HomeNalar PolitikInformasi Bias, Pilpres Membosankan

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Kecil Besar

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan?


PinterPolitik.com

“Kebohongan terbesar yang diderita oleh manusia adalah dari opininya sendiri.” ~ Leonardo da Vinci Share on X

[dropcap]J[/dropcap]elang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal 23 September ini, baik pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto -Sandiaga Uno sudah mempersiapkan tim kampanyenya masing-masing. Meski begitu, isu yang digadang kedua kubu, masih belum terlihat ada yang baru.

Sebagai kubu penantang, baik Prabowo maupun Sandiaga memang terlihat yang paling aktif menyerang. Isu yang diangkat pun tak jauh dari seputar utang luar negeri, kedaulatan ekonomi, dan belakangan nilai tukar rupiah yang melemah. Tema ini memang dianggap sebagai kelemahan terbesar pemerintahan Jokowi.

Selain dari tema di atas, sepertinya tidak ada isu lain yang terlalu mendapatkan perhatian dari pasangan Prabowo maupun Sandiaga, sehingga wacana yang dilontarkan ke masyarakat terkesan itu-itu saja dan mulai membosankan. Kondisi ini, sebelumnya juga telah diungkapkan oleh Managing Director Cyrus Network Eko Dafid Afianto.

Menurut Eko, situasi membosankan memang sangat mungkin terjadi akibat calon presiden yang akan berlaga di Pilpres telah pernah berhadapan sebelumnya. Keduanya pun telah dikenal masyarakat dan sama-sama memiliki pendukung fanatik, akibatnya tidak ada faktor baru yang mampu menggugah keingintahuan masyarakat.

Tidak adanya isu baru yang mampu dilontarkan pihak oposisi, juga dinyatakan oleh Sekjen Relawan Nasional 212 Jokowi Presiden Republik Indonesia (Renas 212 JPRI), Adnan Rara Sina. Di matanya, saat ini oposisi terlihat mulai kehabisan amunisi untuk ditembakkan ke Jokowi, namun selalu gagal mengenai sasaran.

Adnan mencontohkan, tudingan-tudingan yang kerap dilontarkan Sandiaga mengenai kenaikan harga kebutuhan pokok akibat nilai rupiah yang terus merosot, tak mampu menggaet simpati seluruh emak-emak maupun generasi millenial. Bahkan cenderung menjadi bumerang bagi Sandiaga sendiri, akibat di lapangan ternyata tidak terbukti.

Sandiaga dan Kebenaran Informasi

“Manusia begitu sederhana dan cenderung patuh pada kebutuhan yang mendesak, akibatnya para penipu pun tak akan kekurangan korbannya.” ~ Niccolo Machiavelli Share on X

Setelah resmi menjadi cawapres pendamping Prabowo, Sandiaga belakangan terlihat begitu rajin melakukan blusukan ke berbagai kampung dan daerah. Bahkan mantan wagub DKI Jakarta ini sudah mulai menggalang kekuatan emak-emak untuk ikut bergerilya mengkampanyekan dirinya.

Strategi Sandiaga yang memanfaatkan penampilan dalam menarik simpati pemilih perempuan ini, dipuji sebagai langkah awal yang baik oleh pengamat politik Emrus Sihombing. Apalagi, manuver tersebut terlihat dilakukan atas inisiatifnya sendiri tanpa didampingi oleh Prabowo.

Namun, di sisi lain, ia juga melihat kalau manuver solo Sandiaga ini, kemungkinan besar dilakukan karena masih belum matangnya tim pemenangan di kubu oposisi. Ketidaksiapan pihak oposisi ini juga diamini oleh pengamat ekonomi-politik CSIS, Yose Rizal Damuri yang mencermati dari kurang tertatanya pernyataan-pernyataan Sandiaga.

Baca juga :  Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Salah satu pernyataan asal lontar itu, terbukti dari kritikannya pada Ridwan Kamil yang akan ikut menjadi juru kampanye bagi kubu Jokowi. Namun secara santai, Gubernur Jawa Barat tersebut meminta Sandiaga untuk berkaca, karena sebelumnya ia juga pernah menjadi juru kampanye bagi Sudirman Said dan Ahmad Syaikhu.

Begitu juga ketika Sandiaga mengkritik tingginya harga tempe di pasaran dengan pernyataan “tempe setipis ATM” maupun “Rp 100 ribu hanya dapat bawang dan cabai”, mendadak menjadi bumerang bahkan olok-olok bagi dirinya, karena apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

Yose Rizal melihat, sindiran yang digunakan Sandiaga untuk memperlihatkan harga tempe yang mahal sehingga sama tipisnya dengan kartu ATM, sebenarnya pernah juga digunakan oleh mantan Presiden AS, Bill Clinton. Saat melakukan kampanye, Clinton sengaja menggunakan bahasa ekonomi yang disederhanakan agar mudah dimengerti.

Penggunaan bahasa yang diistilahkan Clinton sebagai it’s stupid economy tersebut, memang lebih mudah dipahami masyarakat awam. Tapi sayangnya, perumpamaan yang digunakan oleh Sandiaga dianggap masyarakat sebagai hal yang terlalu dilebih-lebihkan (hiperbola), akibatnya malah kebenaran akan ucapannya menjadi bias (truth bias).

Bias informasi ini, berdasarkan interpersonal deception theory dari David B. Buller dan Judee K. Burgoon, akan menimbulkan kecurigaan kalau ia tengah berbohong di mata masyarakat yang bukan pendukungnya. Apalagi pernyataan tersebut, memang sengaja dilontarkan Sandiaga dengan tujuan menjatuhkan lawan (conventional demand).

Pilpres dan Dengungan Membosankan

“Kita selalu bisa membodohi beberapa orang atau kadang-kadang ke semua orang, namun kita tidak bisa membodohi semua orang setiap saat.” ~ Abraham Lincoln Share on X

Kurangnya perhatian Jokowi pada sektor perekonomian, karena cenderung terfokus pada pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, memang menjadi keuntungan bagi pihak Prabowo dan Sandiaga sebagai oposisi. Begitulah setidaknya menurut Direktur Eksekutif Alvara Research Center, Hasanuddin Ali.

Memanfaatkan peluang tersebut, tak heran bila kemudian Prabowo lebih banyak memberikan ‘panggung’ bagi Sandiaga untuk tampil di masyarakat. Sebagai pengusaha muda, Sandiaga tak hanya diidolakan emak-emak, tapi juga dianggap lebih memahami sektor ekonomi dibanding mantan Danjen Kopassus tersebut.

Baca juga :  Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Apalagi menurut Hasanuddin, bila Sandiaga mampu memainkan isu tersebut dengan baik, bisa jadi peluang ini akan menjadi karpet merah bagi keduanya dalam menggapai kursi kepemimpinan. Sehingga, sangat disayangkan apabila kesempatan emas ini malah disia-siakan dengan mengumbar pernyataan yang bisa menciptakan bias kebohongan.

Bias kebenaran, seperti yang dikatakan oleh Buller dan Burgoon, akan cenderung menjadi kebohongan ketika informasi yang disampaikan berubah-ubah, tidak konsisten, dan pesannya tidak pasti. Ciri ini pula yang dilihat masyarakat, ketika Sandiaga kemudian meralat dan menyatakan kalau istilah “tempe setipis ATM” bukan berasal dari dirinya.

Padahal, Prabowo pernah menyatakan kalau di jajaran timsesnya akan diperkuat oleh para ekonom berkelas, seperti Kwiek Kian Gie, Rizal Ramli, dan bisa jadi juga Faisal Basri. Selain terkenal karena kepiawaiannya, ketiga ekonom nasional ini juga kerap melontarkan berbagai kritikan mengenai cara penanganan pemerintah di sektor ekonomi.

Fakta inilah yang menguatkan pernyataan Emrus sebelumnya, kalau serangan yang dilakukan Sandiaga menjadi gambaran betapa tidak siapnya tim pemenangan Prabowo dalam mengolah isu ekonomi. Ibarat sebuah perburuan, tembakan Sandiaga yang melesat dari sasaran malah membuat dirinya sendiri terluka oleh buruannya.

Di sisi lain, dari segi pragmatisme, bisa jadi Sandiaga sebenarnya hanya berusaha memanfaatkan momentum semata. Sehingga secara spontan dan tak berpikir panjang, melontarkan pernyataan yang dikiranya akan mampu mendatangkan keuntungan, tanpa mempertimbangkan dampak bias negatif yang ditimbulkan nantinya.

Bagi pendukung Sandiaga, bias tersebut menguntungkan karena dipercaya sebagai kebenaran. Bagi pendukung Jokowi, bias tersebut menjadi manipulasi informasi karena tidak sesuai dengan fakta. Sementara bagi massa mengambang (swing voters), informasi bias hanya menjadi echo chamber (ruang gema) yang tak memberi efek apa pun.

Massa mengambang yang sebagian besar merupakan pemilih rasional dan jumlahnya mencapai 30 persen dari total pemilih ini, umumnya tidak tertarik dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat bias ala Sandiaga. Sehingga kerumunan di media sosial umumnya hanya diisi oleh diskusi dan perang antar pendukungnya sendiri.

Dampaknya, tentu saja tidak akan mempengaruhi elektabilitas kubu Prabowo dan Sandiaga, apalagi bila terbukti pernyataan itu tak sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi malah akan membuat para pemilih mengambang menjadi enggan memilih, bahkan bosan dengan isu-isu Pilpres yang terus menerus didengungkan tanpa berisi kebenaran.  (R24)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...

Erick Thohir, Politik dan Bisnis

Mulai maraknya para pengusaha muda yang masuk ke dunia politik, menciptakan pergeseran oligarki di tanah air. PinterPolitik.com Walau bukan lagi jadi kejutan, karena sebelumnya KH. Ma’ruf...