HomeNalar PolitikJokowi Harus Jadi Paranoia Konstruktif

Jokowi Harus Jadi Paranoia Konstruktif

Sama dengan kebanyakan negara lainnya, pemerintahan Jokowi juga tampaknya underestimate pada awalnya terhadap pandemi Covid-19. Agar kesalahan yang sama tidak terulang, Presiden Jokowi perlu menjadi seorang paranoia konstruktif. Itu adalah istilah yang dibuat Jared Diamond untuk menggambarkan sikap waspada masyarakat tradisionalis.


PinterPolitik.com  

Di tengah situasi tidak pasti akibat pandemi Covid-19, kehadiran vaksin adalah sesuatu yang begitu dinantikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Betapa tidak, pandemi tidak hanya menjadi bencana kesehatan, melainkan juga bencana ekonomi.

Sadar akan bahaya ekonomi tersebut, pada April lalu, International Monetery Fund (IMF) mengeluarkan peringatan serius karena pandemi Covid-19 dinilai dapat mengakibatkan krisis ekonomi terbesar sejak Great Depression 2008. Potensi krisis ini disebut dengan Great Lockdown.

Mudah memahami bahwa istilah Great Lockdown terinspirasi dari kebijakan lockdown (karantina wilayah) yang menjadi ciri khas penanganan pandemi Covid-19. Kata great kemudian dilekatkan untuk menciptakan makna yang setara dengan Great Depression, sekaligus menjadi pengubah makna istilah lockdown itu sendiri.

Sekarang, Presiden Jokowi tengah dihantui ancaman Great Lockdown. Pun begitu dengan hampir seluruh pemimpin di dunia ini. Untuk terhindar dari ancaman tersebut, vaksin adalah malaikat penyelamat yang begitu dinantikan saat ini.

Persoalan vaksin ini bahkan disebut-sebut menjadi alasan mengapa Budi Gunadi Sadikin ditunjuk menjadi Menteri Kesehatan (Menkes) menggantikan Terawan Agus Putranto. Dalam temuan Tempo yang bertajuk Lobi Merombak Formasi Kabinet, Budi Sadikin ternyata sudah dipersiapkan sebagai Menkes sejak Oktober lalu. Ia disebut telah melakukan perjalanan ke Jenewa dan London untuk melobi sejumlah produsen vaksin Covid-19.

Baca Juga: Tugas Berat Budi Sadikin: Rangkul IDI

Apabila kita keluar dari persoalan vaksin, khususnya terkait perdebatan tingkat keamanannya saat ini, sedikit melihat ke belakang, ada persoalan politik menarik yang dapat diamati. Selaku pemimpin negara yang keputusannya menentukan hajat hidup orang banyak, menjadi pertanyaan tersendiri mengapa pada awalnya pemerintahan Jokowi terkesan underestimate terhadap pandemi Covid-19.

Ketika pandemi Covid-19 ternyata sulit dikendalikan, barulah kemudian berbagai pejabat pemerintah terkejut dan kelabakan. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan juga mengakui bahwa kondisi saat ini memang benar-benar tidak diprediksi.

Atas persoalan underestimate di awal pandemi, Presiden Jokowi bersama dengan para pembantunya sekiranya perlu belajar dari pengalaman Jared Diamond ketika berpetualang menyusuri hutan belantara di Papua dan Papua Nugini.

Paranoia Konstruktif

Sejarawan Amerika Serikat (AS) Jared Diamond dalam bukunya The World Until Yesterday, menuangkan pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat tradisional di Papua dan Papua Nugini yang dapat dipetik sebagai pelajaran hidup. Salah satu yang paling menarik adalah sifat masyarakat tradisional tersebut yang rata-rata menerapkan paranoia konstruktif.

Tidak seperti pandangan umum yang mendefinisikan paranoia sebagai istilah peyoratif, Jared justru menggunakannya dalam artian positif dengan menambahkan kata “konstruktif” di belakangnya.

Istilah paranoia konstruktif bertolak dari pengalaman awal Jared di pedalaman hutan Papua Nugini. Saat itu, Ia memutuskan untuk mendirikan tenda di bawah sebuah pohon yang telah mati. Ketika Jared mengajak orang-orang Papua Nugini yang menemaninya untuk tidur bersama di tenda, muncul reaksi yang menurutnya begitu berlebihan.

Baca juga :  Pratikno, ‘Lord Varys’ untuk Jokowi?

Orang-orang Papua Nugini tersebut begitu ketakukan. Mereka begitu takut pohon mati itu tiba-tiba roboh dan lebih memilih tidur di tempat lain yang agak jauh. Jared tentunya mencoba meyakinkan mereka bahwa pohon tersebut masih kokoh dan butuh waktu bertahun-tahun untuk roboh. Namun, mereka tetap memilih tidur di luar karena begitu ketakutan.

Beberapa hari kemudian, Jared menjadi paham mengapa orang-orang Papua Nugini yang menemaninya begitu ketakutan saat itu. Setiap harinya Jared mendengar suara pohon roboh di kedalaman hutan. Ketika melihat statistiknya, tertimpa pohon roboh ternyata adalah salah satu faktor utama yang membunuh masyarakat tradisional Papua Nugini.   

Dari sana Jared paham bahwa itu bukanlah ketakutan yang berlebihan, melainkan ketakutan yang sangat wajar. Justru karena ketakutan itulah, masyarakat tradisional Papua Nugini dapat meningkatkan kemungkinannya bertahan hidup di hutan belantara yang dapat mengancam nyawa mereka setiap saat. Mereka sangat awas terhadap potensi ancaman.

Baca Juga: Di Balik Jokowi Pecat Terawan

Itu kemudian membuat Jared menyebut ketakutan tersebut sebagai paranoia konstruktif. Sebuah rasa takut positif yang berguna untuk bertahan hidup.

Singapura Contoh Bagus

Jika membawanya pada persoalan politik, khususnya tata pemerintahan, Singapura sekiranya adalah contoh bagus terkait paranoia konstruktif. Setelah diusir dari Federasi Malaysia dan meraih kemerdekaannya pada tahun 1965, Singapura menghadapi begitu banyak masalah sosial-ekonomi.

Di massa sulit itu, Perdana Menteri (PM) pertama Singapura Lee Kuan Yew mengeluarkan pernyataan yang sangat penting. Tuturnya,

“Kami tahu bahwa jika kami sama seperti tetangga kami, kami akan mati. Karena kami tidak dapat menawarkan apa yang mereka tawarkan, jadi kami harus menghasilkan sesuatu yang berbeda dan lebih baik daripada yang mereka miliki. Itu berarti tidak korupsi. Itu berarti efisien, itu berarti meritokratis, itu berhasil.”

Sadar atas segala keterbatasan negaranya, khususnya masalah sumber daya,  Lee Kuan Yew benar-benar menerapkan paranoia konstruktif karena sangat paham negaranya dapat musnah di kemudian hari. Ia kemudian memimpin Singapura dengan ketakutan tersebut, dan sebagai hasilnya Singapura mendapatkan kemajuannya saat ini. Tentunya dengan susah payah.

Paranoia konstruktif juga terlihat jelas dalam respons Singapura terhadap pandemi Covid-19. Ray Junhao Lin, Tau Hong Lee dan David CB Lye dalam tulisannya From SARS to COVID‐19: the Singapore journey memaparkan hal tersebut.

Bertolak dari pengalaman menangani pandemi SARS pada 2003, Singapura memperbaiki dan meningkatkan sistem perawatan kesehatannya untuk bersiap menghadapi pandemi selanjutnya di masa depan. Hebatnya, langkah preventif tersebut dilakukan meskipun SARS hanya menginfeksi 238 penduduk dan mengakibatkan 33 kematian.

Sistem respons wabah penyakit dibentuk. Fasilitas kesehatan seperti ruang isolasi di rumah sakit umum diperbanyak. Fasilitas manajemen penyakit menular dengan 330 tempat tidur yang dibangun khusus dengan fungsi klinis, laboratorium, dan epidemiologi terintegrasi dibangun. Persediaan alat pelindung diri (APD) nasional, obat-obatan kritis dan vaksin hingga 6 bulan juga dipersiapkan.

Baca juga :  Buzzer Anies dan Ganjar, Operasi False Flag?

Baca Juga: Corona, Indonesia Ungguli Singapura?

Tentunya naif mengatakan jika semua negara seperti Singapura. Tapi, persiapan negara di ujung selatan Semenanjung Malaya itu menjadi bantahan tersendiri atas pernyataan Luhut bahwa tidak ada negara yang siap menghadapi pandemi.

“Belanda Masih Jauh”

Sama seperti Singapura yang mempersiapkan fasilitas kesehatan meskipun SARS tidak banyak merenggut korban jiwa, kehati-hatian dan langkah pencegahan ekstra semacam itu benar-benar dilihat Jared dalam diri masyarakat tradisional Papua Nugini.

Setidaknya sampai sebelum tahun 1990-an, masyarakat Papua Nugini kerap mengklaim sepihak suatu teritori dan akan menyerang, bahkan membunuh siapa pun yang masuk ke teritorinya tanpa izin. Oleh karenanya, Jared harus selalu mencari kelompok masyarakat Papua Nugini yang mengklaim daerah yang hendak dipelajarinya untuk meminta izin.

Dalam salah satu ekspedisinya di daratan tinggi Papua, Jared kesulitan mencari kelompok masyarakat yang tinggal di sekitar perkemahannya untuk meminta izin. Alhasil, Ia dan teman-teman Papuanya menyimpulkan mungkin tidak terdapat masyarakat yang mengklaim daerah tersebut.

Namun, di hari ketiga ekspedisi, Gumini, salah satu orang Papua yang menemani Jared menemukan sebuah tongkat yang tertancap tegak lurus. Gumini pun panik dan menyebut tongkat itu sebagai tanda adanya orang Papua yang mengklaim daerah tersebut.

Kendati pada akhirnya mereka tidak menemukan masyarakat Papua yang mengklaim daerah tersebut, temuan Gumini setidaknya membuat mereka menjadi lebih awas dan waspada selama ekspedisi yang berlangsung selama 19 hari.

Membaca tulisan-tulisan para ahli sejarah, rasa awas dan menyiapkan langkah persiapan ekstra seperti itu memang menjadi faktor besar mengapa umat manusia dapat bertahan hidup di tengah para predator. Tidak seperti saat ini, di mana kita dapat menembak harimau dengan senapan, dulunya masyarakat tradisional hanya mengandalkan senjata sederhana.

Oleh karenanya, menjadi pertanyaan tersendiri apabila Presiden Jokowi bersama dengan pembantunya justru terlihat underestimate terhadap ancaman pandemi pada awalnya. Padahal, berbagai epidemiolog dan temuan sejarah telah menegaskan bahwa pandemi di masa depan sangat mungkin untuk terjadi.

Seperti yang dilakukan Gumini, meskipun terbukti tidak ada bahaya nantinya, setidaknya kita menjadi lebih awas dan telah berjaga-jaga.

Di sini, sekiranya Presiden Jokowi dan para pembantunya jangan sampai terjebak dalam adagium, “Belanda masih jauh”. Terkait adagium tersebut, pernyataan Prabowo Subianto ketika menyebut Indonesia bisa bubar pada 2030 mungkin harus dimaknai serius.

Baca Juga: Jokowi Wajib Contohi Meritokrasi Singapura

Seperti Lee Kuan Yew, mungkin pemimpin negeri ini harus membayangkan bahwa Indonesia bisa saja musnah di masa depan. Konteksnya tentu bukan sebagai do’a, melainkan sebagai langkah pencegahan agar dilakukan perbaikan, pembenahan, dan peningkatan. (R53)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Putin-Zelensky dan Adiksi Ultra-Ekstrem Foreign Fighters

Fenomena sub-foreign fighters, yakni “tentara turis” mulai menjadi materi analisis menarik karena eksistensinya yang marak dan dilembagakan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui Ukrainian Foreign Legion atau Legiun Internasional Ukraina. Lalu, mengapa beberapa warga negara asing rela mati demi peperangan dan perebutan kepentingan negara lain? Serta seperti apa masa depan dan implikasinya, termasuk bagi Indonesia?

Menakar Takdir Sandiaga di 2029 

Langkah politik Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno pasca Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 masih menjadi tanda tanya. Sebagai politisi muda yang potensial, karier politik Sandi ke depan kiranya benar-benar ada di tangannya sendiri secara harfiah. Mengapa demikian?

Mustahil Prabowo Jadi Diktator?

Banyak media asing menilai Indonesia akan jatuh ke otoritarian di bawah Prabowo Subianto. Namun, apakah hal itu mungkin? Ataukah mustahil?

Desain Politik Jokowi di Balik Pelantikan AHY? 

Pelantikan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) tuai beragam respons dari publik. Kira-kira motif politik apa yang tersimpan di balik dinamika politik yang menarik ini?

Republik Rakyat Komeng

Nama Komeng jadi trending topic yang dibicarakan semua orang. Sebabnya karena suara pelawak kondang yang maju di Pemilu 2024 untuk tingkatan DPD ini tembus hingga 1,9 juta di hitung suara KPU dengan posisi data masuk baru 60 persen.

RK Gagal Jakarta-1, Golkar Rungkat? 

Kerugian besar kiranya akan ditanggung Partai Golkar jika melewatkan kesempatan untuk mengusung Ridwan Kamil (RK) di Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2024. Mengapa demikian?

Suksesor Prabowo, AHY vs Tiga Jenderal?

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tampak cukup bersaing dengan tiga purnawirawan jenderal sebagai kandidat penerus Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). Namun, di balik ingar bingar prediksi iitu, analisis proyeksi jabatan strategis seperti siapa Menhan RI berikutnya kiranya “sia-sia” belaka. Mengapa demikian?

Ini Penyebab Anies-Imin Kalah di Jawa Timur

Perolehan suara Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin di Jawa Timur jadi yang terendah. Padahal, pemilihan Cak Imin sebagai cawapres Anies punya tujuan utama untuk menggaet pemilih di Jawa Timur yang merupakan salah satu lumbung suara utama.

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...