HomeNalar PolitikPerang Rente Nasdem vs Gerindra di NTT?

Perang Rente Nasdem vs Gerindra di NTT?

Kecil Besar

Diklaim memiliki potensi bisnis yang menjanjikan, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi target para investor untuk berinvestasi. Selain itu, dunia politik Indonesia, terutama NTT tengah digoncang oleh pernyataan Viktor Laiskodat yang dinilai menyudutkan Gerindra dan partai-partai oposisi lainnya. Di balik Pidato Viktor Laiskodat, apakah diselubungi kepentingan politis dan bisnis?


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]W[/dropcap]akil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Sodik Mujahid mengomentari pidato politikus Nasdem Viktor Laiskodat terkait empat partai (Gerindra, PAN, PKS dan Demokrat) yang ingin membuat negara khilafah. Dia menilai pernyataan Viktor tidak menunjukkan sikap Pancasilais. “Jangan manipulasi opini menjadi terbalik, Viktor bela Pancasila dan yang melawan Viktor anti-Pancasila. Ini terbalik. Cara dan apa yang dikatakan Victor itulah yang tidak Pancasilais,” ujar Sodik di Jakarta, Selasa (8/8/2017). Melihat hal ini, apa yang menyebabkan Viktor ‘berani’ berbicara demikian? Selain karena kepentingan politis, apakah turut terselip kepentingan bisnis terhadap potensi alam di NTT? Politik rente menguasai NTT?

Perang Rente Nasdem vs Gerindra di NTT
Vicktor Laiskodat (Foto: politiktoday.com)

Komoditas sumber daya alam yang beragam menyebabkan NTT diminati banyak investor dari dalam negeri maupun mancanegara. Saat ini sejumlah investor sedang berinvestasi di daerah itu, diantaranya, tambak garam di Kabupaten Malaka dan Timor Tengah Selatan oleh PT Inti Jaya Jakarta.

Ada juga pabrik tebu yang siap dibangun di Kabupaten Sumba Timur dan rencana pembangunan perkebunan cengkeh di Kabupaten Sumba Barat Daya. Selain itu, akan dibangun pabrik perpipaan di kawasan Industri Bolok Kabupaten Kupang dan pabrik minyak dan gas di Pantai Selatan Kabupaten TTS. Rupanya kiprah para investor di NTT telah dimulai sejak zaman Soeharto. Para ‘konglomerat hitam’ ini mengeruk bumi NTT untuk kepentingan sepihak tanpa memperhatikan nasib masyarakat. Mungkinkah para investor masa kini yang berkiprah di NTT merupakan ‘titisan’ dari para konglomerat hitam Orde Baru (Orba)?

Dari Robby Kette Lalu CSIS Hingga Setnov

Geliat para konglomerat hitam telah terendus sejak zaman Soeharto. Pembangunan di Timor Leste turut dipengaruhi oleh pendekatan militer. Selain itu, produksi kopi Timor timur menjadi salah satu peluang para ‘cukong’ untuk mengais rejeki.Produksi kopi dimonopoli oleh PT Denok Hernandes Indonesia, sedangkan untuk penyulingan minyak cendana ditangani oleh PT Scent Indonesia. Selain itu, tambang marmer dikelolah oleh PT Marmer Timor Timur. Ketiga perusahaan ini merupakan anak perusahaan dari PT Batara Indra Group yang didirikan oleh Robby Kette pada tahun 1979.

Robby Kette atau Robby Sumampouw (berbaju garis-garis biru) saat mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Solo (Foto: solopos.com)

PT Batara Indra Group ini berkongsi dengan PT Denok Hernandes Indonesia. PT Denok didirikan oleh tiga serangkai, Benny Moerdani, Dading Kalbuadi dan Sahala Rajagukguk. Mereka turut dibantu oleh dua bersaudara dari suku Tionghoa, Robby dan Hendro Sumampouw untuk membiayai operasi militer di Timor Leste dengan memonopoli pembelian dan ekspor kopi. Kala itu, Benny dibantu oleh Markus Wanandi, seorang pastur di Timor Leste yang juga adik dari orang Centre for Strategic and International Studies (CSIS) – Yusuf Wanandi. Hal ini menyebabkan proyek-proyek pembangunan di Timor Leste diatur oleh dan untuk tentara saja, tanpa memperhatikan mutu kehidupan masyarakat setempat.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2
Yusuf Wanandi – salah satu pendiri CSIS (Foto: model-apec.org)

Sekitar tahun 1994, setelah jatuhnya Jenderal Benny Murdani dan munculnya Mayor Jenderal Prabowo Subianto sebagai penjaga keamanan keluarga Suharto, bisnis anak-anak Suharto mulai berkembang pesat di koloni Indonesia ini. Tutut sendiri berhasil menyingkirkan Robby Sumampouw dari bisnis kopi dan tambang marmer di Manatuto. Saudara dan Kerabat Tutut yang lain juga mulai merambah Timor Leste sehingga gerakan mereka lebih dikenal sebagai ‘P3 (Putri Putri Presiden)’. Selain itu, CSIS didapuk Soeharto sebagai ‘tanki pemikirnya’.

Sebagai organisasi intelektual yang didirikan oleh Tionghoa non-muslim, tak jarang sering dikritik oleh kelompok-kelompok Islam dan pribumi atas kebijakan yang diambil oleh Orde Baru. Beredar juga rumor bahwa CSIS digunakan Amerika terkait penggulingan Soekarno, Soeharto dan juga mengenai amandemen UUD 1945 yang berbau neoliberalisme. Selain itu, ada juga isu tentang keterlibatan CSIS saat Pilpres 2014. Isu yang sempat berhembus saat itu adalah mengenai dukungan Sofyan Wanandi – ketua AKPINDO – terhadap Jusuf Kalla (JK) sebagai calon wakil presiden mendampingi Jokowi.

Kedekatan JK dan Sofyan Wanandi juga meresahkan kalangan kelas menengah Muslim kota dan kaum santeri desa secara umum. Bahkan menimbulkan kecurigaan bahwa JK dan Soyan Wanandi adalah semacam ‘konco’ dalam ekonomi-politik yang membuat golongan Muslim Jawa sangat curiga atas maksud-maksud ekonomi-politik keduanya. ”Hal itu mencemaskan atau menimbulkan prasangka di kalangan Muslim yang trauma dengan politik CSIS di zaman orba. Sofyan Wanandi (Liem Bian Khoen) dulu orang Golkar/CSIS dan sekutu Cendana yang kemudian melawan Soeharto pada tahun-tahun terakhirnya. Di masa kini, Setya Novanto (Setnov) dianggap sebagai pengusaha yang mengambil keuntungan pribadi, baik secara ekonomi maupun politik dari NTT.

Setnov yang merupakan anggota DPR yang berasal dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) II yang meliputi wilayah Pulau Timor, Rote, Sabu, dan Sumba. Setelah terpilih menjadi anggota DPR, ia pun membangun sejumlah asetnya di NTT. Berikut adalah aset Setya di NTT yakni:

Baca juga :  Politik Lucky Number Prabowo

Yang pertama, Novanto Center, di wilayah Kelapa Lima, Kota Kupang. Merupakan sebuah gedung dua lantai yang dilengkapi fasilitas kolam renang. Di bagian belakang Novanto Center, ada juga sebuah rumah singgah ketika Setnov berkunjung ke NTT.

Yang kedua, rumah tenun bagi warga NTT di Kelurahan Maulafa yang dikelolah oleh istrinya, Deisti Novanto.

Yang ketiga, Hotel Bintang Lima di Labuan Bajo. Hotel bintang lima di lahan seluas 3,5 hektare di Pantai Pede, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Nilai investasinya mencapai Rp 120 miliar. Perusahaan milik Setya, PT Saran Investama Manggabar, menjadi pemenang tender pembangunan lahan di Pantai Pede itu. Namun, pemerintah dan masyarakat setempat menolak rencana pembangunan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah setempat akan menyewakan lahan itu ke Setya selama 25 tahun dengan nilai sewa sekitar Rp 1,3 miliar.

Yang keempat, sentra agrobisnis di Manusak, Kabupaten Kupang. Yang kelima, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kawasan Industri Bolok, Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dan yang keenam, izin pembangunan pabrik garam di NTT yang telah dikantongi Setnov. Sepak terjang para konglomerat di NTT sejak zaman Soeharto hingga kini menjadi bukti bahwa politik rente sedang melanda NTT. Sampai kapan akan seperti ini?

Setya Novanto (Foto: setnov.co.id)

Bagaimana Nasib NTT?

Tak bisa dipungkiri bahwa persoalan politik, agama dan bisnis di Indonesia saling kait-mengait. Kehadiran para Konglomerat hitam turut memengaruhi peta politik dan sistem perekonomian Indonesia. Di NTT, sosok Robby Kette yang merupakan ‘anak kesayangan’ Benny Moerdani, CSIS yang menjadi ‘processornya’ Soeharto dan Setnov ’sang flamboyan’ dapat dijadikan sebagai sampel atas praktik konglomerat hitam. Bukan lagi demokrasi melainkan oligarki yang sarat dengan politik neoliberalisme (neolib).

Komentar Viktor Laiskodat yang menyudutkan kubu Gerindra, sudah pasti tidak etis, namun apakah di baliknya juga ada persaingan berburu rente ekonomi antara Nasdem dan Gerindra? Mengenai silang pendapat yang terjadi di antara kedua partai ini, kira-kira siapa yang akan keluar sebagai pemenangnya? Selain itu, setelah melihat sepak terjang para konglomerat di era Soeharto hingga Setnov, siapakah sosok politisi dan orang kaya berikutnya yang akan menjalankan politik rente di NTT? Bagaimana menurut anda? (dari berbagai sumber/ K-32).

 

 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

PDIP dan Gerindra Ngos-ngosan

PDI Perjuangan dan Gerindra diprediksi bakal ngos-ngosan dalam Pilgub Jabar nanti. Ada apa ya? PinterPolitik.com Pilgub Jabar kian dekat. Beberapa Partai Politik (Parpol) pun mulai berlomba-lomba...

Arumi, ‘Srikandi Baru’ Puan

Arumi resmi menjadi “srikandi baru” PUAN. Maksudnya gimana? PinterPolitik.com Fenomena artis berpolitik udah bukan hal baru dalam dunia politik tanah air. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk...

Megawati ‘Biro Jodoh’ Jokowi

Megawati tengah mencari calon pendamping Jokowi. Alih profesi jadi ‘biro jodoh’ ya, Bu? PinterPolitik.com Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu laksana lilin yang bernyala. Lilin...