HomeHeadlineThe Mahjong Game: Trump vs Xi

The Mahjong Game: Trump vs Xi

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Amerika Serikat (AS) di bawah Donald Trump yang dulu menjunjung tinggi tatanan dunia liberal kini mulai memainkan logika kekuasaan ala Tiongkok dalam dinamika geopolitik digital, khususnya TikTok. Apakah ini pertanda bahwa Washington telah meninggalkan papan catur dan mulai mengasah strategi mahjong-nya?


PinterPolitik.com

“Only a fool folds a winning hand” – Eleanor Young, Crazy Rich Asians (2018)

Cupin duduk terpaku di depan layar saat Crazy Rich Asians mencapai puncaknya. Bukan pesta mewah atau perhiasan yang mencuri perhatiannya, tapi meja kayu, empat sisi, dan batu-batu Mahjong yang berbicara tanpa suara.

Adegan ketika Eleanor Young dan Rachel Chu duduk berhadapan membuat Cupin berhenti mengunyah camilan. Ia tahu ini bukan sekadar permainan biasa—ada pertarungan nilai, martabat, dan pilihan yang berlapis di balik setiap gerakan tangan mereka.

Rachel, tenang namun tajam, melepaskan kemenangan dari genggamannya, lalu meninggalkan batu yang memungkinkan Eleanor menang. Cupin menahan napas—gestur itu seperti melempar piala kemenangan hanya untuk menunjukkan bahwa ia bisa menang, tapi memilih tidak.

Eleanor menang, tapi tak benar-benar menang. Rachel kalah, tapi dengan elegansi yang menggetarkan. Cupin menggigit bibir, berpikir bahwa permainan ini lebih dekat ke taktik perang daripada sekadar hiburan keluarga.

Ia memutar ulang adegannya, memperhatikan bagaimana Rachel membuka dengan kelembutan, menyimpan potensi di tangan, dan menyerahkan kontrol di akhir. Seolah-olah Rachel menunjukkan bahwa kekuasaan sejati adalah kemampuan untuk mundur tanpa kehilangan harga diri.

Cupin terdiam lama setelah film usai. Apa sebenarnya makna dari permainan Mahjong dalam konteks ini? Apakah ini sekadar simbol budaya, atau justru representasi elegan dari strategi politik dan diplomasi yang kini sedang dimainkan di dunia nyata—baik di meja negosiasi dagang, maupun dalam dinamika kekuasaan?

TikTok War ala Trump-Xi?

Cupin menghadap layar, membuka artikel The Geopolitics of ‘Platforms’: The TikTok Challenge oleh Joanne E. Gray, dan langsung tertarik pada analisis geopolitik dibalik popularitas TikTok. Bagi Gray, TikTok bukan sekadar aplikasi video pendek, melainkan pion dalam arena persaingan kekuatan digital global.

Baca juga :  Komprador Gurita Batu Bara

Menurut Gray, dominasi perusahaan digital asal Amerka Serikat (AS) selama dua dekade menciptakan “world order” digital yang berat sebelah, dan TikTok sebagai platform Cina memaksa tatanan itu terguncang. Cupin menyadari bahwa kontroversi TikTok selama April–Agustus 2020 adalah pertarungan kekuasaan digital, bukan sekadar soal data atau algoritma.

Gray menguraikan bahwa Trump, melalui perintah eksekutif dan retorika nasionalisme keamanan, memaksa ByteDance menjual TikTok agar data pengguna AS tidak jatuh ke tangan Beijing. Cupin melihat strategi ini mencerminkan “platform geopolitics”: ketika kontrol atas platform berarti kendali masa depan demokrasi dan ekonomi digital global.

Cupin kemudian merenungkan bagaimana AS juga menggalang sekutu lewat program “Clean Network” untuk membuat zona bebas pengaruh teknologi Tiongkok, sekaligus menahan laju perusahaan digital asing. Gray mencatat bahwa ini bukan hanya proteksionisme, tapi langkah untuk menjaga keunggulan strategis dan nilai demokratis ala Barat.

Dengan penuh perhatian, Cupin mengikuti respons Tiongkok—melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri—yang menyebut langkah AS sebagai “penekanan politik dan diskriminasi pasar”, serta memunculkan balasan lewat aturan ekspor AI. Cupin merasa persaingan ini mirip duel kekuatan di meja negoisasi global.

Cupin menutup artikel dengan kesimpulan bahwa TikTok adalah salah satu batu penting dalam “platform geopolitics” saat ini, dimana dominasi digital adalah bagian dari strategi kekuatan nasional yang saling beradu. Di benaknya yang penuh rasa ingin tahu, Cupin bertanya-tanya: Lantas, bagaimana Trump melancarkan strateginya dalam perebutan TikTok?

Trump Buang “Catur”, Ganti “Mahjong”?

Cupin duduk termenung di depan layar, membaca ulang tulisan John J. Mearsheimer berjudul Bound to Fail: The Rise and Fall of the Liberal International Order. Ia mulai memahami bahwa AS, yang selama ini membangun tatanan dunia liberal pasca-Perang Dingin, kini justru tampak mulai meninggalkan prinsip-prinsipnya sendiri.

Baca juga :  Republik Sunyi

Dalam tulisannya, Mearsheimer berargumen bahwa tatanan internasional liberal bersifat utopis dan rapuh karena bertentangan dengan logika politik kekuasaan. Cupin menggarisbawahi bagian ketika Mearsheimer menyebut bahwa sistem itu “bound to fail” karena menabrak realitas anarki global dan nasionalisme negara-negara besar.

Cupin lalu melihat bagaimana AS di bawah Trump beralih dari permainan “catur”, yang rasional, terstruktur, dan linear, menuju “mahjong”, yang kompleks, simbolik, dan penuh perhitungan tersembunyi. Dalam mahjong, batu yang tampak lemah bisa menjadi kunci kemenangan jika dibaca dengan benar, dan Cupin merasa Trump mulai bermain seperti itu.

Alih-alih membela prinsip kebebasan informasi dan pasar terbuka, AS justru melarang TikTok, sebuah ironi bagi negara yang membanggakan dirinya sebagai penjaga tatanan liberal. Ini adalah wujud dari apa yang Joanne E. Gray sebut sebagai platform geopolitics, dan Cupin sadar bahwa AS kini mulai mengadopsi cara-cara agnostik seperti Tiongkok, fleksibel terhadap nilai, tapi tegas dalam strategi.

Dalam konteks ini, Cupin melihat perubahan besar: AS tak lagi sekadar membela ideologi liberal, tapi juga mulai bermain pada logika kekuasaan global yang lebih realistis. Permainan sudah berubah, dan kini, AS tak segan memainkan mahjong bersama Xi Jinping, dengan semua kalkulasi, simbol, dan batu tersembunyi yang menyertainya.

Cupin menarik napas panjang. Dunia tidak lagi hitam-putih, dan di meja global saat ini, siapa pun bisa menang, asal tahu kapan menyimpan, kapan menggertak, dan kapan melepas kemenangan secara sengaja. (A43)


Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Pramono Main “Presiden-presidenan”?

Sejumlah kebijakan Gubernur Pramono Anung tampak pantulkan program pemerintah pusat. Kebetulan teknokratis atau ada logika yang sengaja dipasang? 

Sarat Makna Kavaleri Kuda Istana

Bukan sekadar pengawal tamu negara. Di balik 120 kavaleri kuda yang mengiringi Narendra Modi menuju Istana Negara Jakarta, tersimpan pesan tentang diplomasi, kekuasaan, dan martabat negara. Mengapa kuda masih relevan di era digital? Karena dalam politik modern, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada kebijakan.

Cermin Retak di Zaman Pelangi?

Perpres 111/2025 memasukkan penyebaran budaya LGBTQ+ sebagai ancaman nonmiliter. Namun, mengapa nasibnya bisa beda dari komunis dan Tionghoa dulu?

Tito dan Sengkarut OTT

Sembilan kepala daerah terjaring KPK dalam enam bulan. Semua mata mengarah ke Tito sebagai Mendagri, terutama mata para anggota DPR. Lalu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh orang yang paling dekat dengan masalah ini?

Tapir Mesuji Hidup di Hati Rakyat

Satu ekor tapir yang tewas di Mesuji membongkar jarak lama antara kepedulian kota dan kenyataan hidup di pinggir hutan — dan pola yang sama ternyata terjadi di banyak negara lain.

Singapura dan ‘Benalu’ Complex

Prabowo jamu PM Lawrence Wong dalam Leaders' Retreat pada 6 Juli 2026. Namun, benarkah Singapura selama ini hidup dari getah tetangganya?

Ibu Ani, Simfoni Arsitektur Empati

Di balik setiap kekuasaan, terdapat kerja-kerja sunyi yang jarang tercatat sejarah. Ani Yudhoyono menunjukkan bahwa empati, keteladanan, dan stabilitas emosional bukan sekadar nilai domestik, melainkan fondasi penting kepemimpinan. Sebuah refleksi tentang bagaimana kemanusiaan turut membentuk wajah dan daya tahan sebuah pemerintahan.

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

More Stories

Pramono Main “Presiden-presidenan”?

Sejumlah kebijakan Gubernur Pramono Anung tampak pantulkan program pemerintah pusat. Kebetulan teknokratis atau ada logika yang sengaja dipasang? 

Cermin Retak di Zaman Pelangi?

Perpres 111/2025 memasukkan penyebaran budaya LGBTQ+ sebagai ancaman nonmiliter. Namun, mengapa nasibnya bisa beda dari komunis dan Tionghoa dulu?

Singapura dan ‘Benalu’ Complex

Prabowo jamu PM Lawrence Wong dalam Leaders' Retreat pada 6 Juli 2026. Namun, benarkah Singapura selama ini hidup dari getah tetangganya?