HomeNalar PolitikMengapa Oknum PDIP “Ogah” Dukung Ganjar?

Mengapa Oknum PDIP “Ogah” Dukung Ganjar?

Kecil Besar

Indikasi perpecahan dalam internal PDIP terlihat setelah sejumlah kader PDIP memperlihatkan dukungan mereka kepada bacapres dari Partai Gerindra Prabowo Subianto. Padahal, PDIP telah menunjuk Ganjar Pranowo sebagai bacapres mereka. Lalu, mengapa itu bisa terjadi?


PinterPolitik.com

Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 yang semakin dekat, manuver partai politik (parpol) serta para elite politik semakin terlihat.

Satu di antaranya yang menarik adalah saat, tiga kader PDIP secara berurutan seolah mengindikasikan dukungan politik mereka kepada bakal calon presiden (bacapres) dari Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Padahal, PDIP sendiri telah menunjuk Ganjar Pranowo sebagai bacapres yang akan mereka usung. Alhasil, ketiga kader itu harus berhadapan dengan komite etik partai berlambang kepala banteng.

Indikasi ketiga kader itu sendiri terlihat dari gelagat serta manuver yang mereka lakukan. Pertama, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming harus menerima teguran dari PDIP seusai menemani Prabowo menemui relawan Jokowi Gibran yang mendukung pencapresan sang Menteri Pertahanan (Menhan) pada Mei lalu.

Kendati menyanggahnya secara tersurat, putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu dianggap menunjukkan gestur politik mendukung Prabowo.

Kedua, ada tokoh senior PDIP Effendi Simbolon yang juga harus berhadapan dengan pemanggilan dari DPP PDIP setelah pada Jumat (7/7) lalu memberi sinyal pernyataan dukungan terbuka ke Prabowo saat bersua di acara Rakernas Marga Simbolon.

Effendi saat itu menyatakan keinginan agar Indonesia dinakhodai pemimpin yang andal. Dia menilai kriteria itu ada pada Prabowo.

oknum pdip tak dukung ganjar

Ketiga, Budiman Sudjatmiko menjadi elite PDIP teranyar yang mengindikasikan dukungan kepada Prabowo. Budiman menemui Prabowo di kediamannya pada Selasa (18/7) lalu.

Usai pertemuan yang berlangsung selama dua jam, mantan aktivis reformasi itu mengaku memiliki kecocokan dengan Prabowo.

Dia bahkan menganggap Menteri Pertahanan (Menhan) itu sebagai sosok pemimpin yang bisa membawa Indonesia lepas dari krisis global.

Saat itu Budiman mengatakan kedatangan dirinya ke kediaman Prabowo bukan sebagai kapasitas kader PDIP. Akan tetapi, manuver Budiman tetap memancing gejolak di dalam tubuh PDIP.

Manuver ketiga kader PDIP pada titik tertentu kiranya dapat dilihat sebagai bentuk ketidakyakinan mereka terhadap kepantasan Ganjar menjadi RI-1.

Di saat yang sama, manuver itu justru mengindikasikan mereka lebih yakin kepada Prabowo yang akan menang dalam pesta demokrasi 2024 mendatang.

Di permukaan, gestur politik ketiga kader itu juga seakan menunjukkan bahwa ada ketidaksolidan di Internal PDIP untuk memenangkan Ganjar.

Lantas, mengapa ketiga kader PDIP sempat tampak memilih jalur yang berbeda dari kebijakan partai dengan menunjukkan indikasi dukungan kepada Prabowo?

Akibat Beda Penafsiran?

Adanya perbedaan pandangan dalam setiap organisasi sebenarnya adalah hal yang biasa. Hal itu terjadi karena masing-masing individu mempunyai cara pandang tersendiri terhadap suatu peristiwa.

Baca juga :  Negara Penyangga

Francis Fukuyama dalam bukunya yang berjudul State-Building: Governance and World Order in the 21st Century menjelaskan perbedaan pandangan dalam organisasi disebabkan oleh logika organisasi berbeda dengan logika individu.

Perbedaan logika ini tak terkecuali dalam hal memahami dan menentukan sebuah langkah politik.

Mengutip seorang ilmuan politik asal Amerika Serikat (AS) Herbert Simon terkait teori satisficing atau keterpuasan, Fukuyama menambahkan tujuan dari sebuah organisasi sebenarnya tidak pernah terlihat secara jelas, tetapi muncul dari hasil berbagai interaksi individu yang ada di dalam organisasi.

Itu terjadi karena individu yang berada di dalam organisasi mempunyai rasionalitas yang terbatas dalam memandang sebuah kejadian.

Terkait dinamika yang terjadi dalam internal PDIP, logika kader PDIP (secara individu) yang mendukung Prabowo tampaknya berangkat dari kekaguman personal ketiga kader PDIP tersebut terhadap sang mantan Danjen Kopassus.

Prabowo tampaknya dinilai oleh Gibran, Effendi, dan Budiman sebagai sosok yang mempunyai karisma sebagai pemimpin dan seorang nasionalis sejati.

Mereka agaknya beranggapan jika Prabowo adalah sosok yang tidak jauh dari nilai-nilai yang selama ini diterapkan PDIP. Ini, salah satunya, tergambar dari pernyataan Budiman yang seakan menyamakan Prabowo seperti Presiden Jokowi dan Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri.

Selain itu, manuver ketiga kader PDIP itu tampaknya berkaitan dengan sinyal dukungan Presiden Jokowi kepada Prabowo. Hal itu juga seakan menandakan munculnya “matahari kembar” dalam internal PDIP, yakni faksi Megawati dan Jokowi.

Jika benar, hal itu kiranya menandakan jika tidak semua kader masih tegak lurus dan tunduk dengan superioritas Megawati di internal PDIP.

Kemudian, alasan lainnya adalah muncul interpretasi personal bahwa Prabowo lebih mempunyai probabilitas yang besar untuk menang dibandingkan Ganjar.

Dengan probabilitas kemenangan yang tinggi itu, bukan tidak mungkin para kader itu juga seolah sedang mengharapkan akomodasi politik jika berada di sisi kubu Prabowo.

Sedangkan, di sisi lain, menurut logika PDIP, mendukung Prabowo sebagai calon presiden (capres) akan memutus tradisi mereka yang semenjak era reformasi selalu mencalonkan capres dari partai mereka.

Selain itu, mencalonkan Prabowo dan memasangkannya dengan Ganjar juga akan menimbulkan masalah baru. Masalah yang dimaksud adalah munculnya persepsi jika kompetisi elektoral 2024 sudah berakhir dan buruk bagi kelangsungan demokrasi Indonesia.

Lalu, melihat adanya kemungkinan perpecahan di dalam tubuh PDIP, apakah itu termasuk bagian rencana Prabowo yang sedang menerapkan strategi tertentu?

gibran buat pdip panik

Terapkan Strategi Sun Tzu?

Jika memang terjadi perpecahan di internal PDIP, jelas ini sebuah tanda bahaya bagi Ganjar yang akan bertarung dalam pesta demokrasi lima tahunan nanti.

Baca juga :  Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Sebaliknya, hal itu bisa jadi sebuah keuntungan bagi kubu Prabowo dengan bergabungnya para elite PDIP yang boleh jadi akan menambah kekuatan mesin politik kubu Prabowo.

Sun Tzu dalam bukunya The Art of War menjelaskan bahwa dalam setiap pertempuran penting untuk dapat memperoleh informasi tentang kekuatan musuh. Informasi ini harus diperoleh dari orang-orang yang mengetahui kekuatan musuh.

Untuk memperoleh informasi diperlukan operasi spionase oleh agen rahasia atau mata-mata. Sun Tzu juga menjelaskan ada lima jenis agen rahasia yang dapat digunakan,yakni agen lokal, agen dalam, agen ganda, agen celaka, dan agen hidup.

Ketika kelima agen ini bekerja secara serentak, berbagai cara operasi mereka yang rumit akan berada di luar pemahaman musuh.

Dalam konteks manuver ketiga kader PDIP yang menguntungkan kubu Prabowo, tampaknya lebih cocok untuk menyebut ketiga kader PDIP sebagai “agen dalam” tim pemenangan kubu Prabowo. Agen dalam adalah para pejabat musuh yang direkrut dan dipekerjakan.

Jika dilihat, bukan tidak mungkin jika ketiga kader PDIP yang mengindikasikan adanya dukungan ke Prabowo adalah strategi dari tim pemenangan kubu Prabowo untuk merekrut ketiganya untuk menjadi “agen dalam”, termasuk untuk memperoleh berbagai informasi dari kubu PDIP dan Ganjar.

Selain untuk memperoleh berbagai informasi yang penting bagi tim pemenangan kubu Prabowo, tampaknya ketiga kader itu juga bertugas untuk menggembosi kekuatan PDIP dan Ganjar dari dalam.

Taktik itu sendiri selaras dengan bagian kedua bertajuk Dí zhàn jì atau Strategi Menghadapi Musuh dalam sebuah literatur Tiongkok, The Thirty-Six Stratagems

Dalam The Thirty-Six Stratagems terdapat poin yang menyarankan kita untuk memuji musuh untuk mendapat kepercayaan mereka. Tapi, di saat kepercayaan telah didapat, kita akan leluasa bergerak melawannya secara rahasia.

Tim pemenangan kubu Prabowo seolah menawarkan alternatif pilihan politik kepada ketiga kader PDIP yang melakukan manuver itu untuk mewujudkan rasionalitas logika mereka seperti yang sudah disebutkan pada bagian sebelumnya.

Kembali, ketiga kader itu berpandangan jika Prabowo mempunyai probabilitas kemenangan dan tingkat kepantasan yang besar dalam Pilpres dibandingkan Ganjar.

Nah, tim pemenangan kubu Prabowo kiranya coba mewujudkan pandangan para ketiga kader PDIP itu untuk bergabung dengan mereka.

Sekaligus, membuat mesin politik PDIP semakin melemah untuk memenangkan Ganjar karena ditinggal oleh kader-kader terbaik mereka.

Menarik untuk ditunggu bagaimana langkah selanjutnya dari manuver ketiga kader PDIP itu. Apakah akan patuh terhadap aturan PDIP, atau justru benar-benar membelot dan memutuskan untuk mendukung Prabowo Subianto sebagai capres? (S83)

spot_imgspot_img

#Trending Article

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan “ijazah birokrat” otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

More Stories

Ketua DPR, Golkar Lebih Pantas? 

Persaingan dua partai politik (parpol) legendaris di antara Partai Golkar dan PDIP dalam memperebutkan kursi Ketua DPR RI mulai “memanas”. Meskipun secara aturan PDIP paling berhak, tapi beberapa pihak menilai Partai Golkar lebih pantas untuk posisi itu. Mengapa demikian?

Anies “Alat” PKS Kuasai Jakarta?

Diusulkannya nama Anies Baswedan sebagai calon gubernur (cagub) DKI Jakarta oleh PKS memunculkan spekulasi jika calon presiden (capres) nomor urut satu ini hanya menjadi “alat” untuk PKS mendominasi Jakarta. Benarkah demikian?

Pemilu 2024, Netralitas Jokowi “Diusik” PBB? 

Dalam sidang Komite Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, anggota komite Bacre Waly Ndiaye mempertanyakan netralitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait lolosnya Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden (cawapres) dari Prabowo Subianto. Lalu, apa yang bisa dimaknai dari hal itu?