HomeNalar PolitikPDIP Ulangi Kejatuhan Demokrat?

PDIP Ulangi Kejatuhan Demokrat?

Kecil Besar

Berhasil memenangkan Pemilu sebanyak dua dan menempatkan kadernya sebagai presiden dalam dua Pilpres terakhir, tentu telah membuat PDIP menasbihkan diri sebagai partai paling berkuasa dan berpengaruh saat ini. Akan tetapi, partai banteng ini nampaknya tidak dapat berpuas diri terlalu dini. Pasalnya, kasus serupa, di mana Partai Demokrat yang juga sempat begitu berkuasa, nyatanya tidak memiliki pengaruh yang berarti saat ini. Lantas, mungkinkah PDIP akan mengulangi sejarah Demokrat tersebut?


PinterPolitik.com

“Di Bawah Lindungan Tirtayasa”, begitulah judul tajuk laporan investigasi yang dimuat oleh Majalah Tempo terkait kasus korupsi yang turut menyeret nama Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP, Hasto Kristiyanto. Disebutkan dalam laporan tersebut bahwa Hasto disinyalir telah berlindung di dalam Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ketika hendak “diciduk” oleh tim penyidik KPK beberapa waktu lalu.

Menariknya, Tempo juga menulis bahwa pimpinan KPK ternyata tidak berani untuk menetapkan salah satu jenderal partai banteng tersebut sebagai tersangka.

Padahal, menurut keterangan Saeful Bahri, yang disinyalir sebagai salah satu staf dan orang terdekat Hasto, uang pelicin yang akan diberikan kepada komisioner KPU, Wahyu Setiawan ternyata berasal dari Hasto sendiri.

Tentu saja, atas dalih pengakuan tersebut, sudah menjadi bukti awal yang cukup untuk menyeret salah satu orang kepercayaan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri tersebut.

Kasus Hasto ini tentu menarik – seperti yang diungkap Tempo – ini adalah bukti nyata pelemahan lembaga anti-rasuah tersebut.

Di luar indikasi pelemahan KPK tersebut, sebenarnya terdapat satu hal lagi yang dapat dimaknai dari terseretnya nama Hasto ke dalam kasus korupsi. Fenomena ini sebenarnya dapat dimaknai pula sebagai indikasi awal kehancuran pamor partai seperti yang diperlihatkan oleh Partai Demokrat lebih dari lima tahun lalu.

Publik tentu mengingat, sebelum PDIP begitu berkuasa saat ini, Partai Demokrat juga pernah merasakan posisi yang sama. Akan tetapi, setelah sepuluh tahun berkuasa, partai yang diketuai oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut justru tidak menunjukkan tajinya lagi saat ini.

Menariknya, Nadia Bulkin dalam Indonesia’s Political Parties, menyebutkan bahwa selepas Partai Demokrat memenangkan Pemilu 2009, partai biru ini justru menjadi sasaran target investigasi kasus korupsi.

Imbasnya, berbagai pesohor partai tersebut, seperti Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng mendekam di balik jeruji besi karena kasus korupsi.

Tidak hanya itu, momen tersebut juga dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk melayangkan kritik keras, yang disebut berpengaruh besar terhadap penurunan elektabilitas partai yang terlihat jelas pada gelaran Pemilu selanjutnya.

Dan sekarang, preseden serupa nampaknya telah menghinggapi PDIP. Bahkan tidak membutuhkan waktu yang lama, belum genap setahun berjalannya pemerintahan di periode kedua, Hasto sekalu sekjen partai sudah harus berurusan dengan lembaga anti-rasuah.

Pertanyaannya, benarkah sejarah kejatuhan Partai Demokrat akan terulang di PDIP?

Perputaran Elite di Politik

Filsuf Michel Foucault pernah berujar bahwa sejarah sejatinya tidak linier, melainkan memiliki siklus yang berulang. Ujaran Foucault tentang sirkularitas sejarah ini terlihat jelas dari teori “sirkulasi elite” yang dikemukakan oleh Vilfredo Pareto.

Menurut Pareto, di dalam setiap pemerintahan, akan selalu ada yang disebut sebagai elite atau kelompok kecil orang (minoritas) yang lebih berkuasa atas mayoritas.

Akan tetapi, menurut Pareto, dalam setiap sejarah selalu ada yang disebut dengan sirkulasi elite atau pergantian elite. Entah itu elite yang satu diganti oleh elite yang lainnya, ataupun non-elite yang justru menggantikan elite yang tengah berkuasa.

Pada konteks pembahasan ini, kita dapat memahami bahwa sirkulasi elite tersebut terjadi pada kasus Partai Demokrat dan PDIP. Melihat pada posisi PDIP yang konsisten menjadi oposisi selama Partai Demokrat berkuasa, mungkin sulit untuk membayangkan bahwa partai banteng tersebut akan seberkuasa sekarang.

Seperti apa yang diungkapkan Pareto, sirkulasi elite menjadi suatu hukum alam yang niscaya terjadi. Dan sekarang, kita menjumpai bahwa Partai Demokrat yang justru tengah terseok-seok di tengah kekuasaan PDIP.

Faktor Kejatuhan Partai Demokrat

Kendati Pareto menyebutkan sirkulasi elite terjadi secara alamiah, namun, proses pergantian elite tersebut mestilah memiliki suata penyebab atau faktor tertentu.

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, permasalahan korupsi menjadi faktor besar yang membuat Partai Demokrat mengalami kemerosotan pamor atau elektabilitas.

Menariknya, banyaknya kader Partai Demokrat yang merasakan dinginnya jeruji besi karena terkena kasus korupsi disebutkan justru karena faktor dari sang ketua umum partai atau SBY sendiri.

Hal ini ditulis oleh Politikus Partai Demokrat, Jemmy Setiawan dalam Pemberantasan Korupsi di era SBY Tercatat Paling Progresif di Dunia, yang menyebutkan bahwa SBY telah meminum “pil pahit” terkait komitmennya dalam mendukung penindakan terhadap kasus korupsi.

Menurutnya, SBY justru tidak memberikan perlindungan hukum kendati banyak kader partainya satu per satu diseret oleh KPK. Menguaknya kasus-kasus korupsi tersebut kemudian membuat elektabilitas Partai Demokrat mencapai titik terendah. Namun, SBY nyatanya tidak bergeming dan meneruskan konsistensinya.

Tidak hanya faktor banyaknya kader yang terjerat korupsi, SBY juga nampaknya memiliki kesalahan lain karena tidak dengan matang mempersiapkan penggantinya untuk bertarung di Pilpres 2014.

Ini mungkin tidak terlepas dari besarnya nama seorang SBY, sehingga akan begitu sulit untuk mengangkat nama yang sekiranya menyamai ataupun melebihi popularitasnya.

Dengan demikian, merangkum faktor menjatuhkan Partai Demokrat, kita dapat menemukan dua faktor utama. Pertama, sikap SBY yang justru tidak melindungi kader-kadernya yang terjerat kasus korupsi. Kedua, Partai Demokrat tidak mampu untuk menemukan suksesor pemimpin.

Bagaimana dengan PDIP?

Setelah mengidentifikasi faktor yang membuat Partai Demokrat terjatuh, sekarang pertanyaannya adalah, apakah faktor tersebut telah menampakkan diri di PDIP?

Merujuk pada laporan investigasi yang dibuat Tempo, PDIP nampaknya sangat memahami bahwa kasus yang menyeret nama Hasto dapat menciptakan efek “bola salju” atau dapat menyeret berbagai politisi PDIP lainnya.

Tidak hanya sekedar menyeret pengurus partai banteng lainnya, seperti pada kasus Partai Demokrat, hal tersebut juga dapat menjadi preseden atas jatuhnya eletabilitas PDIP.

Atas hal tersebut, cukup kentara terlihat sebenarnya bahwa Hasto benar-benar tengah dilindungi. Bahkan untuk melindungi sang sekjen, PDIP bahkan meminta Harun Masiku untuk menyerahkan diri ke KPK yang disebut oleh berbagai pihak sebagai “kambing hitam” dalam kasus tersebut.

Menelurusi perjalanan pimpinan KPK yang baru, PDIP nampaknya tengah mempersiapkan rencana untuk mengantisipasi kasus semacam ini. Pasalnya, dalam laporan Tempo beberapa bulan yang lalu, PDIP disebut adalah partai yang sejak awal meminta fraksi-fraksi yang lain untuk meloloskan Firli Bahuri sebagai Ketua KPK.

Laporan tersebut kemudian membuat berbagai pihak mengaitkan sosok Firli yang begitu dekat dengan PDIP. Bahkan, sebelum menjalani fit and proper test (FPT), Firli disebut sempat bertemu dengan Megawati.

Menariknya, dalam cover Majalah Tempo minggu ini, di depan sosok yang diduga sebagai Hasto, Tempo menggambarkan sosok berbaju KPK yang juga menunggangi banteng. Publik tentu bisa menerka-nerka siapa yang dimaksud.

Pada titik ini, mungkin dapat disimpulkan bahwa faktor pertama, di mana PDIP tidak memberikan perlindungan terhadap kadernya yang terkena kasus korupsi sekiranya tidak terjadi.

Lalu terkait faktor kedua? Sepertinya faktor ini juga tidak terjadi kepada PDIP. Pasalnya, baru-baru ini Megawati telah menarik Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menjadi Ketua DPP PDIP Bidang Kebudayaan. Selentingan kabar menyebutkan, Risma yang tidak lagi menjadi Wali Kota Surabaya akan diusung di Pilkada DKI Jakarta mendatang.

Menurut berbagai pihak, strategi ini mirip dengan cara PDIP menggaet Jokowi dulu, di mana seorang pemimpin lokal yang begitu populer kemudian dipertarungkan di Pilkada DKI Jakarta, yang kemudian berlanjut dipertarungkan di Pilpres.

Tidak hanya itu, waktu dekat ini Risma bahkan santer diisukan akan menjadi menteri apabila terjadi reshuffle kabinet.

Dengan kata lain, jika strategi mengusung Risma ini sukses, besar kemungkinan PDIP akan memiliki “Jokowi Kedua” atau kembali menempatkan kadernya sebagai presiden.

Tidak hanya itu, berbeda dengan Jokowi yang sebenarnya tidak jelas jabatan struktural di PDIP, Risma adalah kader partai yang memiliki jabatan struktural. Oleh karenanya, mungkin dapat disimpulkan bahkan Wali Kota Surabaya tersebut akan lebih penurut terhadap Megawati ketimbang Jokowi.

Pada akhirnya, mungkin dapat disimpulkan bahwa PDIP sepertinya telah benar-benar belajar dari kegagalan Partai Demokrat dalam mempertahankan singgasananya. Oleh karenanya, dua faktor utama yang sekiranya menjadi alasan kejatuhan partai berlambang mercedes tersebut nampaknya benar-benar telah diantisipasi.

Akan tetapi, hal sebaliknya di mana PDIP tetap terjatuh seperti Partai Demokrat juga dapat terjadi.  Oleh karena itu, menarik untuk menunggu kelanjutannya. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...