HomeNalar PolitikRaffi Ahmad, Bumerang Semiotika Politik Jokowi?

Raffi Ahmad, Bumerang Semiotika Politik Jokowi?

Kecil Besar

Setelah mengikuti vaksinasi perdana bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi), selebritas Raffi Ahmad yang digadang-gadang menjadi representasi anak muda justru menuai polemik. Ini terjadi lantaran viralnya video Raffi yang merekam dirinya saat berpesta tanpa mengenakan masker. Apakah fenomena ini merupakan pertanda gagalnya politik simbol Jokowi?


PinterPolitik.com

Siapa yang tak kenal artis Raffi Ahmad. Ya, aktor yang satu ini memang beken di kalangan anak muda masa kini. Hal ini terbukti dari banyaknya jumlah pengikut di akun-akun media sosial milik Raffi. 

Sebut saja Instagram. Di platform berbagi foto milik Facebook tersebut Raffi tercatat memiliki nyaris 50 juta pengikut. Selain itu, audiens Ranz Entertainment, channel YouTube yang Ia kelola pun jumlahnya juga cukup fantastis, yakni mencapai 19 juta orang.

Besarnya jumlah fans Raffi Ahmad ini membuat dirinya menjadi sosok yang paling menyita perhatian publik. Ia bahkan kerap dinobatkan sebagai salah satu selebritas dengan jumlah kekayaan terbanyak di Indonesia. 

Tak hanya bagi anak muda, kesohoran Raffi pun agaknya juga membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepincut. Beberapa waktu lalu, pemerintah mengundang Raffi untuk menjadi salah satu penerima vaksin Covid-19 perdana di Istana negara dan mendapatkan kehormatan disuntik setelah kepala negara. 

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Firman Kurniawan mengatakan dalam dunia komunikasi, pengaturan penerima vaksin mulai dari Presiden, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), perwakilan anak Muda, tokoh semua agama, Kepala BPOM, Panglima TNI, dan Kapolri menunjukkan adanya semiotika vaksinasi yang tengah dimainkan Jokowi.

Penyuntikan Presiden, Panglima TNI, dan Kapolri yang divaksin pada kesempatan pertama dilakukan untuk menjawab tuduhan vaksin tidak aman. Sementara keraguan terhadap status kehalalan, disimbolkan oleh divaksinnya para tokoh agama.

Soal khasiat (efikasi) Sinovac sebesar 65,3 persen diwakili oleh kehadiran Kepala BPOM. Sementara anak muda sebagai kelompok yang menduduki komposisi cukup besar di dalam populasi diwakili oleh Raffi Ahmad, yang punya pengagum dan pengikut media sosial dalam jumlah sangat banyak.

Kendati begitu, jauh panggang dari api, Raffi justru menuai polemik setelah mengikuti vaksinasi perdana tersebut. Sebab, malam hari setelah seremonial itu, Ia tertangkap kamera berada di sebuah pesta tanpa mengenakan masker. 

Ini menjadi ironi tersendiri, sebab Presiden Jokowi telah berpesan bahwa protokol kesehatan harus terus ditegakkan meski program vaksinasi sudah dimulai. Akibatnya, Raffi menjadi bulan-bulanan publik, termasuk dari kolega sesama artis sendiri. Ia pun meminta maaf kepada Presiden Jokowi dan masyarakat terkait kejadian tersebut.  

Namun terlepas dari polemik tersebut, yang kemudian menjadi menarik untuk dipertanyakan adalah rasionalisasi di balik semiotika vaksinasi yang dilakukan pemerintah. Apakah strategi semacam ini efektif untuk mempersuasi publik agar mau mengikuti program vaksinasi sebagaimana diharapkan Istana?

Semiotika Vaksinasi

Salah satu model semiotika paling populer yang kerap digunakan untuk merepresentasikan sebuah tanda dikemukakan oleh filsuf asal Prancis, Charles Sanders Peirce. Dalam teorinya itu, Ia memperkenalkan adanya tiga elemen penting yang membentuk sebuah tanda. 

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Pertama, adanya representamen atau bentuk yang berfungsi sebagai tanda. Kedua adanya objek, yaitu sesuatu yang direpresentasikan. Ketiga, adanya interpretan yaitu interpretasi seseorang tentang tanda, biasanya berupa pemikiran yang ada pada otak manusia, dapat juga berupa sesuatu yang nyata di luar tanda. 

Fungsi dan kegunaan dari suatu tanda itulah yang menjadi pusat perhatian. Tanda sebagai suatu alat komunikasi merupakan hal yang teramat penting dalam berbagai kondisi serta dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek komunikasi.

Penggunaan tanda nyatanya juga memainkan peran cukup penting dalam konteks politik. Graeme Gill dalam tulisannya Symbolism and Politics juga pernah menjabarkan signifikansi politik simbol bagi penguasa. Ia menyebut bahwa untuk dapat berhasil mencapai makna dan tujuannya, simbol-simbol yang ada harus dapat beresonansi dengan perspektif masyarakat.

Bagi penguasa, simbol itu harus dapat selaras dengan dasar intelektual dan emosional masyarakat serta diarahkan untuk mendapatkan dukungan bagi rezim, plus, menjadi elemen kunci bagi proses politik yang berkelanjutan.

Dalam konteks semiotika vaksinasi Jokowi, keterlibatan Raffi Ahmad tampaknya didudukkan sebagai representamen. Ia berfungsi untuk merepresentasikan objek yaitu golongan anak muda. Maka interpretan yang coba disampaikan oleh Jokowi adalah bahwa anak muda tak perlu ragu untuk menerima vaksin Covid-19 karena telah teruji keamanannya.

Namun sayangnya, tersebarnya video Raffi Ahmad yang berpesta tanpa mengenakan masker berpotensi mengubah interpretan yang diinginkan pemerintah. Dengan menyaksikan video tersebut, maka publik bisa saja memaknai bahwa setelah mendapatkan vaksin, seseorang tak perlu lagi menjalankan protokol kesehatan. 

Ini justru dapat menjadi kontraproduktif terhadap program vaksinasi di mana menurut keterangan para pakar kesehatan menyepakati bahwa vaksin memerlukan waktu untuk dapat merangsang kekebalan melawan virus. Untuk itu seseorang yang sudah divaksinasi, apalagi baru mendapat dosis pertama, tetap harus mematuhi protokol kesehatan.ย 

Kendati dalam derajat tertentu, penggunaan tanda atau simbol memang dianggap efektif dalam komunikasi politik, namun kenyataannya kasus Raffi Ahmad ini membuktikan metode ini tak selalu berhasil. Lantas apa kira-kira yang menyebabkan hal tersebut terjadi?

Gagalnya Politik Simbol Jokowi?

Tak hanya Jokowi, sejumlah pemimpin dunia juga kerap mengandalkan tanda dan simbol dalam setiap kegiatan politiknya. Hal ini dikarenakan penggunaan bahasa semiotik seperti simbol, membuat pesan yang disampaikan dinilai dapat jauh lebih efektif dan politis.

Kanselir Jerman Angela Merkel, misalnya, fotonya saat bersalaman dengan salah satu korban Holocaust Nazi yang selamat, Nelly Toll, bercerita banyak bagi rakyat Jerman. Sebab di sebelah mereka, terpampang lukisan dua gadis kecil korban kekejaman Nazi dulu.

Begitu juga perjalanan mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama yang datang ke Kuba melalui Laut Karibia pada Maret 2016, merupakan simbol dimulainya kembali persahabatan dua negara yang sebenarnya saling bertetangga ini. 

Pada acara-acara internasional, posisi berdiri seorang pemimpin pun dapat dijadikan simbol seberapa penting negara tersebut. Begitu juga dengan jabat tangan para pemimpin, cara mereka menjabat juga dapat menyiratkan kekuasaan, misalnya saat Presiden AS Donald Trump yang pernah terlihat enggan berjabat tangan dengan Merkel.

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Kendati demikian, betapa pun kuatnya suatu tanda direpresentasikan, interpretasi setiap orang terhadap suatu simbol bisa saja berbeda-beda. Perbedaan interpretasi ini kemudian dapat berujung pada perdebatan. 

Kolumnis John H. Casada dalam tulisannya yang berjudul Symbols Mean Different Things to Different People menyindir rekan-rekan kolumnisnya yang kerap menginterpretasikan simbol-simbol tertentu dalam publikasi-publikasinya. 

Ia mengkritik para kolumnis-kolumnis tersebut yang dinilainya berlebihan dalam menerjemahkan suatu simbol, seolah-olah penerawangan mereka itu yang paling konkret di mata publik. Padahal, menurutnya simbol dapat dimaknai berbeda-beda. Misalnya seseorang menginterpretasikan suatu objek sebagai simbol kebebasan, namun bagi orang lain kebebasan merupakan suatu bentuk ketidakadilan.  

Senada, Carl Jung dalam bukunya yang berjudul Man and His Symbols juga mengatakan bahwa sebuah kata atau gambar bersifat simbolis jika mengandung makna yang lebih dari sekadar arti yang jelas dan langsung atau tersirat. Namun Kesulitan dari simbol, termasuk yang paling kuat sekalipun adalah bahwa apa yang tersirat dapat dilihat berbeda dari orang ke orang. 

Bahkan, menurutnya, beberapa simbol mengandung unsur yang dapat berubah-berubah dan disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya pergeseran budaya atau bahkan orang yang menggunakan simbol tersebut. 

Dalam konteks pemerintah, patut dicurigai bahwa telah terjadi perbedaan interpretasi dalam semiotika vaksinasi yang ingin coba dibangun Jokowi. Mungkin tujuan Istana menggunakan Raffi adalah memang untuk mendorong anak muda untuk mau divaksinasi.ย ย 

Namun demikian, pada kenyataanya artis yang bersangkutan sendiri sepertinya tidak menangkap bahwa dirinya tengah dijadikan simbol oleh pemerintah. Akibatnya, bukannya pesan itu tersampaikan, malah justru menimbulkan polemik seperti yang terjadi saat ini. 

Michael Denzel Smith dalam tulisannya yang berjudul The Seductive Danger of Symbolic Politics pun menyebut bahwa simbol sekuat apapun itu bisa saja menjelma menjadi distraksi. Simbol juga dapat mengecoh manusia untuk berpikir bahwa segalanya lebih baik dari keadaan sebenarnya. 

Berangkat dari sini, maka dapat dikatakan membangun semiotika untuk meredakan polemik terkait vaksinasi sepertinya merupakan strategi yang kurang tepat. Sebab, simbol membutuhkan interpretasi untuk dapat dimaknai. Sementara kemampuan manusia untuk menginterpretasikan simbol berbeda-beda, sehingga berpotensi besar terjadi diferensiasi interpretan di masyarakat. 

Pada akhirnya, berhasil tidaknya strategi Jokowi yang melibatkan banyak pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat dalam seremonial vaksinasi perdana kemarin hanyalah waktu yang sanggup menjawabnya. 

Namun setidaknya, di titik ini, kiranya bisa disepakati bahwa pemerintahan Jokowi seharusnya lebih fokus untuk memperbaiki komunikasi publik, mengedepankan transparansi, dan juga menggencarkan sosialisasi dan edukasi, ketimbang menggunakan simbol tanda yang belum tentu dapat ditangkap oleh semua orang. (F63)


โ–บ Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Dibenturkan, Nadiem Tetap Tak Terbendung?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim kembali mendapat sorotan. Kali ini draf Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 yang tak mencantumkan frasa agama dipersoalkan oleh...

Benci Produk Asing, Anomali Nasionalisme Jokowi?

Pernyataan terbaru Presiden Jokowi soal benci produk asing terus menuai polemik. Banyak pihak menilai Presiden punya standar ganda karena pemerintah sendiri masih melakukan impor...

Puan Sulit Taklukkan Ganjar?

Sejumlah analis dan pengamat memprediksi PDIP akan mengusung Prabowo-Puan dalam Pilpres 2024 mendatang. Namun prospek tersebut kini terancam dengan tingginya elektabilitas Gubernur Jawa Tengah,...