avengers tanpa Iron Man. Tetap keren sih, tapi nggak dapat geregetnya.

Nah, hal itulah yang sekarang dikritik oleh Prabowo Subianto. Kandidat nomor urut 02 pada Pilpres 2019 ini menyindir program mobil nasional “siluman” bernama Esemka yang hingga kini nggak jelas batang bumpernya – hidungnya mobil cuy. Program mobil itu adalah salah satu yang menjadi daya tarik publik untuk memilih Jokowi di Pilpres 2014 lalu.

Baca juga :  Gas, Rem, dan Harga Kekuasaan

“Kita ingin punya mobil buatan Indonesia yang benar-benar buatan Indonesia, bukan mobil etok-etok”, begitu kata Prabowo.

Hmm, apa ini nggak lagi ngritik kubu sendiri ya? Soalnya dulu pernah ada tuh mobil nasional etok-etok di zaman Soeharto.

Itu loh yang dikerjakan sama Tommy Soeharto, yang namanya Timor biar terkesan kearifan lokal. Eh nggak taunya itu hasil produksi perusahaan dari negara di Asia Timur, Korea Selatan.

Tapi, nggak mungkin sih Prabowo nyindir Tommy. Mantan ipar soalnya cuy. Paling mungkin sih emang ngritik Jokowi, tapi bukan soal mobil Esemka doang.

Sepertinya sih Prabowo benar-benar menunjukkan bahwa saat ini yang etok-etok itu banyak di Indonesia. Ada yang etok-etok ketabrak mobil sampai bengkak segede bakpao, terus ditahan di penjara yang etok-etok pula.

Ada yang etok-etok bilang ekonomi bagus, eh nggak taunya sekarang pusat-pusat perbelanjaan lagi sepi. Ada yang etok-etok cewek, nggak taunya cowok. Uppps, ampun Lucinta.

Yang paling parah, ada yang etok-etok jadi presiden. Bilangnya independen, eh nggak tahunya petugas partai. Upppss. Itu kata kubunya Prabowo loh ya. Hehehe.

Emang bahaya sih kalau ke-etok-etokan alias hipokrisi tumbuh subur di Indonesia. Soalnya masyarakat jadi nggak bisa menilai pemimpin mana yang benar-benar jujur.

Tapi, kalau bicara politik sebagai cara untuk meraih kekuasaan, hipokrisi mah biasa aja dan sering digunakan kok. Apalagi kalau politisinya itu Machiavellian, beh udah pasti bakal banyak cara-cara yang etok-etok.

Buat masyarakat sih yang penting nggak pura-pura cinta aja. Soalnya, sakit, Lucinta. Hehe. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Menkominfo “Membunuh” Online Shop?

“Bagi rakyat, politik bukan urusan koalisi atau oposisi, tetapi bagaimana kebijakan publik mengubah hidup sehari-hari”. – Najwa Shihab Pinterpolitik.com Dampak demonstrasi dan kericuhan 21-22 Mei...

Kivlan Zen Menantang SBY?

“Ketahui seperti apa dirimu sendiri dan kamu akan memenangkan segala situasi” . – Sun Tzu PinterPolitik.com Gengs, sebagai masyarakat biasa nih, kalian kaget nggak secara tiba-tiba...

Menteri Cantik Jokowi, Siapa Dilirik?

Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan kubu politiknya sempat mengungkapkan keinginannya untuk mencari menteri yang berusia muda dan cantik. Keinginan tersebut bisa saja berkaitan dengan...

Amien Ingin Anaknya Jadi Menteri Jokowi?

“Intinya supaya tidak ada lagi cebong dan kampret, sehingga yang ada tinggal cebong bersayap, artinya sudah akur.” – Amien Rais PinterPolitik.com Pertemuan Prabowo dan Amien Rais...

Capim KPK Seperti ‘Kucing Kurap’?

“Bukan masalah apakah kucing itu hitam atau putih, selama dia bisa menangkap tikus,” –  Deng Xiaoping PinterPolitik.com Kursi panas Pimpinan KPK masih diperebutkan, bahkan kini sudah...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.