HomeNalar PolitikMahathir Effect, Prabowo Menang?

Mahathir Effect, Prabowo Menang?

Kecil Besar

Kemenangan Mahathir Mohamad di Malaysia mengejutkan sejumlah pihak. Oposisi di tanah air berharap kondisi tersebut dapat mereka replikasi di negeri ini.


PinterPolitik.com

[dropcap]R[/dropcap]ezim enam dekade di Malaysia akhirnya tumbang. Untuk pertama kalinya, UMNO – dan koalisi Barisan Nasional (BN) – kalah dalam Pemilu di negeri jiran tersebut. Masyarakat bersuka cita merayakan berakhirnya partai berbasis etnis Melayu tersebut.

Pakatan Harapan untuk pertama kalinya merebut tahta parlemen Malaysia dari BN. Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad kembali dari masa pensiunnya untuk menjadi PM tertua di dunia dengan usia 92 tahun.

Kemenangan Pakatan Harapan dan Mahathir tersebut juga disambut gembira oleh politikus oposisi di Indonesia. Mereka merasa mendapat angin dari kemenangan itu dan berharap ada “Mahathir Effect” di tanah air. Optimisme mengalir di antara mereka yang berharap bisa mengakhiri kekuasaan Jokowi di 2019 nanti.

Wajar saja jika para politikus oposisi berharap tuah dari “Mahathir Effect”. Momentum kalahnya petahana di Malaysia memang penting untuk segera dikapitalisasi. Akan tetapi, akankah kondisi serupa akan berlaku di Indonesia?

Kleptokrasi Najib Razak

Menurut James Chin dari University of Tasmania, salah satu faktor tumbangnya UMNO yang dikomandoi Najib Razak adalah kleptokrasi yang identik dengan sang Perdana Menteri. Tidak dapat dipungkiri bahwa skandal 1 Malaysia Development Berhad (1MDB) yang menimpanya berperan cukup besar bagi berakhirnya rezim enam dekade.

Menurut Daron Acemoglu dan James A. Robinson, kleptokrasi berperan dalam buruknya kondisi ekonomi dan kemiskinan di negara-negara berkembang. Di rezim kleptokrasi, negara dijalankan untuk keuntungan individu atau segelintir orang. Mereka menggunakan kekuasaan untuk mengirim kekayaan negara kepada pundi-pundi mereka sendiri.

UMNO di bawah Najib terlanjur diidentikkan dengan praktik korupsi di negara bekas jajahan Inggris tersebut. Partai tersebut kemudian mencapat cap baru selain partai rasis, yaitu partai yang melakukan praktik kapitalisme kroni.

Mahathir Effect, Prabowo Menang?

Skandal 1MDB menjadi skandal besar yang mengguncang pemerintahan Najib. Ada dugaan kuat bahwa triliunan rupiah yang dikelola pemerintah dibagikan ke sejumlah petinggi BN. Najib diduga terlibat di dalam kasus ini. Ia dituduh menerima uang hampir 1 miliar Dolar AS melalui transaksi internasional yang kompleks. Inilah yang menjadi penyebab rezim Najib dikategorikan kleptokrasi.

Tuduhan Korupsi di era Najib memang tergolong mengkhawatirkan. Sorotan bahkan tidak hanya ditujukan kepada Najib saja. Istri Najib, Rosman Mansor, menjadi sasaran kemarahan rakyat karena gaya hidup mewahnya yang kerap mengoleksi berlian dan tas-tas dari jenama terkemuka.

Hal tersebut membuat sejumlah masyarakat gerah. Mereka menganggap di bawah UMNO, kondisi perekonomian mereka dalam ancaman besar. Hal ini diperparah dengan naiknya sejumlah barang-barang pokok di era Najib Razak.

Kenaikan ini disebut-sebut dipicu oleh pajak Goods and Services Tax (GST) yang dikeluarkan oleh Najib. Menurut Awang Azman dari University of Malaya, Pakatan Rakyat memiliki kebijakan populis yang akan menghapuskan pajak GST tersebut. Hal ini menurutnya berpengaruh pada kemenangan Pakatan Rakyat.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Kondisi-kondisi di era Najib ini membuat kelompok oposisi mau memadukan kekuatan mereka. Tidak hanya berpadu, oposisi yang dimotori Pakatan Harapan ini juga memiliki kekuatan yang kuat dan mengalami penanjakan popularitas. Kekuatan tersebut juga bertambah kuat karena berhasil memaksa Mahathir untuk turun gunung dan bergabung dengan mereka.

Mahathir Effect

Salah satu faktor utama dari kemenangan Mahathir dan Pakatan Harapan tidak lain adalah Mahathir itu sendiri. Menurut Chin, sebagai sosok yang pernah menjadi Perdana Menteri selama dua dekade, Mahathir jelas memiliki modal yang lebih dari cukup untuk memenangi pemilu.

Bertahun-tahun sudah Pakatan Harapan – sebelumnya Pakatan Rakyat – berjuang menumbangkan rezim UMNO dan BN di Malaysia. Akan tetapi, selama bertahun-tahun pula perjuangan mereka tersebut terbentur oleh kelompok yang berkuasa enam dekade tersebut.

Terlihat bahwa Anwar Ibrahim saja tidak cukup untuk menggeser UMNO dari tampuk kekuasaan di Malaysia. Apalagi, Anwar juga kerapkali harus mendekam di balik jeruji sehingga kekuatannya berkurang. Bergabungnya Mahathir di bawah panji Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) memberi angin baru bagi Pakatan Harapan.

Masyarakat Malaysia memang memiliki pengalaman buruk dengan anggota parlemen dari Langkawi tersebut. Meski begitu, terdapat perubahan pandangan terhadap Mahathir jelang Pemilu 2019. Pasca memutuskan keluar dari UMNO, Mahathir memilih berpadu dengan mantan musuh terbesarnya Anwar Ibrahim dan membesarkan barisan oposisi Pakatan Harapan.

Terdapat perubahan citra dari pria berdarah Melayu tersebut. Selama bertahun-tahun, sang doktor kerap digambarkan sebagai strongman atau orang kuat yang mencengkeram erat kekuasaan di Malaysia. Jelang Pemilu 2019, Mahathir mencoba memunculkan citra sebagai orang tua yang ingin turun tangan memperbaiki kerusakan di negaranya.

Masyarakat Malaysia mulai mengubah pandangannya terhadap pria yang kerap disebut Dr. M tersebut. Terdapat keyakinan bahwa untuk kali ini, Mahathir akan bersikap berbeda saat  berada di puncak kekuasaan. Azman menilai bahwa publik Malaysia mempercayai bahwa Mahathir akan membawa perubahan di negeri jiran. Terlihat bahwa Mahathir kembali populer di negara bekas jajaran Inggris tersebut.

Hal ini seolah menunjukkan bahwa terjadi efek ekor jas seperti yang diungkapkan oleh R. Lee Calvert dan J. Arthur Ferejohn. Berdasarkan teori tersebut, seorang tokoh yang populer dapat memberi pengaruh pada perolehan suara partainya secara keseluruhan.

Terbukti bahwa Pakatan Rakyat mampu mengekor popularitas Dr. M. Misi yang dijalankan sejak 2008 baru berhasil diselesaikan manakala mereka menyatukan kekuatan dengan Mahathir. Dalam konteks ini, Mahathir Effect memiliki peran dalam mengalahkan koalisi BN di Malaysia.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Berharap Momentum di Tanah Air

Lantas, bisakah terjadi Mahathir Effect di Indonesia? Menumbangkan kekuasaan petahana melalui pemilu memang hal yang mungkin terjadi. Akan tetapi, jika melihat faktor-faktor di atas, kondisi yang terjadi di tanah air tidak sama persis dengan Malaysia.

Sepertinya, partai-partai oposisi di tanah air mengharapkan ada bandwagon effect di negeri ini. Mereka berharap bisa mengkapitalisasi kondisi psikologis di Malaysia agar dapat berlanjut di Indonesia.

Meski demikian, menurut Herbert Asher, hingga saat ini masih sulit dibuktikan secara konklusif bahwa bandwagon effect benar-benar dapat bekerja  di dalam Pemilu. Asher menemukan bahwa bandwagon effect tidak benar-benar berpengaruh pada perilaku masyarakat.

Berdasarkan kondisi ini, dapat disimpulkan bahwa kejadian di Malaysia belum tentu benar-benar mempengaruhi hasil Pemilu Indonesia di 2019 nanti. Jika diperhatikan lebih jelas, faktor-faktor di internal Malaysia memegang peranan lebih besar ketimbang sekadar bandwagon effect.

Sulit untuk melihat bahwa terjadi kleptokrasi di Indonesia serupa di negeri jiran. Tentu siapapun mengamini korupsi masih belum benar-benar hilang di negeri ini. Akan tetapi, hingga hari ini belum ditemukan megaskandal serupa 1MDB yang menimpa Jokowi secara khusus.

Ketiadaan kleptokrasi tersebut, membuat pemerintahan Jokowi tidak mengalami penurunan tajam popularitas seperti yang dialami oleh Najib. Jokowi, hingga saat ini masih belum dipandang sebagai musuh bersama yang menyengsarakan rakyat sehingga harus segera ditumbangkan.

Absennya musuh bersama tersebut membuat kekuatan oposisi kesulitan terkonsolidasi. Hingga saat ini, oposisi yang digawangi Gerindra dan PKS masih belum jelas sikap resminya jelang Pilpres 2019. Sejumlah politikus PKS bahkan sempat menyatakan tidak menutup kemungkinan untuk bergabung dengan koalisi Jokowi. Hal ini membuat soliditas barisan Gerindra-PKS belum sekuat Pakatan Harapan.

Selain itu, kalangan oposisi juga tidak memiliki sosok serupa Mahathir Mohamad untuk melakukan Mahathir Effect. Hingga saat ini, kelompok oposisi masih bergantung pada sosok Prabowo Subianto untuk dijual kepada rakyat. Jika dibandingkan Mahathir, Prabowo tidak memiliki pengalaman memimpin dan warisan yang dapat mengakibatkan Mahathir Effect.

Popularitas Prabowo masih belum sebanding dengan Mahathir untuk berharap efek ekor jas pada Gerindra dan PKS. Apalagi, Prabowo juga tidak mengalami perubahan citra seperti Mahathir.

Oleh karena itu, kalangan oposisi tidak bisa hanya berharap pada Mahathir Effect. Kondisi di internal Malaysia tergolong multifaktor sehingga tidak mungkin berharap pada momentum saja. Jika ingin Mahathir Effect berlanjut di tanah air, dinamika yang terjadi di Malaysia harus terjadi terlebih dahulu di Indonesia. Jika hal itu terjadi, maka menumbangkan petahana akan jauh lebih mudah. (H33)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...