HomeNalar PolitikSandiaga Uno, Si Angsa Hitam

Sandiaga Uno, Si Angsa Hitam

Kecil Besar

Tak terprediksi, berdampak besar bagi peta politik nasional dan membuat semua orang mendadak jadi analis politik, terpilihnya Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo Subianto layaknya the Black Swan – seekor Angsa Hitam. Positif atau negatif untuk Prabowo?


PinterPolitik.com

“Isn’t it strange to see an event happening precisely because it was not supposed to happen?”

:: Nassim Nicholas Taleb, penulis buku ‘The Black Swan’ ::

[dropcap]P[/dropcap]ilpres 2019 mungkin akan menjadi salah satu kontestasi politik paling mengejutkan sepanjang sejarah negara ini. Setidaknya hal itu tergambar lewat keputusan Prabowo Subianto dan koalisinya memilih Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sebagai cawapresnya untuk Pilpres 2019.

Pasalnya nama Sandi tidak pernah muncul dalam berbagai survei sebagai tokoh potensial yang diperhitungkan untuk menjadi pendamping Prabowo. Sejak Rabu lalu memang penggodokan nama cawapres untuk Prabowo sudah mulai membuka kemungkinan akan adanya kejuatan tersebut. Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Habiburokhman bahkan saat itu menyebutkan adanya potensi pilihan yang out of the box.

Mungkin itu adalah salah satu petunjuk yang diberikan oleh internal Gerindra tentang peluang munculnya nama Sandi. Pasalnya, nama-nama yang sebelumnya mengemuka akan dipilih oleh Prabowo rata-rata berasal dari kelompok ulama, macam Salim Segaf Al-Jufri dari PKS hingga Ustad Abdul Somad. Ada pula nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menjadi tawaran dari Partai Demokrat.

Sementara, nama Sandi mungkin tidak banyak terpikirkan akan dipilih Prabowo, mengingat ia baru menjabat sebagai Wagub Jakarta belum sampai setahun, dan ia juga merupakan kader Gerindra. Sulit untuk membayangkan Prabowo mengambil kader partainya sendiri sebagai cawapres.

Namun, dalam politik, kejutan-kejutan yang seperti ini sering terjadi dan menjadi fenomena yang menarik untuk diperhatikan. Karena sifatnya yang mengejutkan dan tidak terprediksi, tentu pertanyaannya adalah seberapa besar dampak “kejutan” ini akan mempengaruhi hasil akhir Pilpres 2019 nanti?

Apakah Sandi yang terkenal dengan jurus “bangau” itu layak disebut sebagai the Black Swan – Angsa Hitam – dalam konteks tidak terprediksinya pilihan politik ini?

Sandi Si Angsa Hitam

Sebagai sebuah kejutan, kisah tentang Sandi ini memang mewakili konsep the Black Swan atau kejadian Angsa Hitam. Secara sederhana Black Swan bisa disebut sebagai kejadian yang punya probabilitas yang rendah, namun ketika terjadi punya dampak yang besar pula. Efeknya yang mengejutkan dan tidak diprediksikan oleh banyak orang membuatnya terasa sangat berbeda.

Terpilihnya Sandi berbeda dengan KH Ma’ruf Amin yang dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi), mengingat sang kiai memang sudah sejak awal digadang-gadang sebagai salah satu tokoh yang berpeluang besar menjadi pendamping petahana.

Sementara, nama Sandi bahkan sepertinya tidak pernah muncul dalam berbagai perbincangan dan perdebatan politik, utamanya terkait peluang pria 49 tahun itu menjadi pendamping Prabowo. Konteks kejutan politiknya dan sifatnya yang punya implikasi besar inilah yang membuat Sandi bisa disebut sebagai Angsa Hitam.

Baca juga :  Khofifah dan Jebakan "Bebek Songkem"?

Konsep Black Swan sendiri berangkat dari metafora pemikiran banyak orang dari old world (Afrika, Asia dan Eropa) bahwa semua angsa berwarna putih. Namun, semuanya berubah ketika pada tahun 1697, ditemukan angsa hitam di Australia.

Maka generalisasi itu kemudian menjadi salah dan kebenarannya tidak dapat lagi diterima. Dalam konteks filsafat kebenaran, penemuan angsa hitam menjadi konfirmasi invaliditas general statement yang selama ini diterima oleh publik.

Nassim Nicholas Taleb – penulis esay dan scholar Amerika Serikat berdarah Lebanon – merupakan salah satu orang yang mempopulerkan istilah ini dalam konteks yang lebih umum. Bukunya yang berjudul The Black Swan: The Impact of The Highly Improbable ditetapkan koran mingguan The Sunday Times sebagai satu dari 12 buku paling berpengaruh sejak Perang Dunia II.

Sandiaga Uno, Si Angsa Hitam

Dalam konteks Black Swan, Nassim secara umum berbicara tentang fenomena atau kejadian-kejadian yang sama sekali tidak diprediksi, namun ketika terjadi punya dampak yang sangat besar, dan ketika sudah terjadi barulah orang “ngeh” atau mendapatkan gambaran tentang penjelasannya.

Secara spesifik, ia menyebut 3 syarat sebuah kejadian disebut sebagai Black Swan event adalah tidak terprediksi atau terpikirkan, punya dampak yang besar, dan baru mendapatkan penjelasan setelah terjadi.

Istilah Black Swan umumnya sering digunakan dalam bidang ekonomi dan finansial, merujuk pada fenomena tertentu yang tidak terprediksi dan mempengaruhi sektor keuangan. Beberapa contohnya adalah krisis ekonomi di Asia tahun 1997, Dotcom Crash atau krisis di bisnis internet pada awal tahun 2000-an, tragedi 11 September 2001 yang mempengaruhi pasar, krisis 2008, dan Brexit.

Sementara dalam konteks yang lebih umum, kejadian macam Tsunami di Aceh tahun 2004, tenggelamnya kapal Titanic – yang disebut sebagai kapal yang tidak bisa tenggelam – menyebarnya virus HIV AIDS, runtuhnya tembok Berlin, dan beberapa kejadian tak terprediksi lain juga disebut Nassim sebagai Black Swan event. Istilah ini juga bisa diadopsi dalam bidang yang lain, mulai dari manajemen risiko, hingga – tentu saja – dunia politik.

Jack Shafer dalam tulisannya di Politico mengadopsi istilah itu ketika ia menjelaskan fenomena Donald Trump. Dalam segala pertautan persoalan yang ada, termasuk yang mempengaruhi keterpilihannya saat Pilpres Amerika Serikat pada 2016 lalu, menurutnya Donald Trump adalah seorang Black Swan. Kemenangannya tidak terprediksi, punya dampak yang besar, dan setelah berkuasa barulah orang-orang melihat kembali dan mulai menganalisis penyebabnya.

Dalam konteks Sandi, terpilihnya pengusaha muda itu nyatanya juga memenuhi semua faktor yang membuatnya bisa dikategorikan sebagai Black Swan.

Sandiaga Uno, Si Angsa Hitam
Tahun 1697 angsa hitam ditemukan di Australia, mengalahkan general statement yang dipercaya banyak orang bahwa semua angsa berwarna putih. (Foto: istimewa)

Ia tidak pernah diprediksi akan maju menjadi pendamping Prabowo Subianto. Pemilihan namanya juga mengubah peta politik nasional secara drastis, utamanya dalam hal koalisi Gerindra dan Demokrat. Partai terakhir memang sempat menghitung peluang menyodorkan nama kadernya sebagai pendamping Prabowo.

Kemudian, setelah Sandi terpilih, semua orang baru merasionalisasi seberapa kuat posisi politik dan kapasitas finansialnya untuk mendukung pencalonan dirinya mendampingi Prabowo. Sebelumnya, semua orang seolah lupa bahwa Sandi bukanlah sosok sembarangan dan punya latar belakang pengusaha dan koneksi bisnis yang mumpuni. 

Tak diragukan, Sandi adalah Angsa Hitam untuk Prabowo. Persoalan berikutnya adalah Black Swan oleh banyak pihak dianggap cenderung punya konotasi yang negatif karena berhubungan dengan “hal yang buruk”. Tapi apa benar demikian untuk Prabowo?

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Positif atau Negatif?

Corporate Finance Institute dalam materi tentang Black Swan menyebut bahwa istilah ini memang cenderung punya makna negatif, apalagi jika melihat semua kejadian yang masuk dalam kategori ini. Namun, tidak ada justifikasi langsung bahwa Black Swan adalah hal yang muluk negatif. Semuanya bergantung pada perspektif yang dipakai untuk menilai kejadian tersebut.

Contohnya, Tsunami Aceh pada 2004 memang menjadi salah satu bencana alam yang sangat buruk – sifatnya tentu sangat negatif. Namun, akibat dari Tsunami itu perdamaian Aceh dapat terwujud setelah pihak-pihak yang bertikai melihat ada persoalan yang lebih besar yang terjadi dan memutuskan untuk mengesampingkan ego masing-masing.

Hal yang sama juga berlaku dalam konteks Sandi. Dengan kekuatan politik Jokowi serta pilihannya yang “bermain aman” dengan menggandeng Kiai Ma’ruf, tentu saja semua orang awalnya melihat pemilihan Sandi adalah hal yang negatif bagi Prabowo. Di semua media sosial hampir semua orang menganggap Prabowo telah salah memilih, dan tidak sedikit yang menyebut Jokowi telah “auto-win” – menang dengan sendirinya.

Dalam konteks politik nasional, Sandi juga masih belum punya banyak pengalaman, utamanya karena baru beberapa bulan menjabat sebagai wakil gubernur di ibu kota. Ia juga masih sangat jauh dari sisi agama – katakanlah jika bicara politik identitas – dibandingkan sosok senior seperti KH Ma’ruf Amin.

Namun, nyatanya pemilihan Sandi juga punya banyak sisi positif. Keputusan Prabowo ini sesungguhnya menunjukkan bahwa sang jenderal juga peduli pada regenerasi politik. Ia juga melihat potensi pemilih muda yang cenderung lebih suka kalau bagian dari generasinya yang memimpin. Generasi ini juga menjadi bagian terbesar dari demografi pemilih Indonesia di 2019 nanti.

Selain itu, Prabowo juga  berpeluang menggeser isu beban politik identitas ke arah Jokowi. Jika Pilpres nanti bebas dari isu agama – mengingat Jokowi-lah yang selama ini diserang dengan isu itu – sangat mungkin KH Ma’ruf justru menjadi “beban” politik bagi Jokowi.

Sementara Sandi, dengan track record-nya sebagai pengusaha, serta latar belakanganya yang juga tidak kalah Islami, adalah pilihan yang jauh lebih baik dalam konteks tersebut. Sandi akan menjadi pilihan yang menguntungkan bagi Prabowo dalam segala aspek yang dibutuhkan untuk Pilpres nanti. Ia punya kekuatan finansial kampanye, ia punya sisi ke-Islaman yang bisa ditonjolkan, dan ia juga punya aspek yang tidak dimiliki Ma’ruf: usia yang muda.

Semuanya akan bergantung pada seberapa kuat pasangan Prabowo-Sandi mengkapitalisasi isu-isu dalam kampanye. Apakah Sandi sebagai Black Swan akan berdampak positif atau negatif akan bergantung pada bagaimana starategi kampanye dan formulasi politik yang digunakan keduanya menghadapi Jokowi.

Yang jelas memilih Sandi telah mengalahkan semua prediksi politik. Pada akhirnya semua akan menanti, kejutan apa lagi yang akan terjadi di waktu-waktu jelang Pilpres nanti, karena seperti kata Nassim di awal tulisan, tentu saja menarik untuk melihat secara persis hal-hal yang seharusnya tidak terjadi. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.