HomeHeadlineGen Z is Going Corrupt?

Gen Z is Going Corrupt?

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Publik diramaikan dengan pembahasan tersangka kasus korupsi yang tengah diusut KPK atas nama Nur Afifah Balqis yang masih berusia 24 tahun. Ini jadi pemandangan miris bahwa kasus-kasus korupsi kini telah merambah masuk ke generasi yang paling muda dalam politik: generasi yang harusnya masih tinggi idealisme.


PinterPolitik.com

Di tengah ekspektasi besar terhadap generasi muda sebagai agen perubahan, realitas justru menyuguhkan ironi yang pahit: semakin banyak anak muda yang terjerat dalam pusaran korupsi. Bukan hanya generasi tua yang tersandung kasus suap dan penyalahgunaan wewenang, kini kita melihat wajah-wajah segar, muda, bahkan milenial dan Gen Z, yang muncul dalam daftar tersangka KPK. Kasus Nur Afifah Balqis, bendahara DPC Partai Demokrat Balikpapan yang masih berusia 24 tahun saat ditangkap, menjadi simbol kejatuhan etika generasi baru di ruang politik.

Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan penting: apakah korupsi kini tidak lagi soal usia, tapi tentang sistem dan kesempatan? Dari Rici Sadian Putra (22 tahun), mantan satpam bank yang menggelapkan dana negara, hingga Adriatma Dwi Putra yang menjadi wali kota Kendari dan divonis atas korupsi proyek infrastruktur di usia 29 tahun, pola ini menunjukkan bahwa usia muda bukan jaminan integritas.

Lebih dari itu, dalam era digital dan keterbukaan informasi, korupsi yang dilakukan generasi muda justru memperlihatkan sisi gelap dari literasi politik yang dangkal dan ambisi yang tak terkendali. Mereka memiliki akses terhadap pengetahuan, pandangan tentang pentingnya transparansi, bahkan perangkat teknologi untuk menghindari kesalahan. Tapi tetap saja tergelincir. Artinya, masalahnya bukan pada minimnya akses, tapi pada orientasi nilai yang bengkok. Di mana kekuasaan dilihat bukan sebagai amanah, tapi peluang.

Di tingkat global, tren ini juga terjadi. Dari Amerika hingga Eropa Timur, kasus pejabat muda yang korup mulai merebak. Di beberapa negara, digital natives justru lebih lihai mengakali sistem. Skandal korupsi bukan lagi didominasi aktor tua berjas lusuh, tapi juga anak-anak muda yang berpakaian trendi, aktif di media sosial, dan fasih bicara soal reformasi. Generasi yang seharusnya jadi garda moral justru mulai memainkan peran dalam industri kegelapan politik.

Baca juga :  Strategi โ€œGajahโ€ Kaesang masuk Pesantren ?

Tafsir Generasi Korup

Untuk memahami gejala ini, kita bisa menggunakan sejumlah pendekatan teoritis yang menjelaskan mengapa generasi muda, yang mestinya progresif dan idealis, justru terjebak dalam politik busuk.

Pertama, teori “moral disengagement” dari Albert Bandura menjelaskan bagaimana individu bisa melepaskan diri dari tanggung jawab moral saat melakukan tindakan yang sebenarnya mereka tahu salah. Dalam banyak kasus, anak muda yang korup tidak merasa bersalah karena menganggap perbuatan mereka sebagai bagian dari sistem yang sudah rusak sejak awal. Dalam pikirannya, jika semua orang melakukannya, mengapa tidak?

Kedua, kita bisa merujuk pada gagasan Jean Baudrillard tentang “simulacra”. Generasi muda hari ini hidup dalam dunia citra, di mana realitas digantikan oleh representasi. Dalam konteks ini, anak muda yang masuk politik tidak lagi fokus pada kerja nyata atau pelayanan publik, tapi pada bagaimana tampil sebagai tokoh, influencer, atau selebritas. Korupsi muncul sebagai konsekuensi dari obsesi terhadap penampilan dan kekuasaan yang lebih besar daripada nilai-nilai etis yang seharusnya melekat pada jabatan publik.

Ketiga, pendekatan Pierre Bourdieu tentang habitus dan capital membantu kita memahami bagaimana anak muda yang terjun ke dunia politik membawa serta logika sosial dari latar belakangnya. Jika mereka dibesarkan dalam lingkungan yang permisif terhadap praktik korupsi, maka meskipun muda, mereka tetap akan mengikuti pola yang sama. Habitus membentuk tindakan, dan tindakan itu tak selalu berubah hanya karena usia.

Dalam konteks ini, integritas bukan hasil dari usia muda, tapi dari proses pendidikan sosial yang berkelanjutan. Jika pendidikan politik, sosial, dan moral diabaikanโ€”baik oleh keluarga, sekolah, maupun partai politikโ€”maka tak heran jika anak muda pun tumbuh menjadi koruptor yang hanya lebih muda, bukan lebih bersih.

Dua Wajah Masa Depan

Namun, tidak semua anak muda terseret dalam arus gelap ini. Di tengah gempuran kasus korupsi, kita juga melihat potret lain: generasi muda yang memilih jalan berbeda. Di Jakarta Utara, seorang anak muda Gen Z menjadi ketua RT termuda dan berhasil menciptakan inovasi pelayanan publik berbasis digital, menyelesaikan masalah banjir lingkungan, dan membangun solidaritas warga melalui pendekatan komunikasi yang segar dan solutif.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda bukan monolit. Mereka hadir dalam dua wajah: satu yang tergoda oleh bahasa kekuasaan dan fasilitas korupsi, satu lagi yang memilih integritas dan pelayanan sebagai prinsip utama. Tantangannya adalah bagaimana memperbanyak yang kedua, dan meminimalisir yang pertama.

Di sinilah peran negara, masyarakat sipil, dan institusi pendidikan menjadi vital. Kita tidak bisa berharap integritas lahir secara otomatis hanya karena seseorang lahir di era digital. Dibutuhkan desain pendidikan politik dan karakter yang membumi, yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab, empati, dan kesadaran etis. Partai politik juga harus berhenti menjadikan anak muda sebagai pelengkap foto kampanye semata. Mereka harus diberi ruang belajar, gagal, dan bertumbuh dalam ekosistem politik yang sehat.

Korupsi generasi muda adalah alarm keras bagi masa depan. Ia menandakan bahwa revolusi digital dan bonus demografi tidak menjamin revolusi moral. Dan jika kita tidak melakukan intervensi serius, maka kita hanya akan mengganti koruptor tua dengan koruptor muda, tanpa pernah menyentuh akar masalahnya.

Mungkin, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi: apakah anak muda bisa memimpin? Tapi: bagaimana memastikan anak muda memimpin dengan benar? Karena pemuda yang korup bukan hanya mencederai masa kini, tetapi juga mencuri masa depan.

Dengan munculnya kasus-kasus seperti Nur Afifah Balqis, Adriatma Dwi Putra, hingga Rici Sadian, kita tidak hanya melihat keruntuhan individu, tapi juga keruntuhan harapan. Harapan bahwa usia muda akan membawa semangat baru yang jujur dan bersih. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh sejarah dan teori, tanpa sistem yang sehat, bahkan benih terbaik pun bisa busuk.

Dan pada akhirnya, harapan kita tinggal pada anak-anak muda yang memilih jalan berbeda. Yang sadar bahwa kekuasaan adalah alat, bukan tujuan. Yang berani menolak korupsi bahkan saat semua orang melakukannya. Yang tahu bahwa perubahan tidak datang dari usia, tapi dari keberanian menjaga integritas di tengah badai sistem yang merusak. Mereka bukan sekadar Gen Z. Mereka adalah generasi yang kita tunggu-tunggu. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?ย 

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje โ€” apa yang sebetulnya sedang...

Jika Ahok jadi Ketua KPK

Andai jika orang yang suka bicara dengan tajam dan blak-blakan diminta untuk menjadi ketua KPK. Apa yang sebenarnya akan berubah, dan apa yang justru tidak bisa berubah sama sekali?

Khofifah dan Jebakan “Bebek Songkem”?

Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah?ย 

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

More Stories

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, โ€œrayapโ€ tidak takut pada menterinya.

Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Pertemuan Megawati dan Sultan Hamengku Buwono X beberapa hari lalu terlihat seperti silaturahmi biasa โ€” kangen-kangenan setelah lama tak berjumpa. Namun di balik hangatnya obrolan itu, banyak pihak membaca makna lebih dalam: Sultan sekali lagi berdiri di persimpangan politik Indonesia, menjadi titik temu yang tak bisa diabaikan.

Prabowo’s Coffee Theory

Di Rapat Paripurna DPR/MPR, 20 Mei 2026, Prabowo spontan berkelakar mencari kopi saat berpidato โ€“ sebuah bahasa politik yang menarik bagi banyak pihak. Bagi seorang presiden, momen itu bukan sekadar kantuk. Itu adalah sinyal politik: bahwa kekuasaan pun butuh jeda, dan kenyamanan tak harus mewah. Kopi adalah simpul sejarah, politik dan kekuasaan Indonesia.