HomeDuniaRudal Korut: Propaganda Amerika?

Rudal Korut: Propaganda Amerika?

Kecil Besar

Uji coba rudal balistik yang dilakukan Korea Utara (Korut) dinilai hanya sekedar sensasi. Korut belum tentu menang melawan Amerika yang memiliki sistem anti rudal yang canggih. Dibalik semua itu, proyek ini diduga hanya sebagai propaganda Amerika untuk menekan negara-negara kecil yang merasa terancam dengan aksi Korut ini. Benarkah demikian?


Pinter Politik

[dropcap size=big]K[/dropcap]orea Utara untuk kedua kalinya meluncurkan rudal balistik antarbenua atau rudal ICBM pada Jumat malam, 28 Juli 2017. Peluncuran untuk uji coba  ini dipantau serius oleh Amerika Serikat, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan. Sebelumnya pada Jumat (28/7) lalu, Korut sukses menggelar uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) untuk kedua kalinya.

Kantor berita resmi Korut, KCNA melaporkan, rudal ICBM tersebut mengudara dengan kecepatan 47 menit, 12 detik. Selain itu, rudal tersebut berhasil mencapai ketinggian maksimum 3.724,9 kilometer dan terbang sejauh 998 kilometer. Uji coba tersebut diawasi langsung oleh pemimpin Korut Kim Jong-Un yang menegaskan, program senjata negeri komunis itu merupakan aset tak ternilai yang tak bisa diambil atau digantikan. Kim juga mengatakan uji coba tersebut membuktikan bahwa wilayah AS berada dalam jangkauan serangan rudal Korut. Melihat situasi ini, mungkinkah wilayah Amerika akan terkena hantaman rudal Korut?

Penghasilan Korut

Bank Sentral Korea Selatan (Korsel) mengatakan Korut memiliki beberapa sumber dana, termasuk dari praktik pemalsuan, penipuan asuransi, penjualan suku cadang rudal ke timur tengah dan terakhir adalah mengirim para pekerja ke luar negeri untuk diperas gajinya. Di Korut juga berkembang perekonomian rakyat melalui perdagangan pribadi yang berkembang sejak kelaparan besar di tahun 1990-an. Orang-orang kaya yang melakukan perdagangan ini kemudian ditarik pajak besar yang merupakan sanksi atau yang dikenal dengan nama “donju”. Dari sinilah salah satu sumber dana program nuklir Korut.

Sebagai tambahan, Korut juga menggenjot ekspor mineral mereka, kebanyakan batu bara, ke China yang merupakan mitra dagang utamanya. Laporan Royal United Services Institute (RUSI) di London menyebutkan bahwa Korut juga menjual persenjataan kecil kepada pembeli dari seluruh dunia. Basis data Center for North Korean Human Rights, lembaga data Korsel di Seoul mengatakan, Korut mengumpulkan US$200-300 juta per tahun dari gaji para pekerja yang mereka kirim ke luar negeri. “Korut juga memiliki “industri obat-obatan terlarang berskala besar,” kata Atlantic Council’s Manning. Selain itu, Korut dilaporkan berada di balik cybertheft dana sebesar US$ 81 juta dari rekening Bangladesh di New York Federal Reserve tahun lalu. Jaksa Penuntut Umum percaya tengkulak China membantu Korea Utara dalam pencurian. Melihat aliran dana Korut, apakah mungkin proyek Korut mampu disandingkan dengan Amerika yang memiliki modal yang jauh lebih besar?

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Sesumbar Kim Jong Un

Korea Utara (Korut) sesumbar bisa menghancurkan dunia. Setelah sukses melakukan uji coba rudal terbaru, Presiden Korut, Kim Jong Un menilai AS dan Korea Selatan menjadi khawatir dan ketakutan. Menurut KCNA, Kim Jong Un juga mengungkapkan keinginannya untuk terus mengembangkan persenjataannya lebih ke depan lagi sebagai “hadiah untuk AS” atas provokasi militer AS.

Presiden Korut tersebut juga mengatakan bahwa pengalaman uji coba misil yang dilakukan negaranya telah memberikan kemampuan bagi Korut untuk menyerang pasukan Amerika Serikat (AS) di wilayah Pasifik. Menurut Jong Un, uji coba misil adalah kejadian luar biasa bagi negara komunis itu karena dapat memperkuat kapasitas serangan nuklir. Pernyataan ini kelihatannya terlalu berlebihan karena mengingat Korut dan Amerika layaknya langit dan bumi.

Rudal Korut Propaganda Amerika
Presiden Korea Utara- Kim Jong Un (Foto: nypost.com)

Kekuasaan dan pengaruh Amerika di dunia tak perlu diragukan lagi. Oleh karena itu, aksi dari Korut ini hanyalah sensasi belaka. Korea Utara belum tentu bisa menembus pertahanan militer berlapis Amerika yang juga dilengkapi dengan teknologi anti rudal yang canggih. Maka, Korea di mata Amerika hanya setitik debu yang akan dengan mudah dikibaskan. Akan tetapi, mengapa Amerika ‘seolah-olah’membiarkan Korut menentangnya, padahal dari segi peralatan militer Amerika jauh lebih unggul? Apakah ini hanya sekedar skenario politik yang dilancar Amerika terhadap Korea Utara?

Gembar-gembor Amerika, Korsel dan Jepang

Uji coba rudal yang dilakukan oleh Korut menuai kritik dari Amerika, Korsel dan Jepang. Amerika yang diprediksi menjadi ‘sasaran’ dari rudal balistik Korut menilai tindakan Korut mengancam perdamaian dunia. Pihak Amerika sempat berusaha mendekati Korut dengan jalur damai, namun tidak digubris. Korut malah tetap menjalankan uji coba rudal bahkan sempat menghantam wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Jepang. Hal ini menyebabkan Jepang protes.

Tak hanya Amerika dan Jepang, pihak Korsel juga turut mengecam aksi Korut ini. Korsel yang letaknya sangat dekat dengan Korut merasa terancam dengan uji coba rudal tersebut. Korsel dan Jepang yang merupakan sekutu dari Amerika mulai menyusun rencana untuk mengantisipasi serangan rudal Korut. Melalui aliansi yang dibangun oleh ketiga negara ini diharapkan mampu meredam aksi dari Korut.

Peralatan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik Amerika Serikat (Foto: Wikipedia.org)

Untuk mengantisipasi aksi Korut sebelum kelewat batas, maka Amerika mengirim peralatan sistem pertahanan rudal tercanggih Korsel. Peralatan tersebut tiba di Seoul pada hari Rabu, 26 April 2017. Radar dan peralatan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) ditempatkan di wilayah tenggara Korea Selatan. THAAD didesain untuk mencegat dan menghancurkan rudal balistik jarak pendek dan menengah saat rudal itu dalam perjalanan menuju sasaran. Akan tetapi di balik semua itu, apakah kehadiran peralatan anti rudal merupakan solusi bagi Korsel? Atau hanya ‘akal-akalan’ Amerika untuk memanfaatkan momen kecemasan Korsel untuk mengeruk ‘kantong’ Korsel? Lalu bagaimana dengan Jepang?

Baca juga :  Menguak The Economist

Selain melindungi Korsel, Amerika juga telah berjanji untuk melindungi Jepang dari ancaman rudal Korut. Kecemasan atas ancaman rudal Korut, justru memberikan keuntungan bagi Perusahan Oribe Seiki Seisakusho yang selama ini menjual bunker yang berfungsi sebagai pelindung terhadap serangan nuklir. Banyak warga Jepang yang cemas terhadap ancaman rudal Korut mulai berlomba-lomba membeli produk tersebut. Harga 1 unit bunker untuk kapasitas 13 orang adalah sekira 25 juta yen atau hampir Rp 3 miliar. Harga bunker yang dijual perusahaan tersebut kendati mahal namun laris manis. Bunker menjadi sebuah bisnis yang sangat menggiurkan. Mungkinkah ada keterlibatan Amerika di balik semua ini? Ataukah ini salah satu tujuan politis-ekonomis Amerika di balik kisruh ancaman rudal Korut yang mencemaskan warga negara Korsel dan Jepang? Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Bunker yang dibuat oleh Perusahan Oribe Seiki Seisakusho (Foto: media.wired.com)

Bagaimana Dengan Indonesia?

Indonesia secara terang-terangan mengecam aksi uji coba rudal balistik Korut. Pihak pemerintah Indonesia menilai bahwa tindakan yang dilakukan Korut  tak sejalan dengan misi perdamaian dan stabilitas dunia. Meski begitu, Indonesia meminta semua pihak menahan diri dan mengedepankan upaya-upaya diplomasi serta dialog  untuk menciptakan situasi yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Terlepas dari segala perhatian Indonesia terhadap perdamaian dunia, Indonesia sebenarnya menyimpan rahasia tersendiri. Melihat hingga kini Indonesia belum memiliki teknologi nuklir yang canggih dan juga pengaruh Amerika yang masih kuat dalam sistem politik dan perekonomian Indonesia, maka jalan satu-satunya adalah mencari posisi aman. Tentu saja pasti ada kecemasan atas bahaya rudal, maka tidak menutup kemungkinan bila kritik Indonesia atas Korut sebagai bentuk dukungan tak langsung kepada Amerika.

Sama halnya dengan Indonesia, Jepang dan Korsel tak bisa berbuat apa-apa, selain mendukung Amerika sebagai sekutu. Dengan demikian, ucapan sesumbar Kim Jong Un yang ingin berperang dengan Amerika hanya sekedar sensasi, sebab seandainya perang terjadi pun Korut sudah pasti akan kalah karena teknologi militernya belum secanggih Amerika. Oleh karena itu, ada kemungkinan kisruh di semenanjung Korea merupakan kelanjutan proyek militer Amerika di Timur tengah. Bagaimana pendapat anda? (dari berbagai sumber/K-32)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

PDIP dan Gerindra Ngos-ngosan

PDI Perjuangan dan Gerindra diprediksi bakal ngos-ngosan dalam Pilgub Jabar nanti. Ada apa ya? PinterPolitik.com Pilgub Jabar kian dekat. Beberapa Partai Politik (Parpol) pun mulai berlomba-lomba...

Arumi, ‘Srikandi Baru’ Puan

Arumi resmi menjadi “srikandi baru” PUAN. Maksudnya gimana? PinterPolitik.com Fenomena artis berpolitik udah bukan hal baru dalam dunia politik tanah air. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk...

Megawati ‘Biro Jodoh’ Jokowi

Megawati tengah mencari calon pendamping Jokowi. Alih profesi jadi ‘biro jodoh’ ya, Bu? PinterPolitik.com Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu laksana lilin yang bernyala. Lilin...