HomeNalar PolitikJualan Partai Tuhan?

Jualan Partai Tuhan?

Kecil Besar

“Tapi di tempat lain, orang yang beriman bergabung di sebuah partai besar namanya Hizbullah, Partai Allah. Partai yang memenangkan perjuangan dan memetik kejayaan.” ~Amien Rais


PinterPolitik.com

[dropcap]A[/dropcap]mien Rais kembali bikin heboh. Saat melakukan tausiah untuk Gerakan Indonesia Salat Subuh, ia melontarkan pernyataan soal dikotomi partai. Mantan Ketua MPR tersebut membagi partai menjadi partai Allah dan partai setan.

Seketika, pernyataan tersebut membuat banyak orang geram. Kader partai yang merasa tidak dikategorikan partai Allah oleh Amien, memandang serius pernyataan tersebut. Lebih lanjut, kategorisasi itu bahkan membuat Amien dilaporkan ke kepolisian.

Banyak pihak menuding kalau Amien ‘jualan’ agama dalam ujarannya soal partai Allah dan partai setan tersebut. Ia seperti mencari-cari legitimasi dengan menggunakan ayat-ayat suci untuk menyebut bahwa kelompoknya yang benar, sementara kelompok yang lain salah.

Menggunakan doktrin agama bukanlah barang baru dalam politik, termasuk di tanah air. Meski begitu, apakah pernyataan partai Tuhan seperti itu tergolong efektif untuk menarik simpati? Ataukah label tersebut hanya mampu menimbulkan riuh saja?

Mencari Legitimasi

Isu agama merupakan isu yang kerapkali dimainkan dalam proses-proses politik tertentu. Menurut Peter Berger, agama memiliki kekuatan world shaking (menggoyang dunia) dan juga world maintaining (menjaga dunia).  Dengan kekuatan seperti itu, agama dapat menjadi legitimasi bagi kekuatan mendukung atau melawan pemerintahan.

Berbagai negara di dunia cenderung menganggap agama adalah persoalan yang privat sehingga tidak perlu digiring ke ranah yang sifatnya publik. Akan tetapi, di negara-negara dunia ketiga terutama yang mayoritasnya beragama Islam, hal ini seringkali tidak berlaku. Membawa agama ke ranah non-agama seperti politik pun menjadi lumrah terjadi pada negara seperti ini.

Politisasi agama semacam itu menimbulkan konsekuensi yang tidak sembarangan. Menurut Richard Falk, politik kemudian menjadi terisi oleh klaim dan simbol agama, di mana agama diseret untuk kebutuhan yang bersifat populis, yang terkadang disertai taktik berbau kekerasan.

Partai Tuhan, Efektif Atau Riuh?

Kondisi tersebut berakibat pada terjadinya benturan antara kelompok pengusung isu agama dengan kelompok lain yang lebih sekuler. Terjadi semacam segmentasi “kita lawan mereka” dari isu agama tersebut. Kelompok yang tidak tergolong ke dalam “kita” digolongkan sebagai kelompok yang beragama. Sementara itu, di sisi berseberangan, kelompok “mereka” kerap dianggap sebagai kelompok yang anti-agama.

Berdasarkan pandangan tersebut, terlihat bahwa dikotomi Amien soal partai Allah dan partai Amien seperti sedang membangun narasi “kita lawan mereka”. Dalam tausiah-nya, Amien menyebut bahwa partai Allah terdiri dari Gerindra, PAN, dan PKS. Kategori partai Allah bisa dikatakan sebagai kelompok kita yang lebih beragama.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Di sisi lain, Amien tidak menyebut spesifik siapa yang ia maksud dengan partai setan. Ia hanya menyebut bahwa partai-partai besar yang tergolong ke dalam partai setan. Meski begitu, dari pernyataan ini sudah terlanjur terbentuk bahwa di luar tiga partai yang disebut Amien tergolong partai setan. Kelompok ini bisa masuk ke dalam kelompok “mereka” yang lebih sekuler.

Menyebut Diri ‘Partai Tuhan’

Jika dilihat, narasi soal partai Tuhan tidak ekslusif milik Amien Rais saja. Di Amerika Serikat, narasi soal keberpihakan Tuhan pada salah satu partai politik sempat beberapa kali terlontar. Baik Partai Republikan atau Demokrat pernah menggunakan isu semacam itu.

Salah seorang kader Partai Demokrat misalnya, pernah melontarkan pernyataan bahwa Tuhan pasti seorang Demokrat. Meski begitu, jika melihat sejarahnya, Partai Republikan boleh jadi lebih sering membawa nama Tuhan dalam berbagai kebijakannya. Partai berlogo gajah ini kerapkali membawa prinsip-prinsip dan etika ketuhanan atau Alkitab dalam berbagai kebijakan mereka.

Pandangan bahwa Republikan adalah Partai Tuhan seringkali mengemuka. Sementara itu, di kubu berseberangan, Partai Demokrat kerapkali dituduh sebagai partai tidak bertuhan. Partai Republikan kerapkali dianggap sebagai kelompok yang lebih relijius sementara Demokrat dianggap lebih sekuler.

Di awal, partai Republikan memang tidak menyebut referensi apapun tentang Tuhan di dalam platform partai mereka. Akan tetapi, perlahan-lahan narasi tentang Tuhan mulai masuk ke dalam haluan dari partai ini. Langkah paling awal dari hal tersebut adalah masuknya kata Tuhan dalam sikap mereka yang anti-aborsi.

Seiring dengan waktu, kata Tuhan dalam platform partai tersebut mulai bertambah. Di tahun 90-an mulai mengadopsi banyak kata tersebut di dalam partai mereka. Mereka menggunakan klaim ketuhanan tersebut untuk isu-isu seperti aborsi dan seksualitas.

Pengadopsian Tuhan oleh Partai Republikan seperti mencapai puncaknya di tahun 2012. Di tahun tersebut, kubu Republikan pernah menganggap bahwa kubu Demokrat tengah melakukan perang terhadap agama. Hal ini dikarenakan partai berlogo rusa tersebut tidak menyebut satu pun kata Tuhan di dalam platform partai mereka. Kondisi yang berbeda dengan Republikan yang menyebut 10 kali kata Tuhan di dalam platform partai mereka.

Partai Republikan juga menciptakan wacana bahwa Partai Demokrat tidak memiliki keberpihakan kepada pemeluk Nasrani dan Yahudi di Amerika. Mereka menyoroti absennya isu Yerusalem dalam platform partai Demokrat sebagai sebuah kegagalan.

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi

Mereka kemudian menyerang pemerintahan Barack Obama yang didukung Demokrat, sebagai pemerintahan yang menghancurkan institusi kepercayaan. Mereka menganggap Obama melakukan pertentangan terhadap nilai-nilai agama, keyakinan, dan moral melalui berbagai kebijakannya.

Jika dibandingkan, sikap partai Republikan dengan pernyataan Amien Rais mengandung sejumlah kemiripan. Keduanya tengah membagi dua kubu, beragama dan sekuler dengan menggunakan kata Tuhan. Baik Amien maupun Republikan membangun wacana serupa bahwa kelompok yang lebih sekuler seperti sedang melakukan perang terhadap agama.

Efektif atau Riuh?

Apakah narasi partai Tuhan tersebut dapat memberikan keuntungan kepada penggunanya? Jawabannya belum tentu. Menarik perhatian orang dengan menggunakan ayat-ayat Tuhan ternyata tidak semudah yang dipikirkan.

Sebuah penelitian pernah dilakukan Eric L. McDaniel dan Christopher G. Ellison dari University of Utah. Dalam jurnalnya  yang berjudul God’s Party? Race, Religion, and Partisanship over Time, terlihat bahwa tidak semua orang tertarik dengan Partai Republikan yang menggunakan isu-isu berbau agama.

Dalam penelitian tersebut, dijelaskan bahwa Partai Republikan berusaha untuk menarik perhatian kelompok tertentu dengan mencitrakan diri sebagai God’s Party atau Partai Tuhan. Akan tetapi, tidak berhasil mengubah pandangan semua kelompok pemilih masyarakat di Amerika Serikat. Masih banyak kelompok yang bertahan dengan pandangan independen atau memilih kubu lawannya.

Sebagai tambahan, menurut Direktur Eksektuif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti, pernyataan Amien soal partai Allah dan partai setan justru dapat menjadi bumerang bagi partainya bernaung saat ini.

Menurutnya, pandangan mantan Ketua MPR tersebut justru lebih banyak menimbulkan kontroversi ketimbang manfaat. Suhu politik menjadi tambah panas dan juga bisa muncul kebencian akibat pernyataan tersebut.

Menurut Mun’im Sirry, membenturkan agama dengan ideologi lain berpotensi menimbulkan kekerasan dan ketegangan sosial. Hal ini yang sepertinya luput dari tausiah pendiri PAN tersebut. Ia seperti tidak memikirkan dampak dari kategorisasi “kita vs mereka” melalui partai Allah dan partai setan tersebut.

Maka, bisa disimpulkan jika pernyataan Amien Rais saat ini hanya berhasil menimbulkan riuh saja. Sementara itu, keuntungannya secara elektoral masih belum terlihat dan justru berpotensi menimbulkan hasil yang tidak diinginkan. (H33)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...