Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Ruang Publik > Mungkinkah Amerika dan China “Bersatu”?

Mungkinkah Amerika dan China “Bersatu”?


Pinter Politik - Monday, October 4, 2021 12:00
Joe Biden (kanan) yang kala itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) bersulang dengan Presiden Republik Rakyat China (RRC) Xi Jinping (kiri) ketika menjalankan kegiatan kunjungan ke Washington, D.C., AS, pada tahun 2015 silam. (Foto: AFP)

0 min read

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Republik Rakyat China (RRC) Xi Jinping kerap dianggap sebagai teman karena kedekatan mereka di masa lampau. Mungkinkah Amerika Serikat (AS) dan China “bersatu” di bawah kepemimpinan mereka?


PinterPolitik.com

“Amerika Serikat siap bekerja sama dengan bangsa mana pun yang mau melangkah maju dan mengejar resolusi damai atas tantangan bersama, meski kita punya perbedaan besar dibidang lain” – Joe Biden, Presiden Amerika Serikat (AS)

Situasi dan kondisi dunia internasional tidak terlepas dari peran serta pengaruh dari Amerika Serikat (AS) dan China. Jika diibaratkan, AS dan China bagai sutradara yang mengatur jalan cerita dalam sebuah film. Sementara, negara-negara lainnya merupakan aktor-aktor yang memerankan filmnya. Begitulah gambaran betapa besar peran dan pengaruh AS-China dalam dunia internasional.

Permusuhan antara AS-China telah memberikan dampak negatif dan kerugian bagi banyak negara, serta semakin memperburuk situasi dan kondisi dunia internasional. Hal ini dapat kita lihat dalam banyak kasus seperti perang dagang AS-China, sengketa Laut China Selatan (LCS), dan, terbaru, persoalan pandemi Covid-19 yang mana AS dan China saling tuduh menuduh tentang siapa dalang dari penyebab terjadinya pandemi Covid-19. Lantas mungkinkah AS-China akan bersatu dalam mewujudkan dunia internasional lebih baik kedepannya?

Beberapa kali, Joe Biden memperlihatkan keakrabannya dengan Presiden China Xi Jinping – seolah kedua negara ini bersahabat tanpa memiliki perselisihan dan perseteruan. Misalnya saja, Joe Biden beberapa kali menelepon Xi.

Pada Februari 2021 Joe Biden memberikan ucapan Imlek kepada Xi melalui via telepon. Kemudian, pada 9 September lalu, Biden kembali menelepon Xi dan membicarakan hubungan bilateral serta isu-isu strategis yang menjadi perhatian kedua negara.

Tidak hanya itu, Biden pun dikabarkan telah diagendakan untuk bertemu dengan Xi di KTT G20 yang akan dilaksanakan pada akhir Oktober mendatang. Selain itu, Biden kerap memberikan pernyataan bahwa AS di bawah kepemimpinannya siap melakukan kerja sama dan bersatu dengan negara-negara yang ingin mewujudkan perdamaian dan menciptakan dunia agar lebih baik ke depannya, meskipun negara tersebut memiliki perbedaan ideologi dengan AS. Apakah hal ini mengindikasikan AS-China akan “bersatu”?

Jika kita melihat tindakan yang dilakukan AS kepada China dan sebaliknya, tentu berbanding terbalik dengan pernyataan dan keakraban yang diperlihatkan oleh Biden dan Xi – di mana China misalnya terus berusaha memperluas hegemoninya di dunia internasional untuk menyaingi dan “menyerang” AS dengan memperlihatkan kegagalan-kegagalan AS sebagai negara adidaya dalam menciptakan dunia internasional yang damai dan lebih baik.

Begitu pun dengan tindakan AS kepada China, di mana AS hingga kini terus berusaha untuk melumpuhkan hegemoni China di dunia internasional, khususnya di kawasan Indo-Pasifik. Misalnya saja, hingga kini, AS terus menuduh China bahwa negara itu merupakan biang dari penyebab terjadinya pandemi Covid-19 dan menuntut China agar bertanggung jawab terhadap kerugian dan korban jiwa yang mati akibat pandemi Covid-19.

Kemudian, AS berusaha untuk menyaingi dan membendung hegemoni China di Asia khususnya Asia Tenggara dengan memberikan bantuan militer, membangun pangkalan militer, dan menggelar latihan militer bersama dengan beberapa negara Asia. Terbaru, AS membentuk aliansi pertahanan Indo-Pasifik dengan Inggris dan Australia yang tidak lain bertujuan untuk menandingi kekuatan China di kawasan Indo-Pasifik.

Pernyataan Biden yang mengindikasikan AS dapat menerima dan bersatu dengan negara yang berbeda ideologi dengannya seperti China nyatanya jauh panggang dari api dengan tindakan yang dilakukan oleh AS. AS dan China ibarat anjing dan kucing yang akan terus bermusuhan, tidak akan pernah bisa “bersatu”.

AS tidak akan rela apabila China lebih unggul darinya sehingga segala macam cara akan dilakukan oleh AS untuk menandingi dan melumpuhkan kekuatan China di dunia internasional. Begitu pun dengan China akan terus berusaha agar bisa lebih unggul dari AS dan akan melakukan segala macam cara untuk menjatuhkan dan mengalahkan AS.

Kedekatan dan keakraban yang ditunjukkan oleh kedua negara adalah “persahabatan semu” yang sebenarnya kedua negara sedang mempersiapkan strategi masing-masing untuk saling menghancurkan satu dengan yang lainnya. Meminjam pendapat dari tokoh realisme yakni, Edward Hallet Carr, sebenarnya kerja sama yang terjalin antar negara adalah “kerja sama semu” yang sebenarnya setiap negara sedang mempersiapkan cara untuk saling menjatuhkan dan mengalahkan satu dengan yang lainnya.

Selain itu, dalam pandangan kaum realis, negara akan cenderung melakukan kerja sama atau bersatu apabila mereka memiliki kepentingan dan ideologi yang sama. Dan sebaliknya, negara tidak akan melakukan kerja sama atau bersatu apabila mereka bertentangan satu dengan yang lainnya.

Dalam konteks AS-China, di mana kedua negara itu memiliki kepentingan dan ideologi yang berbeda bahkan bertentangan satu dengan yang lainnya sehingga hal ini akan membuat AS-China akan sulit untuk dapat bersatu.


Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.



Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait