HomeHeadlineSiasat Tiongkok Dekati Arab Saudi

Siasat Tiongkok Dekati Arab Saudi

Presiden Tiongkok Xi Jinping rencananya akan menerima undangan untuk berkunjung ke Arab Saudi. Kedua negara diproyeksikan bakal melakukan transaksi perdagangan minyak dengan menggunakan mata uang Tiongkok, yaitu yuan (renminbi). Jika rencana ini terealisasi bisa berpotensi membuat sistem tandingan di dunia internasional khususnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), lantas apakah yuan bisa menggeser dominasi mata uang negeri Paman Sam? 


PinterPolitik.com

Fenomena multipolar tampaknya cukup mempengaruhi setiap relasi dan hubungan antar-negara di dunia. Apabila dahulu hanya ada Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet sebagai dua kekuatan besar, kini sejak runtuhnya ideologi komunisme, dunia tidak hanya didominasi oleh dua poros kekuatan. 

Meski sempat menjadi satu-satunya negara hegemoni, AS tidak lagi menjadi negara adidaya. Posisi AS sebagai polisi dunia tidak lagi absolut karena negara-negara di dunia sudah mulai ‘unjuk gigi’ kekuatan untuk menandingi negeri Paman Sam.

Dalam tulisan berjudul The Unipolar Illusion Revisited: The Coming End of The United States’ Unipolar Moment karya Christopher Layne, dijelaskan jika negara-negara mulai berpikir untuk mengimbangi hegemoni AS. Alasannya adalah karena tidak ingin dikuasai secara penuh oleh negara tersebut. 

Mak,a tidak heran jika muncul negara-negara ‘penantang baru’ seperti salah satunya yaitu Tiongkok. Negeri Tirai Bambu ini mulai memperlihatkan dominasinya sehingga membuat AS menjadi ketar-ketir. 

Bahkan, pergerakannya kali ini tidak main-main karena mulai mendekati negara sekutu terdekat AS di Timur Tengah, yaitu Arab Saudi. Seperti yang diketahui, Arab Saudi dan AS memiliki hubungan yang mesra khususnya dalam hal perdagangan dan keamanan. Meski demikian, hubungan mesra keduanya ternyata tidak selamanya berjalan mulus karena ada beberapa isu yang cukup sensitif meliputi politik dan kemanusiaan. 

Salah satu kasus yang cukup menyita perhatian yaitu kasus tewasnya seorang jurnalis bernama Jamal Khashoggi. Kematiannya ternyata menuai kontroversi karena ada dugaan keterlibatan Kerajaan Saudi yang membuat AS terus bereaksi. 

Momentum ini pun menjadi pemicu renggangnya hubungan antar kedua negara. Celah perselisihan tampaknya berpotensi semakin besar dengan masuknya Tiongkok untuk meningkatkan hubungan dengan Arab Saudi. 

Presiden Tiongkok Xi Jinping diundang oleh Kerajaaan Arab Saudi untuk membahas masalah perdagangan sekaligus mengindikasikan adanya penerimaan mata uang yuan sebagai alat pembayaran untuk minyak. Keinginan untuk menggunakan mata uang yuan sebenarnya tidak hanya diutarakan melalui hubungan Arab Saudi dengan Tiongkok, melainkan sejumlah negara khususnya di benua Afrika seperti Zimbabwe dan Afrika Selatan yang ikut menggunakan mata uang yuan dalam melakukan transaksi. 

Tidak hanya di benua Afrika, penggunaan mata uang yuan pun sempat ramai dibicarakan negara-negara Asia Tenggara – termasuk Indonesia. Jika melihat hal ini, lantas seberapa besar peluang yuan bisa mendominasi perekonomian global? 

Baca juga :  Karier Politik Panjang Anies

Upaya Tiongkok Geser Dolar? 

Sejauh ini penggunaan mata uang yuan mengalami peningkatan secara global. Tercatat berdasarkan laporan International Monetary Institute (IMI) under Renmin University of China, indeks penggunaan yuan secara global mencapai 5,02 di akhir tahun 2020. Pencapaian tersebut memperlihatkan peningkatan sebesar 54,2 persen – sekaligus menempatkan mata uang yuan menjadi nomor tiga di dunia. 

Selain itu, penggunaan yuan juga mampu mendominasi sejumlah bank di negara-negara dunia – khususnya dalam hal penyimpanan aset. Pada tahun 2020 lalu pun, peningkatan penggunaan yuan untuk perdagangan mencapai 14,8 persen per tahunnya. 

Momentum ini diperkuat dengan adanya pernyataan dari perwakilan dari School of Finance of Renmin University of China, Wang Fang, yang menegaskan proyek besar Tiongkok Belt Road and Initiative (BRI) menjadi pemicu dominasi penggunaan yuan semakin kuat secara global – mengingat proyek ini sudah merambah di benua Afrika dan Asia. 

Sebuah jurnal berjudul China’s Belt and Road Initiative and the Rise of Evidence from Pakistan karya Jamshed Y. Uppal dan Syeba Rabab Mudakkar menjelaskan jika yuan Tiongkok sudah berperan cukup besar dalam perdagangan dunia. Pengaruhnya cukup besar karena masifnya aliran mata uang ini kepada salah satu negara yang terdampak dengan adanya proyek Belt Road and Initiative. Dominasi Tiongkok atas Pakistan akhirnya membuat kedua negara ini sepakat untuk melakukan perdagangan bilateral dengan menggunakan mata uang yuan. 

Pintu masuk Tiongkok melalui proyek Belt and Road Initiative juga terlihat di kawasan Asia Tenggara. Salah satu contohnya seperti Bank of China Hong Kong di Kamboja yang sudah menerima transaksi untuk menggunakan mata uang yuan. 

Hal serupa juga diterapkan oleh Vietnam yang mengizinkan mata uang yuan digunakan dalam transaksi perdagangan di wilayahnya. The State Bank of Vietnam yang mengungumkan jika mulai 12 Oktober 2018, mata uang Tiongkok itu sah dan bisa digunakan. 

Fenomena ini memperlihatkan jika ada sedikit tekanan terhadap dominasi AS terutama dengan kehadiran Tiongkok. Dalam jurnal berjudul Is China Ready to Challenge the Dollar tulisan Melissa Murphy dan Wen Jin Yuan, dijelaskan bahwa yuan siap untuk menekan dominasi dolar AS sebagai mata uang yang sering digunakan dalam transaksi global. 

Kondisi ini tidak lepas dari fenomena perekonomian dunia saat ini yang marak akan kompetisi negara-negara. Maka, tidak heran jika kehadiran yuan secara otomatis menciptakan persaingan dengan negeri Paman Sam alias AS. 

Meski demikian, jika mengacu pada tulisan PinterPolitik berjudul Siasat Indonesia-Tiongkok Geser Dolar AS? posisi dolar masih jauh di atas yuan atau renminbi Tiongkok. Lantas, jika melihat hal ini, apakah perang mata uang bisa terjadi antara yuan dengan dolar? Dan siapakah yang akan menang?

Baca juga :  Jebakan di Balik Upaya Prabowo Tambah Kursi Menteri Jadi 40

Picu Currency War?

Persaingan atau kompetisi antar keduanya tidak hanya dari sisi politik maupun keamanan, melainkan dari sisi ekonomi melalui mata uang. Dalam tulisan berjudul Is China Ready to Challenge the Dollar milik Melissa Murphy dan Wen Jin Yuan, juga dijelaskan tentang perang mata uang atau currency war. 

Fenomena tersebut diduga merupakan skenario AS dalam merespons eksistensi Tiongkok di kancah global. Hal serupa juga dikemukakan oleh penulis asal Tiongkok, Song Hongbin, yaitu fenomena perang mata uang sengaja dibuat oleh sekelompok orang untuk memengaruhi perekonomian negara lain. 

Secara garis besar pengertian currency war – dalam jurnal berjudul Currency Wars karya William R.Cline dan John Williamson – adalah sebuah upaya manipulasi dari suatu negara untuk meraup keuntungan yaitu meningkatkan ekspor. Caranya yaitu dengan menurunkan nilai mata uang negara tersebut. 

Hal inilah yang berulang kali dilakukan oleh Tiongkok untuk meningkatkan ekspornya ke negara-negara lain. Didukung dengan kebijakan People’s Bank of China (PBOC) yang menetapkan titik tengah harian yuan terhadap dolar AS, alhasil kurs yuan sedikit melemah terhadap dolar AS. 

Bukan sesuatu yang asing bagi Tiongkok karena perekonomian negara ini tergantung dengan aliran ekspor. Dengan melemahnya yuan, maka harga barang Tiongkok terkesan lebih murah sehingga memicu negara lain untuk melakukan impor dengan Tiongkok. 

Hal ini terlihat dari ekspor negeri Tirai Bambu ini di tahun 2022 yang mengalami pertumbuhan. Administrasi Bea Cukai Tiongkok mencatat jika nilai ekspor meningkat sebesar 16,3 persen pada periode Januari-Februari 2022. 

Peningkatan nilai ekspor Tiongkok juga melebihi impor negara tersebut. Tercatat impor Tiongkok tumbuh sebesar 15,5 persen selama Januari-Februari 2022. 

Persentase ekspor yang tinggi dibandingkan impor menunjukkan jika ‘nafas’ kehidupan negeri Panda mengandalkan ekspor. Melihat kondisi ini, tampaknya Tiongkok tetap memprioritaskan upaya ekspor dibandingkan impor sehingga inisiatif impor minyak dengan Arab Saudi tampaknya tidak serta merta bertujuan menggeser dominasi dolar AS melalui perang mata uang atau currency war

Meski belum memiliki posisi yang sejajar dengan dolar AS, eksistensi Yuan tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi memengaruhi geopolitik, khususnya di kawasan ASEAN – mengingat beberapa negara ASEAN mulai berpikir untuk meninggalkan dolar AS sebagai alat untuk transaksi. Isu ini akan terus berkembang dan menarik untuk diikuti karena Tiongkok terus melakukan manuver untuk mengimbangi posisi AS dalam persaingan global. (G69) 


spot_imgspot_img

#Trending Article

Elon Musk, Puppet or Master?

Harapan investasi besar dari pebisnis Elon Musk tampak begitu tinggi saat disambut dan dijamu oleh pejabat sekaliber Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan hingga beberapa pejabat terpilih lain. Akan tetapi, sambutan semacam itu agaknya belum akan membuat CEO SpaceX hingga Tesla itu menanamkan investasi lebih di Indonesia.

Menguak Siasat Yusril Tinggalkan PBB

Sebuah langkah mengejutkan terjadi. Yusril Ihza Mahendra memutuskan untuk melepaskan jabatan Ketum PBB. Ada siasat apa?

Mengapa Xi-Putin Terjebak “Situationship”?

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin tampak begitu "mesra" dan bersama-sama deklarasi "lawan" AS.

Karier Politik Panjang Anies

Karier politik Anies Baswedan akan jadi pertaruhan pasca Pilpres 2024. Setelah kalah, Anies dihadapkan pada pilihan-pilihan untuk membuat dirinya tetap relevan di hadapan publik.

Megawati dan Misteri Patung Butet

Butet Kertaredjasa membuat patung “Melik Nggendong Lali” dan tarik perhatian Megawati. Mengapa patung itu berkaitan dengan PDIP dan Jokowi?

Mengapa Prabowo Semakin Disorot Media Asing? 

Belakangan ini Prabowo Subianto tampak semakin sering menunjukkan diri di media internasional. Mengapa demikian? 

Jebakan di Balik Upaya Prabowo Tambah Kursi Menteri Jadi 40

Narasi revisi Undang-Undang Kementerian Negara jadi salah satu yang dibahas beberapa waktu terakhir.

Rekonsiliasi Terjadi Hanya Bila Megawati Diganti? 

Wacana rekonsiliasi Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) mulai melempem. Akankah rekonsiliasi terjadi di era Megawati? 

More Stories

Surya Paloh Cemburu ke Prabowo?

NasDem persoalkan komentar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto karena dukung Anies di 2024. PDIP dianggap beda sikap bila terhadap Prabowo.

Airlangga Abaikan Giring?

PSI telah mendeklarasikan akan mengusung Ganjar Pranowo di Pilpres 2024. Mengapa Giring belum juga tawarkan Ganjar ke Airlangga?

Rocky Sebenarnya Fans Luhut?

Momen langka terjadi! Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan akhirnya bertemu langsung dengan pengkritik terpedasnya, yakni Rocky Gerung.