HomeNalar PolitikMa'ruf Amin dan Isu Integritas

Ma’ruf Amin dan Isu Integritas

Kecil Besar

Ma’ruf Amin secara resmi telah ditetapkan sebagai kandidat cawapres Joko Widodo. Sontak, masa lalu sang kiai kembali dibahas di media sosial.


PinterPolitik.com

[dropcap]M[/dropcap]a’ruf Amin, pria berusia 75 tahun menjadi perbincangan media massa dan media sosial. Sebelumnya, namanya memang telah mencuat untuk mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019, namun tidak begitu santer dibicarakan. Munculnya inisial M pun membuat publik lebih mengaitkannya dengan Mahfud MD. Namun, ternyata inisial M itu bukanlah Mahfud.

Tapi akhirnya, ribut-ribut soal cawapres telah usai dan Joko Widodo secara resmi telah memilih kandidat calon wakil presiden untuk siap mengikuti kontestasi politik 2019, kendati kandidat yang dipilihnya mengagetkan banyak pihak.

Ma’ruf Amin dipilih karena dianggap sebagai tokoh bangsa yang memiliki pengalaman mumpuni. Berbagai jabatan penting pernah diemban oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini. Ma’ruf juga dianggap menjadi keterwakilan kelompok Islam sehingga dapat membentuk  pasangan nasionalis-religius bersama Jokowi.

Meski memiliki keunggulan, sang kiai ternyata memiliki catatan gelap di masa lalu. Isu ini mulai dibeberkan di media sosial sebagai kampanye negatif kepada Ketua MUI tersebut.

Mencari Pemimpin Berintegritas

Politik memang selalu memberi efek mengejutkan. Tidak ada yang menduga nama Ma’ruf Amin akan jadi cawapres Jokowi. Konon, ada tekanan internal terutama dari ketua Umum PDIP Megawati untuk memilih Ma’ruf Amin dibandingkan Mahfud MD.

Jokowi tampak tak memiliki kans politik, dia memang tersandera oleh partai-partai koalisi, misalnya ancaman dari kader NU di tingkat elit yang mengatakan mereka akan berpaling dari Jokowi, jika memilih Mahfud MD.

Menguatnya sentimen gerakan Islam konservatif sejak Pilkada DKI, boleh dibilang menjadi faktor utama Jokowi dan partai koalisinya memilih Ma’ruf Amin. Jokowi tampak masih trauma, melihat gerakan politik yang begitu besar yang ketika muncul menyerang kawannya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Terlepas dari itu, Ma’ruf memang adalah sosok berpengalaman dalam bidangnya. Jika ditelusuri, Ma’ruf Amin punya sejumlah catatan positif, misalnya, menjadi guru, pendakwah, dosen, hingga anggota DPR. Dia juga pernah menjabat sebagi Ketua NU Jakarta (1966-1970) hingga Ketua Umum MUI.

Namun, faktanya, Ma’ruf juga dianggap memiliki catatan buruk, dia disebutkan pernah terlibat dalam kasus investasi bodong antara PT GTIS dan MUI. Dalam konteks ini dapat dibilang integritas Maruf Amin masih perlu dipertanyakan. Apalagi latar belakangnya yang tidak memiliki pengalaman ekonomi membuat banyak pihak ragu.

Hal ini misalnya muncul dari kalangan pengusaha yang kaget ketika Maruf Amin dipilih sebagai cawapres Jokowi. Ini terkesan Jokowi mengabaikan aspek ekonomi. Pasalnya ekonomi Indonesia sedang diterpa masalah yang rumit, misalnya pelemehan kurs rupiah, kinerja ekspor yang loyo, daya beli masyarakat hingga sentimen ekonomi global. Itu sebab, Jokowi diharapkan memilih pasangan yang dapat menemaminya untuk mengurusi masalah ekonomi di atas.

Padahal, integritas adalah hal yang penting dalam kepemimpinan. Filsuf kenamaan Konfusius telah mengingatkan hal ini. Menurutnya, kekuatan negara amat bergantung pada integritas pemimpinnya. Pemimpin politik harus dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki integritas dan kharisma.

Baca juga :  Cuan Bengkel C-130 Hercules Majalengka

Tentu integritas yang lemah dapat membuat para pengusaha resah. Karena, jika salah menerapakan kebijakan dapat membuat pengusaha mengalami kerugian. Jika pengusaha mengalami kerugian tentu ini berefek pada kecilnya kesempatan kerja dan tentu saja akan  berpotensi mencipatkan problem sosial lain. Dalam konteks ini, integritas seorang pemimpin perlu diperlukan sehingga problem-problem kenegaraan dapat diatasi dengan mudah.

Lantas, apakah pemilihan Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi adalah langkah tepat? Apakah benar dia tak memiliki integritas yang kuat?

Skandal Maruf Amin?

Sebuah berita lawas yang muncul di beberapa media terkemuka pada tahun 2014 memang mengejutkan. Dalam berita itu dua nama petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) muncul sebagai topik utama pembahasan yakni Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Maruf Amin dan Ketua MUI, Amidhan Shaberah. Keduanya dituding terlibat dalam kasus investasi bodong PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS).

Kini, berita lawas itu tiba-tiba dibicarakan kembali oleh masyarakat. Meski dianggap sebagai kiai yang dihormati, tampak bahwa ia tidak kebal dari kampanye negatif.

Alkisah, Kepolisian Polda Daerah (Polda) Metro Jaya, menahan dan menetapkan Direktur GTIS, Azzidin sebagai tersangka. Namun, nasabah yang menjadi korban kasus itu mendesak kepolisian untuk menetapakan dua petinggi MUI itu sebagai tersangka pula.

Pasalnya, menurut kuasa hukum nasabah, Sugito Atmo Prawiro, Azzidin sebenarnya hanya berperan sebagai pelaksana operasional harian GTIS, di belakangnya ada dua petinggi MUI yang berperan sebagai penentu kebijakan oleh karena itu keduanya harus bertanggung jawab.

GTIS adalah perusahaan yang berdiri pada Maret 2010 dan menawarkan produk jual beli emas dalam bentuk investasi. Pendirinya merupakan sejumlah WN Malaysia. Perusahaan ini menjalankan dua skema, pertama dengan jaminan memegang fisik emas dan return 1,5 persen per bulan sesuai masa kontrak. Kedua, sistem non-jaminan emas fisik dengan return 4-5 persen per bulan.

Nah, hubungan MUI dengan perusahaan ini adalah dengan menerbitkan sertifikasi halal atas skema investasi GTIS. Dengan mendapatkan sertifikasi halal itu pula masyarakat kemudian menjadi tertarik untuk menyimpan dana di GTIS.

Baca juga :  Menguak The Economist

Para nasabah meminta pihak berwenang untuk menempatkan dua petinggi MUI sebagai tersangka karena keduanya juga terlibat dalam iklan untuk perusahaan ini, misalnya dengan testimoni bahwa produk investasi GTIS adalah halal dan sesuai dengan hukum syariah.

Bukti keterlibatan lainya adalah dalam akta notaris pendirian GTIS juga tertulis bahwa MUI merupakan salah satu pendiri GTIS melalui Yayasan Dana Dakwah Pembangunan dengan kepemilihan saham sebesar 10 persen. Sementara bukti lainnya adanya aliran dana yang masuk ke yayasan ini. Diperkirakan, nasabah mengalami kerugian hingga triliunan rupiah.

Meski demikian tudingan itu sempat dibantah oleh Ma’ruf Amin saat ditanya oleh Kontan pada tahun 2014. Ia mengaku bahwa waktu itu ia tak memberi izin tapi hanya menyatakan GTIS beroperasi secara syariah. Hingga kini kasus ini masih berjalan di tempat dan tersangka Azzidin telah dibebaskan oleh pihak berwenang.

Integritas Maruf Amin?

Perlukah mempertanyakan integritas Ma’ruf Amin? Rasanya tidak, jika melihat dari latar belakang pengalamannya tentu mempertanyakan itu adalah hal yang keliru. Tapi melihat dari polemik di atas, tidak salah pula jika sedikit menyoal integritas Ma’ruf Amin misalnya apakah dia adalah tokoh yang bersih dan tak memiliki kasus apapun?

Tentu, integritas bagi seorang pemimpin merupakan hal penting. Becker dalam “Integrity in Organization: Beyond Honesty and Conscienstiousness” pernah memberikan definisi singkat, yakni komitmen dalam tindakan dengan seperangkat prinsip dan nilai yang dapat dibenarkan secara moral.

Artinya, jika benar Ma’ruf terlibat dalam kasus ini, maka sebenarnya integritasnya perlu dipertimbangkan oleh Presiden Jokowi. Tapi, dari situasi politik di atas tampak memang yang menjadi pertimbangan utama adalah bagaimana Jokowi dapat mendulang suara dari kalangan Islam di Indonesia. Apalagi, selama ini Jokowi memang terkenal lihai dalam melakukan praktik populisme. Tentu, dalam konteks ini Ma’ruf hanyalah menjadi orang yang terpaksa dipiilih Jokowi karena keadaan politik yang mendesak.

Tapi dalam kontestasi politik elektoral, orang selalu saja mencari cara untuk mendeskreditkan lawannya. Tak menutup kemungkinan, kasus ini dikemudian hari akan kembali mencuat, dan digunakan untuk menyerang Ma’ruf Amin. Tapi, itu tergantung bagaimana setiap insan politik Indonesia menyikapi hal ini. Yang jelas, kita berdoa agar kontestasi Pilpres 2019 berjalan dengan aman dan lancar. (A34).

 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

KPK telah memulai penyelidikan terhadap LHKPN milik Kajati Sumsel Sarjono Turin karena diduga tidak jujur

PinterPolitik - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menyoroti Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumatera Selatan (Sumsel) Sarjono Turin. KPK...

Mahfud MD, Cak Imin dan PKB

Jelang pengumuman cawapres, PBNU seperti terbelah. PinterPolitik.com Ribut-ribut soal cawapres tampaknya akan berakhir ketika muncul dua nama yang akan mendampingi Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Kedua...

PAN, Politik Bunglon?

Pertemuan Zulkifli Hasan dengan Jokowi, membuat arah politik PAN makin tidak jelas, apakah partai ini akan berpihak pada Prabowo atau Jokowi? PinterPolitik.com Mungkin, bulan ini adalah...