HomeNalar PolitikZohri, Eksploitasi Elit Politik

Zohri, Eksploitasi Elit Politik

Kecil Besar

Bagaimana Jokowi menjerumuskan Zohri ke dalam dunia politik secara diam-diam? Tak hanya Zohri, banyak artis-artis juga telah menjadi korban eksploitasi gaya baru seperti ini.


PinterPolitik.com

[dropcap]T[/dropcap]ak heran bagi khalayak Indonesia ketika mendengar banyak atlet Indonesia yang berprestasi tidak mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah. Banyak dari para atlet tersebut yang akhirnya banting setir mencari profesi lain untuk tetap bisa bertahan hidup. Jika tak percaya, banyak artikel yang telah mengulas soal itu.

Dua di antara atlet tersebut adalah Amin Ikhsan dan Anang Maruf. Amin Ikhsan adalah mantan atlet senam yang pernah menduduki peringkat 7 kejuaraan dunia tahun 2003 di Tokyo. Karena kesulitan ekonomi, Ikhsan terpaksa harus menjual barang-barang rongsongkan, bahkan rumahnya menjadi korban penggusuran di Bandung pada tahun 2015 silam.

Sementara, Anang Maruf merupakan mantan pemain tim nasional Indonesia (timnas) dan pernah meraih medali perak di SEA Games 1998. Tapi sayang, kini dirinya juga telah berganti profesi menjadi seorang pengendara ojek online.

Selama ini, atlet memang seringkali disoroti media atau pemerintah ketika mereka sukses meraih juara dalam suatu perhelatan olahraga,baik itu di tingkat Asia maupun dunia.

Sorotan–sorotan itu jika tidak dibesar-besarkan di media sosial, mungkin kita juga tak tahu apakah ada perhatian serius dari pemerintah atau tidak. Sesuatu di negara ini memang perlu dibesarkan-besarkan terlebih dahulu barulah ada perhatian khusus dari pemerintah.

Nah, akhir-akhir ini sorotan publik tertuju kepada pelari asal Indonesia yang berhasil meraih juara dalam lomba lari 100 meter. Tentu ini merupakan kabar baik. Dan kabar baik ini datang dari Finlandia Utara. Hari itu, sorak-sorai di stadion Tampere menggema, para penonton bertepuk tangan. Lalu Muhamad Zohri, pelari asal Lombok, berhasil meraih kemenangan lomba lari 100 meter.

Dalam video berdurasi hampir 7 menit yang terbesar di linimasa media sosial, Zohri tampak ceria bercampur bingung. Dia berlari seperti mencari sesuatu, belakangan diketahui yang dia cari adalah Sang Saka Merah Putih.

Tak lama kemudian, dia akhirnya mendapat ajakan berfoto dari dua pelari asal Amerika Serikat (AS). Kedua pelari itu memegang bendera negaranya, tapi Zohri tidak. Dalam video tersebut juga tak nampak batang hidung tim-tim asal Indonesia yang berdiri berdekatan dengan Zohri.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Finlandia mengkonfirmasi hal tersebut dan menyatakan Indonesia tak memiliki akses untuk masuk ke dalam arena ketika itu. Tapi kritikan kadung bertebaran di media sosial.

Elit Politik dan Zohri

Dunia linimasa Indonesia sontak berisi berbagai pujian, tapi tidak sedikit juga yang melontarkan kritik terhadap orang-orang yang menggiring keberhasilan Zohri ke dalam ranah politik. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah contohnya. Partai keturunan Ikhwanul Muslimin ini dalam akun resminya (Facebook) menempelkan logo partai ke dalam foto Zohri. Zohri pun menanggapinya secara negatif.

Baca juga :  Khofifah dan Jebakan "Bebek Songkem"?

Menpora Imam Nahwari pun demikian, di sela-sela jumpa pers di kantor Kemenpora, melalui sambungan telepon dia berbicara dengan sang juara asal Lombok itu di depan media massa. Apa yang dilakukan Menpora tentu ingin bersikap reaktif kepada publik sekaligus menunjukan bahwa pemerintah juga memiliki perhatian kepada sang juara.

Beberapa hari kemudian Zohri diajak bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Keduanya berjalan mengitari halaman Istana Bogor sambil diliput para awak media. Tampak sebuah kesengajaan, Presiden membiarkan para awak media meliput pertemuan tersebut.

Sebelum itu, atas keberhasilan Zohri, Presiden melalui Kementerian PUPR ingin melalukan renovasi rumah milik Zohri, namun niat pemerintah ditolak. Meski begitu, Zohri akhirnya diberikan rumah oleh negara sebagai bentuk apresiasi.

Aksi para politisi “mengerubungi” Zohri ini tergolong ironi. Mengapa mereka baru muncul saat Zohri berhasil menyabet medali? Dimana mereka saat ia masih di masa persiapan dengan fasilitas minim?

Ironi lain muncul karena politisi selama ini tidak pernah hadir untuk atlet seperti Ikhsan dan Anang sebagaimana disebut di atas. Tampak, mereka seperti hanya ingin mencari panggung dengan menumpang panggung milik Zohri saat ia sukses.

Indonesia memang tidak seperti Jerman. Pemerintah Jerman konsisten dalam membangun berbagai fasilitas olahraga, tunjangan kesejahteraan hingga pembinaan yang ketat dari negara untuk mengawali karir seorang olahragawan.

Di Prancis baru baru ini, Presiden Emanuel Macron mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap dunia olahraga sebagai bentuk apresiasi terhadap para atlet. Tak tanggung-tanggung, beberapa nama stasiun di Prancis digantikan dengan nama pemain-pemain yang berhasil mengantarkan Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018.

Tentu, ini adalah apresiasi yang tidak berlebihan. Para atlet adalah pahlawan negara, mereka perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Tapi, apakah nasib Zohri akan seperti atlet Indonesia lain? Tentu tidak. Kini, atlet berprestasi telah mendapatkan dana pensiun oleh negara. Tentu, ini merupakan langkah yang maju. Tapi soal berapa besar dana pensiun itu Anda dapat cari tahu sendiri. Yang jelas, kebijakan tersebut belum lama dikeluarkan oleh Kemenpora.

Jokowi dan Opini Publik

Dalam konteks politik, Zohri memang serba salah, kemenangannya di tahun politik membuat elit-elit politik di Indonesia turut mencari muka, termasuk Presiden Joko Widodo yang terlihat ngebet ingin mencari simpati politik dari publik.

Mungkin bagi Jokowi, Zohri seperti bola, harus dijemput, kalau tidak lawan politik akan mengambil opportunity ini, dan itu memang telah dilakukan, semisal PKS di atas. Sejak dulu Jokowi memang pandai memanfaatkan situasi, terutama mencari perhatian kawula muda.

Baca juga :  Verrell, Esetetika Kuasa dan Fatamorgana?

Jelang Pilpres 2019 memang terdapat banyak ruang politik bagi Jokowi untuk meningkatkan popularitasinya. Misalnya adalah perayaan terakbar Asian Games 2018. Perhelatan ini rencanya diadakan di Jakarta dan Palembang pada Agustus- September mendatang.

Presiden bahkan melibatkan para artis, musisi dan vlogger untuk mempromosikan ajang ini. Mereka kebanyakan merupakan anak muda. Selama ini Jokowi memang ingin terkesan melakukan pembentukan opini bahwa dirinya dekat dengan anak muda. Dan nantinya keberhasilan Asian Games tentu merupakan keberhasilan Jokowi secara politik.

Jokowi memang telah lama mencuri hati anak muda. Gayanya dengan jaket kulit dan motor chopper beberapa waktu silam adalah buktinya. Gaya kampanye dengan menggunakan kemeja kotak-kotak pada Pemilu 2014 tampak tidak lagi digunakan.

Ini berbeda dengan Prabowo Subianto yang lebih menyerang kelemahan Jokowi dari sisi ekonomi. Tapi, apa yang dilakukan kedua kandidat Presiden itu sebenarnya sama saja yakni ingin membentuk opini publik demi tujuan politik.

Dalam dunia politik, tujuan akhir dari praktik pembentukan opini adalah untuk mendapatkan simpati atau suara rakyat. Maklum, suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populi vox dei).

Machiaveli pernah berkata bahwa orang-orang bijaksana tidak akan mengabaikan opini publik, misalnya seperti pendistribusian jabatan atau kenaikan jabatan. Selain Machiaveli, Rosseau juga pernah mengatakan bahwa opini publik adalah ratu dunia, karena opini publik tidak dapat ditaklukan oleh raja-raja di zaman otoriter pada abad ke-17 dan 18, kecuali jika sang ratu dunia itu mau dibeli sehingga menjadi budak dari sang raja.

Tentu, ini persis seperti apa yang dilakukan Jokowi selama ini, dia menyadari bahwa dalam politik demokrasi opini publik adalah ratu dunia, dan tak bisa ditaklukan oleh siapapun.  Dengan demikian, pembentukan opini perlu dilakukan semaksimal mungkin supaya kekuasaan dapat terjaga.

Fenomena Zohri di atas, tentu merupakan bagian dari praktik pembentukan opini. Hal tersebut disimpulkan dari serentetan fenomena yang mirip, misalnya kedekatannya dengan anak muda. Apalagi suara anak muda dengan rentan umur 17-34 tak bisa dipandang sebelah mana dalam perhelatan Pilpres 2019. Menurut lembaga survei Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) saat ini sekitar 34,4 persen dari total pemilih ada di rentan usia tersebut. Artinya, upaya untuk mencuri hati anak muda bakal terus digencarkan oleh elit-elit politik Indonesia.

Tentu, selain Zohri masih ada lagi, tapi ini belum tampak. Kita tunggu saja, pastinya fenomena seperti ini bakal terulang lagi di tahun politik ini. (A34)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

KPK telah memulai penyelidikan terhadap LHKPN milik Kajati Sumsel Sarjono Turin karena diduga tidak jujur

PinterPolitik - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menyoroti Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumatera Selatan (Sumsel) Sarjono Turin. KPK...

Ma’ruf Amin dan Isu Integritas

Ma’ruf Amin secara resmi telah ditetapkan sebagai kandidat cawapres Joko Widodo. Sontak, masa lalu sang kiai kembali dibahas di media sosial. PinterPolitik.com Ma’ruf Amin, pria berusia...

Mahfud MD, Cak Imin dan PKB

Jelang pengumuman cawapres, PBNU seperti terbelah. PinterPolitik.com Ribut-ribut soal cawapres tampaknya akan berakhir ketika muncul dua nama yang akan mendampingi Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Kedua...