HomeCelotehMisteri Laporan Kekayaan Menteri Jokowi

Misteri Laporan Kekayaan Menteri Jokowi

Kecil Besar

“Buktikanlah bila kau ada cinta, setulus hatimu bisa menerima. Sebatas kejujuran yang kau miliki, bukan sekedar bersama. Jujurlah padaku”. – Radja, Jujur


PinterPolitik.com

[dropcap]K[/dropcap]ampanye politik di hari-hari jelang pemungutan suara memang penuh dengan janji dan jargon politik manis.

Ibaratnya, kubu-kubu yang bersaing itu seperti peserta di acara pencarian bakat menjadi chef dan harus menyediakan makanan yang bisa memenuhi ekspektasi para juri. Apalagi kalau jurinya galak kayak Chef Juna, beh tahu sendiri kan akibatnya.

Masalahnya, janji-janji politik yang disebutkan itu sayangnya justru tidak dilaksanakan, khususnya di kubu petahana Presiden Jokowi.

Lha, mantan Wali Kota Solo itu kerap berjanji akan memberantas korupsi dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan transaparan. Oke kan janjinya?

Tapi eh tapi, pelaksanaannya nggak semulus kata-katanya cuy. Soalnya, Indonesian Corruption Watch alias ICW bilang bahwa menteri-menterinya Jokowi belum ada ngelaporin harta kekayaannya.

Menurut hasil penelusuran ICW, tercatat hanya Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang membuat Laporan Harta Kekayaan Penyelanggara Negara (LHKPN). Itupun dibuat pada tahun 2017 lalu.

Jadi bener dong apa yang dibilang sama ekonom senior, Pak Faisal Basri, bahwa musuhnya Pak Jokowi itu sebenernya ya para pembantunya. Share on X

Rata-rata kebanyakan menteri di era Jokowi hanya membuat LHKPN saat baru dilantik pada 2014 lalu. Bahkan, ada loh yang belum pernah membuat LHKPN sama sekali. Beh, kok bisa kaya gitu ya?

Padahal kan ada UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, serta UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang mengatur bahwa penyelenggara negara wajib membuat LHKPN paling lambat di tanggal 31 Maret tahun berikutnya.

Baca juga :  Negara yang Belajar Berbicara Lewat Diam

Hmm, ini kok jadi makin aneh ya. Soalnya Pak Jokowi kan terkenal kerap menggembar-gemborkan citra pemerintahan yang bersih dan transparan. Tapi kok bawahan-bawahannya justru nggak taat aturan perundang-undangan.

Ini mah kayak peribahasa: “Kuman di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak”. Upppss.

Benar dong apa yang selama ini dibilang sama Pak Prabowo, bahwa di sekitaran Pak Jokowi justru terdapat banyak orang yang nggak taat hukum. Itu Ketum PPP Romahurmuziy adalah contohnya. Orang yang dekat sama Jokowi, tapi justru ketangkep KPK dalam kasus jual beli jabatan.

Ini mah udah bahaya Pak Jokowi. Kalau emang mau buktikan citra bersih, maka menteri-menterinya harus ditertibkan dulu.

Jadi bener dong apa yang dibilang sama ekonom senior, Pak Faisal Basri, bahwa musuhnya Pak Jokowi itu sebenernya ya para pembantunya.

Itu sama kayak kisah Brutus yang mengkhianati Julius Caesar di era Romawi kuno. Bukannya membantu sang junjungan mencapai kejayaan kekuasaan, eh malah melakukan pengkhianatan.

Hmm, tapi bisa jadi juga para menteri itu pada malas ngisi LHKPN karena dokumennya seabrek-abrek ya? Ngisinya juga harus detail kan.

Beh, kalau kayak gitu, sebelum nerapin e-budgeting dan yang lainnya, itu aja dulu kali pak. E-LHKPN. Kan lumayan, bisa sekalian uji coba server. Zaman sekarang lagi rawan pembajakan soalnya. Tuh akun-akun Twitter kelompok oposisi. Kasihan loh, kan jadi ramai. Apa nggak ditarget ya mereka? Upppss. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Menkominfo “Membunuh” Online Shop?

“Bagi rakyat, politik bukan urusan koalisi atau oposisi, tetapi bagaimana kebijakan publik mengubah hidup sehari-hari”. – Najwa Shihab Pinterpolitik.com Dampak demonstrasi dan kericuhan 21-22 Mei...

Kivlan Zen Menantang SBY?

“Ketahui seperti apa dirimu sendiri dan kamu akan memenangkan segala situasi” . – Sun Tzu PinterPolitik.com Gengs, sebagai masyarakat biasa nih, kalian kaget nggak secara tiba-tiba...

Menteri Cantik Jokowi, Siapa Dilirik?

Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan kubu politiknya sempat mengungkapkan keinginannya untuk mencari menteri yang berusia muda dan cantik. Keinginan tersebut bisa saja berkaitan dengan...

Amien Ingin Anaknya Jadi Menteri Jokowi?

“Intinya supaya tidak ada lagi cebong dan kampret, sehingga yang ada tinggal cebong bersayap, artinya sudah akur.” – Amien Rais PinterPolitik.com Pertemuan Prabowo dan Amien Rais...

Capim KPK Seperti ‘Kucing Kurap’?

“Bukan masalah apakah kucing itu hitam atau putih, selama dia bisa menangkap tikus,” –  Deng Xiaoping PinterPolitik.com Kursi panas Pimpinan KPK masih diperebutkan, bahkan kini sudah...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.