HomeCelotehApa Kabar Revolusi Mental Jokowi?

Apa Kabar Revolusi Mental Jokowi?

Kecil Besar

“Suara, dengarkanlah aku. Apa kabarnya pujaan hatiku?” – Hijau Daun, Suara


Pinterpolitik.com

Apa kabar ya Revolusi Mental?

Itu kan sebuah jargon kampanye yang begitu fenomenal, sampai membuat banyak orang yang ikut berkampanye mau perang total. Kok sekarang jadi tak begitu terkenal? Apakah mungkin program ini sudah akan terpental?

Pada tahun 2014, kampanye milik Pak Jokowi ini kan begitu menarik bagi banyak orang. Gimana enggak, untuk pertama kalinya, ada terobosan dalam kampanye politik Indonesia yang selama ini diisi oleh jargon-jargon bernada terlampau umum.

Kalau melihat asal pemikirannya, siapapun pasti terpukau dengan gagasan revolusi mental Pak Jokowi ini. Kata-kata ini kan di Indonesia pertama kali mengemuka dari Soekarno, presiden pertama negeri ini.

Konon, Revolusi Mental menurut Soekarno adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.

Kurang lebih, revolusi ini terkait dengan perubahan pola pikir agar tak terus memiliki mental seperti bangsa terjajah.

Apa kabar ya revolusi mental? Masih kental apa sudah terpental? Share on X

Nah, dengan jargon memukau semacam itu, semua orang pasti menanti-nanti seperti kelanjutannya ketika Pak Jokowi menjabat.

Sayangnya, selama lima tahun periode pertama Pak Jokowi, program tersebut relatif minim sekali didengar. Memang sih ada kementeriannya Bu Puan Maharani yang jadi ujung tombak dari program tersebut. Pak Jokowi sendiri sudah meneken Inpres terkait dengan program tersebut. Selain itu, di situs-situs instansi pemerintahan juga jargon itu kerap dipajang dengan rapi.

Meski demikian, sulit untuk bilang bahwa program tersebut telah benar-benar sukses. Kalaupun pemerintah mengaku sudah menjalankan gagasan revolusioner tersebut, bagaimana ya caranya buat mengukurnya?

Baca juga :  Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Malah sebenarnya ada ironi tersendiri bagi jargon tersebut. Jadi kan, di pemerintahan Pak Jokowi ini ada penghargaan Revolusi Mental Awards 2018 mengukur dan mengapresiasi implementasi revolusi mental di lembaga pemerintahan, kementerian, dan BUMN.

Nah, di antara pemenang penghargaan tersebut, terselip nama Dirut Perum Jasa Tirta II Djoko Saputro sebagai salah satu pemenang. Ironisnya, delapan bulan setelah mendapat penghargaan, Pak Djoko justru malah ditangkap oleh KPK.

Jadi, wajar tuh kalau publik bertanya apanya yang direvolusi ya kalau pemenang penghargaannya malah ditangkap KPK.

Sebenarnya ada perkara lain yang membuat pertanyaan soal kabar Revolusi Mental ini jadi keluar. Pada kampanye Pilpres 2019, sepertinya istilah ini hampir tak terdengar dan kalah pamor dari program lain semacam Kartu Pra Kerja atau Pemerintahan Dilan (Digital Melayani).

Apa mungkin ini jadi sinyal kalau program revolusi mental yang fenomenal itu akan terpental?

Wah, sayang sekali ya, kan sudah banyak yang terpukau dengan revolusi mental ini, apalagi sampai meminjam pemikiran Bung Karno segala. Kita tunggu saja ya, apakah program ini beneran terpental atau akan tetap dikenal. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...