HomeCelotehHabibie dan Mobil Bersayap

Habibie dan Mobil Bersayap

Kecil Besar

“Ia ingin Indonesia bisa bikin mobil sendiri, bikin pesawat sendiri. Saat orang masih berpikir soal swasembada pangan dan tidak mengimpor beras dari negara lain, Habibie sudah berpikir bagaimana negara ini bisa bikin pesawat sendiri – mimpi yang hingga saat ini masih menjadi tantangan besar untuk diwujudkan. Habibie lebih dari sekedar Bapak Teknologi atau Bapak Kebebasan Pers atau Bapak Demokrasi. Ia adalah Bapak Visioner Indonesia”. – Catatan Pinggir, Habibie


PinterPolitik.com

Dua minggu lalu, saat sebagian besar jalan utama di wilayah Kemang, Jakarta selatan tengah diperbaiki dan beberapa pohon di tepi jalan tersebut dirapikan, mungkin sebagian orang yang setiap hari lewat di jalan-jalan tersebut baru ngeh akan keberadaaan bangunan menjulang bertuliskan The Habibie Center di depannya.

Bangunan tersebut tentu akan lebih diperhatikan beberapa hari ke depan, apalagi pasca berpulangnya sang pendiri, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Cerita tentang Habibie memang tak hanya sekedar soal The Habibie Center, atau tentang teori keretakan dinding pesawat yang ditemukannya, atau tentang otak jenius Presiden ke-3 RI itu yang membuatnya dianggap sebagai orang Indonesia paling cerdas yang pernah hidup.

Kisah Habibie adalah tentang visi.

Kebanyakan orang memang bisa melihat, namun hanya sedikit yang punya visi. Benarlah apa yang dikatakan oleh Hellen Keller – seorang aktivis dan penyandang buta-tuli pertama yang mampu meraih gelar Bachelor of Arts – bahwa satu-satunya hal yang lebih buruk daripada menjadi buta adalah mampu melihat namun tak punya visi.

Habibie bisa disebut sebagai generasi berikutnya dari Bung Hatta – orang yang punya visi tentang Indonesia jauh ke depan. Mungkin visi Habibie itu sudah ada sampai di garis waktu yang belum dihitung.

Mayoritas masyarakat Indonesia juga akan mengingat Habibie sebagai sosok yang memegang kekuasaan di saat runtuhnya otoritarianisme Orde Baru.

Itulah tonggak awal Indonesia masuk di era keterbukaan dan demokrasi seperti sekarang – sekalipun persoalan kebebasan pers mungkin masih harus kembali direfleksikan konteksnya jika melihat kuasa pembentukan opini yang sepertinya kini hanya dikuasai oleh segelintir orang tertentu saja.

Yang jelas, setiap refleksi tentang sosok Habibie tak akan pernah habis untuk dituliskan, bahkan Hanung Bramantyo mungkin tak akan cukup membuat 10 film untuk menggambarkan kisah hidup sang presiden.

Ia ada dalam benak anak-anak di pelosok Indonesia timur sana ketika membolak-balikkan buku sejarah. Gagah sayap-sayap N-250 “Gatot Kaca” atau pesawat R80 yang akan meluncur beberapa tahun mendatang sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan kebesaran Habibie dan visinya untuk Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan.

Indonesia butuh sosok yang menjadi Habibie berikutnya. Orang yang bisa melihat nilai di balik harga, visi di balik pandang mata.

Dia yang merestorasi Mercedes-Benz 300 SL Coupe yang ditemukan di atas pohon oleh sekelompok mahasiswa ITB yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Jambi – mobil yang sering disebut sebagai Gullwing karena pintu-pintunya yang dibuka ke atas menyerupai sayap – sama seperti dia yang visinya merestorasi Indonesia.

Dan suatu saat, orang-orang tak lagi hanya sekedar lewat di Kemang Selatan dan memandang sepintas tulisan The Habibie Center. Sebab, warisan Habibie yang sesungguhnya adalah tentang semangatnya, seperti yang selalu ia katakan: “Kegagalan hanya akan terjadi bila kita menyerah”.

Selamat jalan, Mr. President. Biarlah mimpimu tentang mobil bersayap diwujudnyatakan cucu-cucumu generasi muda Indonesia di era selanjutnya. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.