HomeNalarHary Tanoe, Trump-nya Indonesia?

Hary Tanoe, Trump-nya Indonesia?

Dengan latar belakang yang sama sebagai pengusaha, Hary Tanoe dan Donald Trump dianggap punya banyak kesamaan. Cara pandang sebagai pengusaha dalam mengambil strategi juga diterapkan keduanya di pentas politik. Kesamaan ini yang kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah Hary Tanoe dapat mengikuti langkah sukses Donald Trump sebagai politisi?


PinterPolitik.com

Secara umum, kehadiran sosok pengusaha dalam pentas politik merupakan sesuatu yang lumrah dan dianggap biasa saja. Namun, hal itu berbeda jika melihat pengusaha media, yaitu Hary Tanoesoedibjo. Saat ini ia diketahui sebagai pendiri Partai Persatuan Indonesia (Perindo), yang juga sebelumnya pernah bergabung dengan Partai Nasdem dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), menjadi layak untuk disoroti.

Melalui Partai Perindo yang saat ini sedang dipimpinnya, Hary Tanoe mencoba membangun narasi besar partai yang inklusif dan juga lebih condong mengikuti konstituen atau pemilihnya dalam bersikap. Sebagai contoh, demi memperkuat komitmennya sebagai partai yang inklusif dan upaya membentuk ekosistem demokrasi digital yang mampu memperkuat partisipasi politik. Dalam proses pencalonan anggota legislatif, Perindo menggelar program Konvensi Rakyat.

Konvensi Rakyat merupakan program penjaringan secara daring bagi Warga Negara Indonesia yang berminat mendaftarkan diri sebagai Bakal Calon Anggota Legislatif (Bacaleg) di semua tingkatan pemilihan (DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, dan DPR-RI) melalui Partai Perindo dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan.

Baca juga: Hary Tanoe Gagal Dinner

Konvensi Rakyat

TGB. H. Muhammad Zainul Majdi, Ketua Dewan Nasional Konvensi Rakyat, mengatakan, bahwa dalam rentang waktu kurang dari 3 bulan, Konvensi Rakyat telah diminati oleh lebih dari 650 kandidat pendaftar dan terus bertambah.

Hal ini memberikan gambaran nyata bahwa ikhtiar pembentukan ekosistem demokrasi digital terus diterima dan tumbuh di tengah masyarakat. Karena itu, upaya Partai Perindo lewat Konvensi Rakyat ini menjadikannya sebagai partai modern pertama yang menggelar demokrasi digital.

- Advertisement -

Dengan membangun narasi Konvensi Rakyat, Perindo ingin memperlihatkan sifat inklusif partai. Hal ini penting untuk mengambil ceruk sura yang masih mengambang (floating mass), di mana jelang pemilu semua suara pemilih masih akan cair selain pemilih ideologis parpol.

Konsep ini adalah salah satu strategi marketing parpol yang merujuk pada konsep pasar, di mana aturan partai perujuk pada keinginan besar pasar. Konsep ini disebut free market policy, yaitu salah satu konsep dalam teori marketing politik.

Konsep ini mengandaikan situasi politik seperti pasar bebas, sehingga semua orang yang terlibat di dalamnya mempunyai peluang untuk saling tawar dan tidak terikat oleh aturan baku selain aturan pasar itu sendiri. Banyak yang menilai strategi Perindo ini tidak lepas dari karakter dan cara berpikir Hary Tanoe sebagai pebisnis yang juga sangat akrab dengan istilah pasar bebas.

Nah, jika di Indonesia punya Hary Tanoe, maka Amerika Serikat (AS) punya Donald Trump, keduanya bisa dikatakan rekan bisnis, mungkin juga mereka sahabat, mengingat beberapa momen menunjukkan kedua pengusaha sekaligus politisi ini cukup akrab.

Baca juga :  Airlangga Gugup Sebelum Nyapres?

Seperti yang diberitakan majalah bisnis dan ekonomi dunia, Forbes, ketika melakukan wawancara khusus dengan Hary Tanoe, ditulis bahwa kesuksesan dan jejak karier Hary Tanoe sebagai salah satu miliarder di Asia memiliki kemiripan dengan yang dijalani oleh Trump.

Lantas, seperti apa membandingkan kedua tokoh ini dalam pengalaman bisnis dan politik mereka?

Baca juga: AHOK – Hary Tanoe : Rekam Jejak Politikus Tionghoa

Hary Tanoe dan Donald Trump

Dalam karier bisnis, awalnya Trump memulai karier di perusahaan ayahnya, Elizabeth Trump & Son yang berkonsentrasi di bidang penyewaan rumah kelas menengah di New York. Kemudian pada tahun 1971, ia pindah ke Manhattan dan terlibat dalam proyek pembangunan gedung lebih besar.

- Advertisement -

Pada sekitar akhir tahun 1990-an, bisnis Trump mengalami kebangkitan. Setelah ayahnya meninggal pada tahun 1999, surat warisan meninggalkan harta sekitar US$250 – 300 juta untuk dibagi rata pada empat anaknya.

Banyak juga yang menyoroti bisnis Trump di bidang hiburan, Trump memiliki Trump Productions yang membuat konten untuk siaran televisi. The Apprentice merupakan salah satu reality show yang menampilkan Trump. Selain itu, dia juga memiliki acara kecantikan Miss Universe.

Sementara Tanoe memulai kariernya sebagai investment banker dan mendirikan Bhakti Investments yang kemudian diganti menjadi PT Bhakti Investama Tbk di Surabaya pada tahun 1989. Bhakti Investama adalah perusahaan investasi yang bergerak di bidang layanan keuangan, media dan sumber daya alam. 

Banyak informasi yang beredar bahwa kekayaan Tanoe juga tidak lepas dari keluarga Cendana. Dia mengakuisisi saham PT Bimantara Citra dari Bambang Trihatmodjo, anak mantan Presiden Suharto. Bimantara adalah cikal bakal perusahaan media PT Global Mediacom Tbk (BMTR), yang kini membawahi stasiun televisi RCTI.

Yang menarik, pengembangan hotel di kawasan wisata di Lido adalah kerja sama Tanoe yang kedua dengan Trump setelah pengembangan Trump Hotel Collection di Bali. Tahun 2015 Tanoe masuk ke jajaran orang terkaya di Indonesia dengan nilai harta US$1,13 miliar menurut Forbes dan menduduki peringkat 15 di Indonesia. Dia merupakan miliarder nomor 1.324 di dunia.

Tanoe kemudian masuk ke dunia politik sejak 2011 ketika mengumumkan bergabung dengan Partai Nasdem dengan posisi Ketua Dewan Pakar dan Wakil Ketua Majelis Nasional. Akan tetapi, pada awal 2013 Tanoe mengundurkan diri karena perbedaan pandangan.

Tidak lama jelang keluar dari Partai Nasdem, Tanoe bergabung dengan Partai Hanura yang diinisiasi oleh Wiranto untuk menjadi calon wakil presiden. Namun, ketika partai kurang suara dan memilih mendukung Jokowi dan Jusuf Kalla, Tanoe pun keluar karena menyokong Prabowo-Hatta. Akhirnya, Tanoe mendirikan ormas yang akhirnya menjadi sebuah partai bernama Perindo.

Tidak jauh berbeda, Trump juga menjajaki dunia politik. Tercatat sejak dua dekade Trump memiliki kontribusi pada kampanye kandidat presiden Republikan dan Demokrat di AS. Pada 2012, Trump mendukung Mitt Romney, dia juga sebelumnya mendukung Ronald Reagan untuk menjadi Presiden AS.

Baca juga :  Megawati: Mega-Diplomat untuk Korsel?

Dia masuk nominasi presiden dari Reform Party pada 2000 dan memenangkan suara partai untuk wilayah California. Pada Juni 2015, Trump mengumumkan pencalonan diri menjadi presiden dari kantornya Trump Tower di New York.

Seperti yang kita ketahui, Trump kemudian terpilih sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat pada pilpres 2016 dari Partai Republik. Pada saat itu, ia mengalahkan calon dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Selanjutnya, ia dilantik pada tanggal 20 Januari 2017.

Melihat perjalanan kedua tokoh ini seolah memperlihatkan kesamaan yang persis dimiliki oleh keduanya. Mulai dari latar belakang dunia bisnis, kedua tokoh ini menjadi konglomerat di negara masing-masing dan akhirya terjun di dunia politik.

Pengaruh latar belakang bisnis juga mempengaruhi kebijakan politik keduanya. Misalnya kebijakan-kebijakan Trump dinilai pengamat  selalu bersandarkan perhitungan bisnis yang paling utama. Salah satu contohnya ketika Trump mengambil keputusan untuk keluar dari Trans Pacific Partnership (TPP) pada tahun 2016.

Nah, hal yang sama juga dilakukan oleh Tanoe, pada level partai politik, yaitu membuat program Konvensi Rakyat Partai Perindo. Hal ini dapat ditafsirkan juga sebagai upaya mengikuti keinginan pasar, dan pasar yang dimaksud adalah keinginan konstituen.

Nah, muncul pertanyaan, lantas seperti apa menjelaskan fenomena kedua tokoh ini yang memulai dari bisnis dan terjun di dunia politik dalam melihat sikap politik mereka? Apakah punya pengaruh terhadap latar belakang seorang pebisnis?

Baca juga: Netflix Bikin Hary Tanoe Kepanasan?

Meraba Epistemic Paradigm Pengusaha

Dalam menjelaskan paradigma kedua tokoh ini, kita dapat menggunakan konsep paradigma pengetahuan (epistemic paradigm). Sederhananya, paradigma yang terbangun dari diri seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan asal yang dimilikinya, atau pengetahuan yang secara kontinyu dijalani.

Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of  Scientific Revolutions, mengatakan, bahwa paradigma dipahami sama dengan worldview (pandangan dunia), general perspective (cara pandang umum), atau way of breaking down the complexity (cara untuk menguraikan kompleksitas).

Makna worldview sebagai kepercayaan, perasaan, dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai penggerak bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral. Perspective sama  dengan world view, di mana diartikan sebagai pandangan manusia terhadap dunia realitas.

Menurut Kuhn, konsep paradigma yang dijelaskan olehnya bersifat incommensurable, yaitu tidak mungkin untuk memahami suatu paradigma dengan perantaraan paradigma lain. Hal ini yang menjelaskan bahwa paradigma pebisnis akan relatif berbeda dengan mereka yang menggunakan paradigma akademisi atau politik murni.

Akhirnya, setelah terlibat dalam politik, yang bekerja dalam benak para tokoh ialah paradigma pengetahuannya atau epistemic paradigm yang akan mempengaruhi tokoh dalam membuat kebijakan atau strategi politik. Jika berasal dari dunia bisnis, maka cara berpikir bisnis akan menjadi landasan paradigma dalam dunia politik. (I76)

Baca juga: Disneyland dan “Genggaman” Hary Tanoe


#Trending Article

Perang! IMF Lebih Kejam Dari Tiongkok?

Krisis ekonomi Sri Lanka membuat banyak pihak memprediksi negara itu akan menjadi negara hancur. Banyak yang menduga bahwa utangnya pada Tiongkok yang menjadi pemicunya. Benarkah demikian?

Ini Alasan Anies Kalahkan Prabowo

Sekitar 23 ribu jemaat menghadiri Sholat Idul Fitri di Kawasan Jakarta International Stadium (JIS) sepekan yang lalu. Sebagai stadion yang dibangun di era kekuasaan...

Video Call, Blusukan Baru Jokowi?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghubungi seorang dokter, perawat, dan guru melalui video call dan saling berbagi kisah mengenai kehidupan profesional yang dilalui dalam menghadapi pandemi Covid-19....

Tradisi Politik Baru ala Jokowi?

Peristiwa ketika Presiden Jokowi menanyakan para menterinya yang ingin maju di pilpres ditafsirkan sebagai tekad RI-1 untuk membawa kultur baru dalam suksesi kepemimpinan nasional 2024. Lantas,...

Elon Musk: The New “Bill Gates”?

Nama CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk disorot media usai beli penuh Twitter. Kini, Musk baru saja bertemu Jokowi. Apakah Musk "Bill Gates" baru?

Wajah Lain PSI Untuk Anies?

Terlihat aneh jika Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memberikan komentar positif terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Bagaimana tidak? PSI terlanjur dikenal dengan brand sebagai partai yang...

Puan-AHY, Duet Dua Dinasti

Di tengah ramainya spekulasi tentang komposisi pasangan kandidat calon presiden (capres), wacana duet Puan Maharani dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dapat menjadi kejutan politik...

Kartini dan Suara Ibu Indonesia

Suara Raden Ajeng Kartini adalah suara perlawanan. Melawan tradisi yang sudah mengakar, menentang apa yang dianggap tabu yang hanya mengenal perempuan berkutat antara dapur,...

More Stories

Kartini dan Suara Ibu Indonesia

Suara Raden Ajeng Kartini adalah suara perlawanan. Melawan tradisi yang sudah mengakar, menentang apa yang dianggap tabu yang hanya mengenal perempuan berkutat antara dapur,...

Tradisi Politik Baru ala Jokowi?

Peristiwa ketika Presiden Jokowi menanyakan para menterinya yang ingin maju di pilpres ditafsirkan sebagai tekad RI-1 untuk membawa kultur baru dalam suksesi kepemimpinan nasional 2024. Lantas,...

Puan-AHY, Duet Dua Dinasti

Di tengah ramainya spekulasi tentang komposisi pasangan kandidat calon presiden (capres), wacana duet Puan Maharani dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dapat menjadi kejutan politik...