HomeNalarMisteri Batik Cokelat SBY-Prabowo

Misteri Batik Cokelat SBY-Prabowo

Wow, SBY dan Prabowo tampak kompak berbatik cokelat di Mega Kuningan. Adakah makna di balik warna tersebut?


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]ertemuan akbar antara dua tokoh berpengaruh di negeri ini, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto akhirnya terlaksana. Setelah sempat tertunda akibat kondisi kesehatan SBY, pertemuan yang telah lama dibicarakan tersebut resmi digelar di kediaman SBY, di kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan.

Pertemuan itu disebut-sebut banyak membahas kondisi terkini bangsa. Masalah ekonomi hingga persoalan radikalisme jadi bahasan kedua ketua umum partai tersebut. Tak ketinggalan, masalah Pilpres juga menjadi bahasan kedua tokoh itu. Prabowo berkisah bahwa chemistry pembicaraan di antara mereka sangatlah bagus.

Tampaknya, tidak hanya chemistry pembicaraan saja yang bagus di antara mereka. SBY dan Prabowo pun tampak kompak dan serasi memakai busana yang mirip. Kedua tokoh ini tampak sama-sama memakai kemeja batik dengan nuansa warna cokelat. Tidak hanya mereka, elite-elite Demokrat dan Gerindra yang mendampingi mereka tampak mengenakan busana yang senada.

Sulit untuk tidak melihat ada maksud di balik seragamnya busana yang dipakai SBY dan Prabowo. Apalagi, batik kerapkali memiliki makna-makna tersendiri di balik ragam motifnya. Selain itu, pemilihan warna cokelat juga bisa memiliki maksud filosofis atau psikologis tertentu.

Politik Berbalut Batik Cokelat

Pemilihan busana memang kerapkali disepelekan. Orang seringkali menyederhanakan urusan pemilihan pakaian hanya dari segi kenyamanan dan keindahan saja. Anggapan itu bisa jadi benar jika terjadi pada orang biasa. Akan tetapi jika berurusan dengan tokoh, apalagi di dunia politik, busana dan warnanya bisa saja menggambarkan simbol khusus.

Pemilihan warna dan jenis busana ini disoroti oleh Kristen Palana, profesor dari The American University of Rome. Menurut Palana, saat melihat warna tertentu, otak mengeluarkan zat kimia spesifik sehingga membuat manusia merasakan emosi tertentu. Oleh karena itu, politisi dapat menggunakan busana dengan pilihan warna tertentu untuk menghasilkan kesan emosi yang diinginkan.

SBY dan Prabowo

- Advertisement -

Dalam pandangan Palana, warna cokelat jika dipakai oleh kalangan tersohor dapat memiliki maksud tertentu. Cokelat kerap dianggap sebagai warna yang mewakili bumi. Oleh karena itu, pesohor yang menggunakan warna cokelat ingin tampil membumi atau down to earth.

Berkaitan dengan unsur bumi, warna cokelat juga kerap dikaitkan dengan kehidupan dan pertumbuhan. Sebagaimana batu-batu bumi yang kuat, cokelat juga dianggap menggambarkan kekuatan. Selain itu, cokelat juga kerap dianggap menggambarkan kepercayaan, ketulusan, kejujuran, dan loyalitas.

Selain soal warna, motif batik yang digunakan juga memiliki makna tersendiri. Sebagaimana kain-kain asal Nusantara lainnya, batik yang digunakan SBY dan Prabowo memiliki cerita tersendiri di balik setiap corak yang tergambar.

Di pertemuan tersebut, SBY memilih batik cokelat dengan motif gurda atau burung garuda. Di mata masyarakat Jawa, burung garuda memiliki posisi yang cukup tinggi. Hal ini tidak terlepas dari gambaran bahwa burung tersebut adalah kendaraan bagi Batara Wisnu. Garuda dianggap juga sebagai simbol kehidupan dan simbol kejantanan.

Baca juga :  Xi Jinping Masuk Jebakan Trudeau?

Di luar itu, burung garuda juga dianggap sebagai harapan akan kehidupan yang lebih baik. Hal ini masih terkait dengan Batara Wisnu yang dianggap sebagai dewa matahari.

Sementara itu, batik yang digunakan Prabowo memiliki motif ganggeng atau ganggang laut. Motif tersebut menggambarkan tanaman tersebut yang meski lemah lembut, tetapi menjadi pelindung bagi hewan laut dari ancaman predator. Tanaman itu juga bisa menjadi sumber pangan termasuk bagi manusia.

Berdasarkan kondisi tersebut, ganggang laut menjadi simbol dari kebermanfaatan. Hal ini sejalan dengan falsafah bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Terlihat bahwa pilihan busana yang digunakan oleh SBY dan Prabowo memiliki arti simbolik tertentu. Berdasarkan kondisi tersebut, bisa saja kedua tokoh ini tidak hanya sekadar menyeragamkan pilihan pakaian, tetapi juga mengirim pesan yang sama dari pertemuan tersebut.

- Advertisement -

Jika merujuk pada pandangan Palana, melalui warnca cokelat bisa saja SBY dan Prabowo tengah menawarkan politik yang lebih membumi. Jika dikaitkan dengan isu koalisi, ada sebuah koalisi yang disebut sebagai sebuah hegemoni yaitu koalisi pendukung Joko Widodo (Jokowi). Ungkapan ini disebut misalnya oleh mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Selama ini, koalisi Jokowi memang seperti semacam koalisi yang berisikan elite-elite partai. Tampak mereka seperti berkumpul dan bersatu untuk mendukung suatu kekuatan besar yang dianggap akan menang. Selain itu, keberadaan elite-elite partai itu kerapkali menyulitkan partai lain yang hendak merapat ke koalisi Jokowi. Koalisi itu pun dianggap sebagai koalisi yang elitis.

Bisa saja -jika koalisi terbentuk- SBY dan Prabowo akan membentuk koalisi yang lebih membumi sebagai antitesis dari koalisi Jokowi yang seperti hegemoni. Kalaupun tidak, bisa saja kedua tokoh ini menyindir hambatan yang diberikan elite-elite parpol koalisi Jokowi sehingga sangat sulit ditembus dan menimbulkan kesan hegemoni.

Pesan juga bisa dihasilkan oleh motif batik yang digunakan oleh SBY dan Prabowo. Sebagaimana disebut sebelumnya, motif garuda dianggap sebagai simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan kondisi tersebut, pertemuan tersebut bisa saja disimbolkan sebagai awal dari harapan akan kehidupan yang lebih baik tersebut.

Kondisi itu dapat dikaitkan dengan kegelisahan SBY dan Prabowo yang terungkap dari pertemuan tersebut. Kedua tokoh itu menyoroti kondisi ekonomi yang menurut mereka mengindikasikan hal yang berbahaya. Garuda dalam batik SBY kemudian bisa saja menggambarkan bahwa pertemuan dan rencana koalisi yang mereka bangun akan memberi harapan lebih baik dari kondisi tersebut.

Baca juga :  Jokowi Rentan Dihancurkan?

Hal ini dapat dikaitkan dengan pilihan warna cokelat yang menggambarkan kehidupan. Dalam konteks itu, kehidupan baru bisa dihadirkan oleh rencana koalisi SBY dan Prabowo sebagai antitesis koalisi Jokowi yang elitis.

Sementara itu, melalui motif ganggang, Prabowo bisa saja memberi pesan soal kebermanfaatan seperti tanaman tersebut. Jika merujuk pada kegelisahan mereka, bisa saja ada kritik soal kebermanfaatan pemerintahan yang berkuasa hampir lima tahun terakhir ini.

Kompak Berbatik, Kompak Berkoalisi?

Pemilihan warna dan jenis busana yang senada antara SBY dan Prabowo juga bisa saja memiliki maksud lain. Sinkronisasi antara keduanya bisa saja tidak hanya berlaku untuk urusan pakaian, tetapi juga untuk urusan politik, dalam konteks ini, Pilpres 2019.

Penyeragaman pilihan busana dapat berarti bahwa mereka kini sudah memiliki visi yang seragam. Sebagaimana diketahui, Partai Demokrat dan Gerindra disebut-sebut memang tengah menjajaki kemungkinan berkoalisi di antara keduanya. Meski belum resmi ada kesepakatan, bisa saja secara prinsip, atau jika meminjam bahasa Prabowo, secara chemistry sudah cocok.

SBY dan Prabowo

Bagaimanapun juga, kemesraan dan keserasian antara SBY dan Prabowo mau tidak mau akan menimbulkan spekulasi tentang koalisi. Apalagi, keduanya kini tampak tidak malu-malu membuka kemungkinan dua partai yang mereka pimpin berpadu dalam sebuah koalisi.

Jika benar kekompakan keduanya lebih dari sekadar busana, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang akan mereka usung bersama di Pilpres 2019. Jika memperhatikan spekulasi yang banyak beredar, pasangan Prabowo-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)  merupakan salah satu opsi yang dijajaki oleh kedua belah pihak.

Pasangan ini bisa saja terwujud jika kedua belah pihak telah resmi berkoalisi. Indikasinya bisa bersumber dari pernyataan Prabowo di mana ia menjawab “why not” atau “mengapa tidak” saat ditanya soal AHY sebagai cawapresnya. Di luar itu, dapat dilihat pula dari sisi semiotika kehadiran AHY di pertemuan tersebut.

AHY misalnya tampak hadir pada pertemuan SBY dan Prabowo di dalam perpustakaan. Jika merujuk pada foto yang beredar, tidak tampak elite-elite lain di ruangan tersebut selain AHY, SBY, dan Prabowo. Selain itu, saat memberikan keterangan pers, posisi AHY berada di tengah, di antara SBY dan Prabowo. Kondisi-kondisi tersebut bisa menjadi simbol bahwa AHY memiliki peran sentral pada pertemuan itu. Publik bisa saja mengartikan bahwa benar AHY akan dipasangkan dengan Prabowo.

Tentu semua itu masih sebatas spekulasi. Meski begitu, sulit untuk tidak melihat bahwa ada banyak pesan di balik pertemuan tersebut dan pilihan busana SBY dan Prabowo. Oleh karena itu, menarik untuk ditunggu tindak lanjut dari pertemuan dua tokoh nasional tersebut. (H33)

spot_img

#Trending Article

Jet Pribadi Nasdem “Hancurkan” Anies?

Salah satu kandidat calon presiden (capres) Anies Baswedan mengunjungi sejumlah daerah di Pulau Sumatera dengan menggunakan pesawat jet pribadi. Itu kemudian menghebohkan jagat maya...

Optimisme Intelijen Berpihak Kepada Prabowo?

Pasca kelakar “rambut putih” Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan tampak membesarkan hati Prabowo Subianto dalam sebuah kesempatan di...

Iran dan Mahsa Amini “Bangunkan” Feminis Indonesia?

Kematian Mahsa Amini bukan hanya memantik demonstrasi besar-besaran untuk mendorong reformasi hukum di negara Iran, melainkan juga mendorong solidaritas kaum feminis di seluruh dunia....

Benturan Peradaban di Piala Dunia Qatar? 

Piala Dunia Qatar 2022 seolah menjadi panggung suara dan benturan bernuansa sosio-politik tersendiri ketika regulasi tuan rumah, intrik lagu kebangsaan Timnas Iran, hingga gestur...

Pernah Ada Perang Dunia 0?

Perang Dunia I bukanlah perang pertama yang menghancurkan kehidupan umat manusia. Ribuan tahun sebelum itu, sejumlah arkeolog memprediksi pernah terjadi sebuah perang besar yang dijuluki “Perang Dunia 0”. Bagaimana ceritanya?

Kenapa Selalu Ada Capres Purnawirawan?

Nama purnawirawan TNI selalu ada dalam setiap survei elektabilitas calon presiden (capres). Bagaimana kacamata politik memaknai fenomena ini?

Tidak Ada Kebenaran di Era Informasi?

Di era kemajuan internet, manipulasi kebenaran justru malah semakin marak. Bagaimana kita memaknai fenomena ini?

Kenapa Peradaban Barat “Kuasai” Dunia?

Orang Eropa dan Amerika Serikat (AS) sering dianggap lebih unggul karena negara mereka “menguasai” dunia saat ini. Apakah ini akibat persoalan ras atau ada hal lain yang tersembunyi di balik kesuksesan peradaban Barat?

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...