HomeCelotehBowo, Nama di Balik Amplop

Bowo, Nama di Balik Amplop

Kecil Besar

“Dari mana uang kau dapatkan dan ke mana engkau belanjakan, itu kelak ditanyakan Tuhan. Bila nyata dari jalan haram, azab yang pedih pasti mengancam, neraka jahanam itulah tempatnya”. – Rhoma Irama, Uang


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]olitik dan uang itu seperti motor dan bensin. Tak ada uang, tak ada kekuasaan.

Marcus Crassus yang hidup antara tahun 115-53 SM adalah salah satu orang terkaya yang pernah hidup sepanjang sejarah manusia. Total kekayaannya setara dengan APBN Roma kala itu dalam satu tahun.

Dengan kekayaannya, ia memenangkan kekuatan politik, mengantarkannya menjadi salah satu dari pucuk kekuasaan di Triumvirat Pertama bersama Gaius Julius Caesar dan Gnaeus Pompeius Magnus.

Bahkan, kekayaannya itu menjadi “bahan bakar” yang ikut mengantar Republik Romawi berubah menjadi sebuah kekaisaran.

Uang dan politik pada hakekatnya sama, yaitu menjadi bagian dari hasrat manusia. Uang jadi alat pemenuhan kebutuhan duniawi akan hedonisme, sementara kekuasaan itu juga hasrat untuk mendapatkan pengakuan. Share on X

Sementara, dalam konteks penggunaan uang untuk kontestasi elektoral, mungkin akan membawa kita ke tahun 1777, ketika James Madison kalah dalam perebutan kursi House of Delegates di Virginia, Amerika Serikat karena mengkritisi politik uang.

Namun, kesungguhan hatinya tetap mampu mengantarkan salah satu founding fathers negeri Paman Sam itu menjadi Presiden ke-4 negara tersebut pada tahun 1809.

Di kutub yang berbeda, memang banyak tokoh yang menggunakan uang untuk memuluskan jalan menuju kekuasaan, termasuk pula yang terjadi di Indonesia.

Nah, kabar terbaru terkait hal tersebut datang dari politikus Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso yang terjarat operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK beberapa hari lalu.

Pasalnya, ia diamankan bersama dengan uang Rp 8 miliar yang ada dalam 400 ribu amplop yang disebut-sebut akan digunakan untuk “serangan fajar” – alias politik uang di pagi hari jelang waktu pemungutan suara. Uang tersebut diduga berasal dari BUMN tertentu.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Akibatnya, banyak kritik datang kepada Partai Golkar, termasuk kepada pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin yang didukung oleh partai tersebut.

Sebenarnya, kasus ini memang bikin penasaran. Pasalnya, banyak yang minta KPK untuk membertitahu apakah ada tulisan di dalam amplop-amplop tersebut selain uang.

Jangan-jangan di dalamnya ada tulisan: “Hai, saya Ipin, saya Upin, jangan lupa pilih kami ya”, atau “Saya Sule, saya Andre, kami berdua tamvan”, atau kalimat-kalimat yang lain.

Kan kalau ada tulisan kayak gitu, bisa bahaya buat kandidat tertentu.

Tapi, pasti nggak mungkin ada tulisannya sih, soalnya itu sama saja meninggalkan jejak. Kalau kejahatan terstruktur mah pasti orang-orangnya nggak bego-bego amatlah ya sampai ninggalin jejak kayak gitu. Kecuali kalau jejaknya memang ada, tapi KPK nggak mau bilang. Upppsss.

Hmmm, memang politik uang tak akan pernah bisa dihindari. Soalnya uang dan politik itu pada hakekatnya sama, yaitu menjadi bagian dari hasrat manusia.

Uang jadi alat pemenuhan kebutuhan duniawi akan hedonisme dan kenikmatan raga, sementara kekuasaan itu juga hasrat untuk menjadi dominan. Kalau bahasanya Friedrich Nietzsche, disebut sebagai der Wille zur Macht alias will of power.

Semoga aja sih politik uang bisa berkurang di negeri ini. Soalnya, ketika uang jadi alat untuk membeli suara, maka demokrasi tidak ada artinya lagi.

Yang ada ya seperti yang terjadi pada zaman Crassus, di mana republik akan berubah menjadi kekaisaran, demokrasi akan berubah jadi otoritarianisme. Emang pada mau? Kalau kata Rhoma Irama: sungguh terlalu! (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Menkominfo “Membunuh” Online Shop?

“Bagi rakyat, politik bukan urusan koalisi atau oposisi, tetapi bagaimana kebijakan publik mengubah hidup sehari-hari”. – Najwa Shihab Pinterpolitik.com Dampak demonstrasi dan kericuhan 21-22 Mei...

Kivlan Zen Menantang SBY?

“Ketahui seperti apa dirimu sendiri dan kamu akan memenangkan segala situasi” . – Sun Tzu PinterPolitik.com Gengs, sebagai masyarakat biasa nih, kalian kaget nggak secara tiba-tiba...

Menteri Cantik Jokowi, Siapa Dilirik?

Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan kubu politiknya sempat mengungkapkan keinginannya untuk mencari menteri yang berusia muda dan cantik. Keinginan tersebut bisa saja berkaitan dengan...

Amien Ingin Anaknya Jadi Menteri Jokowi?

“Intinya supaya tidak ada lagi cebong dan kampret, sehingga yang ada tinggal cebong bersayap, artinya sudah akur.” – Amien Rais PinterPolitik.com Pertemuan Prabowo dan Amien Rais...

Capim KPK Seperti ‘Kucing Kurap’?

“Bukan masalah apakah kucing itu hitam atau putih, selama dia bisa menangkap tikus,” –  Deng Xiaoping PinterPolitik.com Kursi panas Pimpinan KPK masih diperebutkan, bahkan kini sudah...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.