HomeNalar PolitikNo Way Home Ajarkan Machiavellianisme?

No Way Home Ajarkan Machiavellianisme?

Kecil Besar

Film Spider-Man: No Way Home tengah menjadi buah bibir. Selain susunan aktor yang menarik, plot cerita tentang moral dilema juga jadi sorotan. Apakah ada pesan tersembunyi di dalamnya? 


PinterPolitik.com 

Jaring laba-laba, lompat, mengayun! Spider-Man! 

Ya, tokoh Marvel remaja yang memiliki kekuatan laba-laba ini ini sedang populer di kalangan masyarakat. Tentunya karena rilis film terbarunya yang belum satu bulan hadir di bioskop, Spider-Man: No Way Home (NWH). Berawal dari tragedi pengungkapan identitas hingga menjadi konflik multisemesta, Peter Parker sang Spider-Man harus berjuang melalui beberapa rintangan berat agar dunianya selamat. 

Selain dari sekumpulan aktor legendaris yang bermain di film tersebut, NWH juga menjadi sorotan publik karena berani mengantarkan sebuah narasi cerita yang cukup menarik, yaitu mengenai dilema moral.  

Secara garis besar, alur cerita Peter Parker yang dimainkan pemain utama, Tom Holland, menghadapi kegalauan besar karena ambisinya agar seluruh orang di dunia melupakan bahwa dia adalah Spider-Man, ternyata malah membawa penjahat dari dimensi lain, yang sesungguhnya telah mati, masuk ke dimensinya. 

Pemain utama yang kedua, Doctor Strange, yang dimainkan Benedict Cumberbatch menawarkan solusi yang dapat menyelesaikan masalah antar dimensi ini dengan spontan, yaitu dengan mengirim para penjahat tadi ke dimensi masing-masing. Tetapi, Holland menolak gagasan tersebut karena dengan mengirim penjahat-penjahat ini kembali ke dimensinya, mereka akan kembali mati. Ini menurutnya sama saja dengan membunuh. 

Pada akhirnya, keputusan Holland ternyata salah dan para penjahat ini lepas dan berbuat kejahatan di dimensi baru mereka. Meskipun di akhir cerita NWH berusaha membuat justifikasi bahwa apa yang dilakukan Holland adalah benar, banyak kritik menilai film tersebut gagal menutup film dengan pesan moral kebaikan yang kuat. 

Dani Di Placido dalam tulisannya ‘Spider-Man: No Way Home’ Bungled Its ‘Great Responsibility’ Moment, di laman Forbes misalnya, mengatakan bahwa Holland seharusnya tidak peduli dengan para penjahat dimensi lain. Spider-Man, dinilainya, harusnya membiarkan mereka mati, karena risiko yang muncul berpotensi lebih merusak jika dibandingkan dengan sekadar membunuh penjahat-penjahat ini. 

Dari pengalaman pribadi, seorang teman penulis setelah menonton film tersebut juga mengatakan, “kalau Spider-Man tega, orang tidak bersalah di dunianya tidak akan mati konyol.” 

Oleh karena itu, muncul pertanyaan menggelitik. Mungkinkah ada pesan politik tersembunyi di balik dilema moral film Spider-Man: No Way Home

Baca Juga: Erick Thohir dan Dunia Spider-Man

Justifikasi Machiavellianisme? 

Satu kutipan yang mencerminkan keseluruhan permasalahan dalam film NWH mungkin bisa kita ambil dari apa yang dikatakan salah satu penjahat dalam film itu, yaitu Green Goblin, yang dimainkan Willem Dafoe. Setelah Spider-Man mulai menyadari bahwa usahanya untuk berbuat baik malah menghasilkan kehancuran dan kematian, Goblin mengatakan, “kelemahanmu adalah moralitas.” 

Bagi yang pernah baca atau sekadar pernah mendengar tulisan filsuf politik Italia, Niccolò Machiavelli yang berjudul The Prince, ungkapan tentang moralitas di atas barang kali tidak asing di telinga. Memang, dalam tulisan itu, Machiavelli mengatakan bahwa ada kalanya seorang pemimpin harus mengambil keputusan yang disesuaikan dengan realitas dan urgensi, alih-alih membatasi diri oleh proses pengambilan keputusan yang dihambat aturan moralitas. 

Baca juga :  “Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?

Menurut Machiavelli, pemimpin-pemimpin yang baik harus belajar untuk “tidak menjadi baik”, dan berkemauan untuk menyingkirkan moral dari politik, termasuk soal keadilan, kebaikan dan kejujuran,  demi menciptakan kondisi negara yang stabil dan aman. 

Hal inilah kemudian yang membuat istilah “the end justifies the mean” atau tujuan akhir dari suatu permasalahan yang membenarkan cara mencapainya. Menurut Machiavelli, tidak ada salahnya seorang pemimpin mengorbankan segelintir orang jika memang tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan pemerintahan ataupun perdamaian itu sendiri.  

Tentu argumen ini tidak terbentuk secara subjektif. Perlu diketahui bahwa Machiavelli adalah salah satu bibit pemikir politik empiris modern yang dinilai mampu dan berani mendasarkan pemikirannya atas pengalaman dan fakta sejarah, bukan idealisme ataupun sentimen tertentu. 

Pemikiran seperti ini pun berkali-kali dimunculkan oleh Doctor Strange, yang dengan tegasnya mengatakan kematian penjahat-penjahat ini hanya ibarat debu jika dibandingkan dengan kepentingan keamanan multisemesta. 

Tetapi, di bagian akhirnya, NWH berusaha membenarkan posisi filosofi kebenaran Spider-Man dengan mengantarkan narasi bahwa para penjahat ini perlu dipulangkan ke tempat asalnya, dengan catatan penyebab yang membuat mereka menjadi jahat “diperbaiki” terlebih dahulu. 

Well, ada satu pendapat menarik terkait ini. Darrey Mooney dalam tulisannya The Tangled Ethics of Spider-Man: No Way Home, menilai film ini tidak hanya memberikan skenario dilema moral, melainkan juga menjadi cerminan nyata dari permasalahan tentang imigran gelap di Amerika Serikat (AS).  

Menurutnya, NWH menyadari bahwa menahan penjahat – yang disamakan Mooney sebagai imigran – tanpa proses hukum dan mengirim mereka kembali ke situasi yang dapat membuat mereka terbunuh adalah hal yang buruk. Dengan demikian, film tersebut mengoreksi dirinya dengan solusi “kesempatan kedua”. 

Namun, dengan mencoba memperbaiki penyebab sifat-sifat buruk penjahat, apa yang dilakukan Spider-Man justru membuat permasalahan moral baru. Para penjahat ini dipaksa melepaskan kekuatan atau karakteristiknya tanpa consent atau persetujuan. Secara argumentatif, tindakan tersebut juga adalah tindakan kejahatan atas otonomi pribadi. 

Terlepas dari metode fiktif yang dilakukan Spider-Man, Mooney menilai ini justru cerminan nyata atas dilema yang terjadi pada negara yang memiliki permasalahan imigran gelap. Bagaimanapun juga, setiap pilihan yang diputuskan pemerintah, meskipun tujuannya baik, memiliki beberapa konsekuensi etis yang mungkin bersifat kontroversial. 

Ini kemudian kembali sejalan dengan apa yang ingin disampaikan oleh Machiavelli, yaitu kenyataan tentang political evil atau nilai kejahatan dalam politik. Kembali mengutip bukunya, The Prince, Machiavelli meyakini bahwa realitas kejahatan dalam politik tidak dapat dihindari.  

Alih-alih mencoba menolaknya, seorang pemimpin pada titik-titik tertentu harus memanfaatkan benih-benih kejahatan politik untuk tujuan moral yang lebih besar di akhir usahanya. 

Tetapi, apakah kemudian kita bisa dengan gamblang mengatakan unsur Machiavellianisme dalam film Spider-Man: No Way Home melumrahkan tindakan kekerasan? 

Baca juga :  Bongkar Deep State Dapur MBG?

Baca Juga: Ma’ruf Terjebak “Strategi Machiavelli” JK?

Ini Semua Tentang Diskursus? 

Untuk memahami dilema moral yang disampaikan dalam film ini, kita bisa berkaca pada sejumlah eksperimen pikiran filsafat, salah satu yang paling populer adalah trolley problem atau masalah troli. Dilema ini menggambarkan suatu skenario di mana ada sebuah kereta yang sedang berjalan ke arah kita, kita sendiri adalah seseorang yang memegang tuas yang dapat membelokkan rel kereta ke arah kiri ataupun kanan. Masalahnya, di rel yang kiri terdapat satu orang yang diikat, tetapi di sisi lainnya, terdapat lima orang yang terikat. 

Oleh karena itu, kita harus memilih, apakah kita lebih mengorbankan lima orang demi satu, atau sebaliknya? 

Pencetus dilema ini, Philipa Foot mengatakan jawaban yang benar adalah untuk mengorbankan satu orang demi menyelamatkan lima orang. Untuk menunjukkan moralitas ini, Foot membuat perbedaan antara apa yang dia sebut ‘tugas negatif’ dan ‘tugas positif’.  

Dalam arti luas, ia mendefinisikan tugas negatif sebagai kewajiban untuk menahan diri dari merugikan orang lain dan tugas positif sebagai kewajiban untuk secara aktif berbuat baik – dalam hal ini, menyelamatkan nyawa. Dia berpendapat bahwa, pada prinsipnya, tugas negatif kita untuk menahan diri dari bahaya selalu lebih mendesak dan lebih berat daripada tugas positif kita. 

Namun, perlu dipahami bahwa jawaban yang disampaikan Foot adalah dalam konteks filsafat, bukan pragmatis. Dilema yang disampaikan dalam ilmu filsafat adalah untuk melatih pikiran, bukan menjadikannya sebagai jawaban untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan nyata di masyarakat. 

Baca juga: Paradoks Penegakan HAM di Indonesia

Omid Panahi dalam tulisannya Could There Be A Solution To The Trolley Problem? mengatakan bahwa skenario trolley problem tidak dirancang untuk menciptakan solusi. Hal ini, lebih tepatnya, dimaksudkan untuk memprovokasi pemikiran, dan menciptakan wacana intelektual di mana diskusi untuk menyelesaikan suatu dilema moral dapat dihargai. Di sisi lain, juga untuk mengajarkan pada kita bahwa ada keterbatasan dalam memahami diri kita sebagai agen moral. Kita tidak memiliki kemampuan untuk bertindak serba benar. 

Dengan demikian, kembali ke konteks dilema moral Spider-Man: No Way Home, sepertinya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh film tersebut adalah provokasi diskursus. Dan memang, kita pun harus membuka mata bahwa ada banyak permasalahan di dunia yang tidak bisa dengan sederhana diadili bahwa tindakan tersebut adalah benar atau salah, pasti ada gesekan di mana suatu kerugian perlu ditoleransi. 

Mungkin, contoh paling nyatanya adalah polemik mengenai Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja (UU Cipta Kerja), di mana banyak lapisan masyarakat yang menolak karena aturan ini disebut melanggar nilai demokrasi, sekaligus menguntungkan oligarki. Tetapi jika kita ingin berusaha objektif dan melepas sentimen prejudis terhadap pemerintah, sesungguhnya aturan ini dapat menyelesaikan sejumlah masalah ekonomi kronis yang menjangkiti Indonesia, seperti tumpang tindih regulasi dan pengawasan aktivitas ekonomi. (D74) 

Baca juga: UU Ciptaker, Untuk Kebaikan Siapa?

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing