Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Prabowo: Altruis di Tengah Corona?

Prabowo: Altruis di Tengah Corona?


A43 - Friday, April 24, 2020 19:00
Prabowo Corona Alkes

0 min read

Di tengah pandemi virus Corona (Covid-19), Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dinilai jarang bersuara. Meski begitu, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli sebutkan bahwa Prabowo telah lakukan sebuah upaya untuk menghemat uang negara.






PinterPolitik.com
“Waking up to headlines filled with devastation again, my heart is broken” – Shawn Mendes, penyanyi asal Kanada

Siapa yang tidak merasa resah di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) ini? Selain resah dan sedih karena tidak bisa mudik, pulang kampung, atau apalah itu, sebagian masyarakat juga resah dengan keadaan yang tak menentu.

Rasa geram pun pasti ikut menyertai. Soal kelangkaan alat kesehatan (alkes) misalnya, ternyata – mengacu pada pernyataan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir – disebabkan oleh para mafia impor yang diduga bercokol di tingkat lokal dan internasional.

Tak hanya itu, rasa geram masyarakat mungkin juga mengarah pada keputusan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk tetap melanjutkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Lapangan Kerja (Ciptaker) yang biasa disebut sebagai Omnibus Law.

Belum lagi, ada satu persoalan baru yang terjadi beberapa waktu lalu. Seorang aktivis dan peneliti kebijakan publik yang bernama Ravio Patra ditangkap setelah diduga ada pihak yang meretas akun WhatsApp dan menyebarkan pesan-pesan yang bersifat menghasut.

Bisa jadi, keresahan dan ketidakpuasan masyarakat malah memuncak dengan peristiwa-peristiwa seperti ini. Mungkin, seperti lirik lagu Shawn Mendes dan Khalid yang berjudul “Youth” di awal tulisan, berita-berita seperti ini malah membuat kita merasa sedih dan hopeless.

https://twitter.com/prabowo/status/1252964850122153984

Namun, meski banyak fakta yang meresahkan terjadi di luar sana, ada beberapa kabar baik yang sebenarnya turut terjadi di tengah minimnya harapan ini. Kabar-kabar baik seperti ini datang dari berbagai pihak, seperti para tenaga medis yang tetap rela bekerja keras dan selebriti yang mengadakan pengumpulan dana untuk membantu mengatasi persoalan krisis akibat pandemi.

Selain itu, kabar baik juga datang dari Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto. Meski jarang terlihat dan bersuara di publik selama pandemi ini berlangsung, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyebutkan bahwa Prabowo secara diam-diam memutuskan untuk menolak menandatangani proyek pembelian alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang dianggap di-mark-up sampai lebih dari 10 persen.

Tak hanya itu, baru-baru ini, Prabowo kembali aktif di media sosial guna mengunggah taklimat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra. Menhan menyerukan agar para relawan dan anggota partainya dapat bekerja sama guna memberikan sumbangsih kepada masyarakat di tengah pandemi.

Meski begitu, sikap Prabowo ini tetap menyisakan beberapa pertanyaan. Mengapa Menhan melakukan kebijakan dan imbauan tersebut? Lantas, bagaimanakah dampaknya terhadap dinamika politik ke depannya?

Altruisme?


Apa yang dilakukan Prabowo baru-baru ini bisa jadi merupakan bagian dari prinsip moral yang disebut sebagai altruisme. Prinsip ini didasarkan atas pentingnya kebahagiaan orang lain mendahului kebahagiaan diri sendiri.

Stephen G. Post, Lynn G. Underwood, Jeffrey P. Schloss, dan William B. Hurlbut dalam buku mereka yang berjudul Altruism and Altruistic Love menjelaskan bahwa altruisme berasal dari kata “alter” yang berarti “orang lain” dalam bahasa Latin.

Istilah ini berasal dari sosiolog yang bernama Auguste Comte. Bapak sosiologi satu ini menggunakan istilah “altruisme” sebagai antonim bagi kata “egoisme”.

Altruisme dalam konteks perilaku manusia menempatkan perhatian pada pengalaman moral yang dialami orang-orang lain, khususnya ketika orang itu tengah dalam situasi yang sulit dan yang lebih membutuhkan.

Prinsip moral seperti ini berlaku menembus batas kepentingan diri sendiri (self-interest). Individu atau kelompok dengan prinsip ini tidak lagi menempatkan diri sebagai hal yang paling penting dan tidak lagi menempatkan pentingnya orang lain berdasarkan kepentingan egoistik.

[bctt tweet="Prinsip altruisme didasarkan atas pentingnya kebahagiaan orang lain mendahului kebahagiaan diri sendiri." username=""]

Penegakan prinsip moral altruis seperti ini dianggap pernah dilakukan oleh Presiden ke-31 Amerika Serikat (AS) Herbert Hoover. Politisi Partai Republik disebut-sebut dengan istilah “the Great Humanitarian”.

Ketika Perang Dunia I meletus, terjadi pertempuran antara Inggris dan Jerman di wilayah Belgia – membuat banyak warga Belgia dan Jerman terjebak dalam medan pertempuran. Dengan status AS yang masih netral kala itu, Hoover membentuk dan menjadi ketua dalam Commission for Relief in Belgium (CRB) guna membantu warga yang terjebak.

Agar inisiasinya ini berhasil, Hoover yang kala itu hanya seorang pebisnis harus berdiplomasi dengan negara-negara yang berperang. Dengan dibantu para relawan, CRB akhirnya berhasil menyalurkan bahan pangan ke 2.500 desa dan kota di Belgium pada tahun 1914.

Persepsi humanitarian ini sepertinya tetap dibawa oleh Hoover ketika menjadi presiden pada tahun 1929. Di tengah situasi negara yang dihantui oleh Great Depression (Depresi Besar), Hoover mendorong prinsip dan arah kebijakan yang disebutnya dengan istilah “voluntarisme”.

Berkaca pada apa yang dilakukan Hoover di AS ini, apakah Prabowo juga melakukan hal serupa? Lantas, bagaimana dampaknya terhadap dinamika politik di masa mendatang?

Dampak Politik?


Bisa jadi, layaknya Hoover di AS, Prabowo juga ingin mengedepankan prinsip moral altruis. Pasalnya, penghematan uang negara yang disebut-sebut dilakukan oleh Prabowo boleh jadi memang esensial bagi penanganan pandemi Covid-19.

Bila mengacu kembali pada penjelasan Post dan rekan-rekan penulisnya, altruisme diikuti dengan minimnya kepentingan egoistik. Dalam tulisan mereka, dijelaskan bahwa seorang altruis memiliki intensi dan tindakan yang didasarkan pada kepentingan orang lain, bukan didasarkan pada kebaikan diri sendiri atau pengakuan publik – meski manfaat seperti ini tetap hadir menyertai.

Hal ini mungkin dilakukan oleh Prabowo dengan tidak mengumumkan kebijakan seperti ini kepada publik. Secara diam-diam, mengacu pada klaim Rizal Ramli, keputusan Prabowo untuk tidak menandatangani proyek dengan mark-up berlebihan itu telah menghemat uang negara hingga Rp 50 triliun.

Tentunya, angka tersebut tidak kecil. Boleh jadi, penghematan uang negara ini menjadi penting bagi kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi.

https://www.instagram.com/p/B_WmuIwBRi4/

Pasalnya, pemerintah juga perlu melakukan kebijakan-kebijakan paket stimulus guna membantu masyarakat yang secara ekonomi sangat terdampak oleh pandemi Covid-19. Bahkan, pemerintah harus menaikkan batas defisit anggaran  melebihi tiga persen dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020.

Bila keputusan Prabowo ini dapat berdampak pada penghematan uang negara, bagaimana dengan dampak politiknya?

Boleh jadi, apa yang dilakukan oleh Prabowo sekarang dapat berdampak pada dinamika politik di masa mendatang. Mungkin, mantan Danjen Kopassus ini dapat saja mendapatkan citra tertentu – layaknya Hoover di AS – dalam Pilpres 2024 nanti.

Hal ini bisa jadi benar bila didasarkan pada penjelasan Richard Jankowski dalam tulisannya yang berjudul Buying a Lottery Ticket to Help the Poor bahwa altruisme dapat memengaruhi keputusan pemilih dalam Pemilu. Dari sini, dapat dipahami bahwa keputusan untuk memilih tidak hanya didasarkan pada model perhitungan yang rasional.

Biasanya, sifat altruis pemilih ini didasarkan pada preferensi kebijakan kandidat yang ditujukan untuk membantu orang-orang yang lebih membutuhkan. Jankowski meyakini bahwa banyak orang yang memiliki sifat altruis seperti ini – layaknya Bunda Teresa – yang mendedikasikan hidupnya demi kebaikan orang lain.

Pengaruh altruisme dalam Pemilu ini juga diuji oleh Jankowski dalam tulisannya yang lain yang berjudul Altruism and the Decision to Vote. Dengan menggunakan rangkaian data milik National Election Survey (NES), Jankowski menyebutkan bahwa setidaknya altruisme menjadi salah satu determinan penting.

Mengacu pada penjelasan Jankowski ini, bisa jadi, Prabowo mendapatkan keuntungan tertentu dengan sikap altruistisnya di tengah pandemi ini. Bukan tidak mungkin pandemi Covid-19 ini menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat pada tahun 2024 nanti.

Meski begitu, kemungkinan ini belum tentu pasti terjadi. Hal yang jelas adalah – bila klaim Rizal Ramli benar adanya – keputusan Prabowo dapat membantu pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

Selain itu, sikap altruis seperti ini juga sulit untuk diukur bagaimana kepentingan egoistik turut memengaruhi atau tidak. Mungkin, Prabowo sendiri yang mengetahuinya. Menarik untuk diikuti terus gerak-gerik Menhan dalam beberapa waktu ke depan ini. (A43)

https://www.youtube.com/watch?v=55wm9daHWhs

? Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait