HomeHeadlineDi Balik Klaim 1 juta Massa Anies di Makassar

Di Balik Klaim 1 juta Massa Anies di Makassar

Ribuan massa – bahkan ada yang mengklaim hingga jutaan – memadati acara kunjungan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar di Makassar. Tidak sedikit yang mengaitkan itu dengan jumlah besarnya massa yang hadir di acara 212 di akhir tahun 2016 – peristiwa yang berujung pada kemenangan Anies di Pilkada DKI Jakarta. Benarkah ini pembuktian bahwa strategi PDIP mewujudkan 2 pasang calon di Pilpres 2024 akan gagal karena besarnya dukungan organik pada Anies?


PinterPolitik.com

“The best way to predict your future is to create it.”

– Peter Drucker (1909-2005), penulis dan konsultan managemen

Pada Minggu, 24 September 2023 lalu, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mengunjungi Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kunjungan mereka disambut oleh lautan massa yang memadati kawasan Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat di Jalan Jenderal Sudirman.

Ratusan ribu orang – bahkan beberapa pihak memperkirakan hingga 1 juta orang – tumpah ruah mengikuti acara bertajuk “Jalan Gembira” bersama Anies dan Cak Imin. Dalam kunjungan ini, pasangan bakal calon presiden (bacapres) dan bakal calon wakil presiden (bacawapres) ini bertujuan untuk meramaikan kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan car free day (CFD) di Makassar tersebut.

Kedatangan lautan massa ke tempat itu menunjukkan antusiasme mereka terhadap pasangan Anies-Cak Imin atau yang kerap dikampanyekan dengan singkatan AMIN. Dalam kunjungan ini, Anies dan Cak Imin berharap agar jumlah massa yang hadir terus bertambah sampai waktu pencoblosan pada 14 Februari 2024. Dukungan yang tidak pernah berhenti dari masyarakat Sulawesi Selatan menambah optimisme pasangan ini dalam meraih kemenangan pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Yang kemudian jadi pergunjingan adalah soal kepadatan masyarakat dan klaim jumlah 1 juta orang yang berkunjung. Pasalnya, klaim jumlah ini dinarasikan sebagai bentuk dukungan masyarakat pada Anies-Imin. Tidak sedikit yang membandingkan jumlah masyarakat yang hadir ini dengan Aksi Bela Islam 212 pada 2016 lalu yang menjadi penanda awal perubahan narasi politik jelang Pilkada 2017 – momen politik yang dimenangkan Anies dan Sandiaga Uno kala itu.

Klaim jumlah ini menarik, mengingat jumlah penduduk Makassar sendiri pada tahun 2023 hanya menyentuh angka 1,4 juta. Kalaupun banyak warga yang berasal dari luar Makassar, maka jumlahnya pun diprediksi tak sampai menyentuh angka 1 juta. 

Kepolisian Makassar menyebut jika merujuk informasi awal panitia, jumlah yang datang diperkirakan ada di angka 50 ribu orang. Tokoh pemuda Sulawesi, Ashari Rauf, seperti dikutip dari beberapa media nasional, juga menyebut klaim bahwa ada 1 juta peserta dalam Jalan Gembira Anies di Makassar diragukan. Ia mengatakan bahwa klaim tersebut merupakan hal yang wajar dihembuskan dalam upaya meraih simpati publik di tahun politik seperti sekarang ini.

Baca juga :  Menkominfo dan Kegagalan Menteri “Giveaway” Jokowi?

Klaim 1 juta massa ini makin menarik jika dikontraskan dengan posisi Anies-Imin yang dalam beberapa hasil survei selalu ada di posisi paling terakhir. Selain itu, narasi ini memang diupayakan untuk sejalan dengan posisi Anies di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Mulai dari hasil survei yang selalu tertinggal, hingga kini jumlah massa yang membludak.

Pertanyaannya adalah, apakah klaim soal jumlah massa ini bisa efektif untuk Anies-Imin?

anies tidak didaftarkan ke kpu 1008x1024.jpg

The Bigger the Better?

Klaim bahwa “semakin banyak orang semakin baik” sering kali digunakan dalam kampanye politik karena memiliki daya tarik yang kuat bagi pemilih dan memiliki potensi untuk memenangkan dukungan. Dalam kasus Anies dan Cak Imin, hal ini akan jadi penguat argumentasi bahwa dukungan pada keduanya memang besar. Ini bisa jadi kontra narasi soal posisi Anies dan Cak Imin yang belakangan dinilai bisa saja tak jadi maju di Pilpres 2024 karena berbagai alasan.

Nah, terkait klaim jumlah, nyatanya hal yang demikian punya pesan politik tertentu. Klaim soal 1 juta peserta dalam kasus Anies-Imin bisa menciptakan pesan yang optimis dan positif. Pasalnya kampanye politik cenderung ingin menginspirasi harapan dan keyakinan bahwa masa depan akan lebih baik. Ini dapat menggerakkan pemilih untuk mendukung calon atau partai yang mengusung pesan optimis yang bisa diafirmasi jika banyak orang yang mendukungnya dalam kampanye.

Kemudian, pernyataan bahwa “semakin banyak orang semakin baik” memiliki daya tarik universal karena hampir semua orang ingin melihat perbaikan dalam kehidupan mereka dan masyarakat mereka. Ini adalah pesan yang dapat menghubungkan berbagai kelompok pemilih. Selain itu, manusia cenderung merespons pesan yang menghidupkan harapan. Ketika pemilih merasa bahwa ada harapan untuk masa depan yang lebih baik, mereka lebih cenderung untuk berpartisipasi dalam proses politik dan memberikan dukungan mereka.

Dalam konteks pembentukan persepsi, hal ini jelas sangat penting. Dalam teori pembentukan persepsi, individu membentuk, mengorganisir, dan memahami informasi yang mereka peroleh dari dunia di sekitar mereka untuk membentuk pemahaman atau persepsi tentang realitas.

Beberapa psikolog macam George Kelly menyebut individu sebagai “ilmuwan pribadi” yang terus-menerus membentuk dan menguji hipotesis tentang dunia mereka. Klaim jumlah orang yang hadir di acara Anies-Imin bisa menjadi satu variebel yang mempengaruhi persepsi mereka soal Pilpres, pencapaian Anies-Imin, dan perbandingan narasi dengan lawan politik yang lain.

Publik juga bisa menganggap jumlah orang sebagai pembuktian bagus atau tidaknya sebuah narasi politik – hal yang oleh psikolog sosial Albert Bandura, disebut sebagai bagian penting dalam pembentukan persepsi dan perilaku individu yang terbentuk dari pengamatan dan pemodelan perilaku orang lain.

Baca juga :  Sohibul Iman, Ahmad Heryawan 2.0?�

Dalam kampanye politik, pesan seperti ini dapat digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara kandidat atau partai yang bersaing. Klaim semacam ini dapat menyiratkan bahwa alternatif yang tersedia tidak akan mempertahankan atau menciptakan perbaikan yang sama.

Selain itu, klaim yang demikian ini sering kali berbicara langsung pada emosi pemilih. Ini bisa menghasilkan koneksi yang lebih dalam dengan pemilih daripada argumen berdasarkan data atau kebijakan.

Walaupun demikian, perlu dicatat bahwa klaim soal jumlah peserta seperti ini juga dapat menjadi subyek kritik, terutama jika dianggap sebagai retorika kosong yang tidak didukung oleh rencana konkret atau pemenuhan janji. Selain itu, bisa jadi ada persepsi tentang kebohongan publik yang bisa saja dituduhkan oleh lawan politik.

kalahkan anies misi ahy demokrat 1024x1024.jpg

Anies Tak Bisa Diremehkan

Terlepas dari pro kontra soal jumlah peserta Jalan Gembira Anies-Cak Imin, efek kegiatan ini tidak bisa dianggap remeh. Banyaknya warga yang hadir menunjukkan bahwa Anies dan Cak Imin adalah dua tokoh yang perlu diperhitungkan dalam konteks peluang pencalonannya di 2024.

Jika ingin dianalisis secara mendalam, setidaknya ada tiga alasan mengapa Anies Baswedan secara khusus diprediksi bisa menang di Pilpres 2024.

Pertama, Anies Baswedan memiliki pengalaman sebagai gubernur DKI Jakarta dan mampu membangun citra positif di mata masyarakat. Komunikasi politik Anies dianggap menarik, khususnya di kalangan pemilih kelas menengah ke atas.

Kedua, Anies Baswedan memiliki basis massa yang kuat di Jakarta dan sekitarnya. Ini sudah terbukti sejak Pilkada 2017 hingga tahun-tahun setelahnya.

Dan ketiga, Anies Baswedan memiliki kemampuan untuk membangun koalisi yang solid dengan partai politik lain, utamanya dengan PKS. Selain itu, meski Partai Demokrat telah keluar dari koalisi, terlihat bahwa dalam perjalanannya Anies cukup baik dalam berkomunikasi dan berproses dengan partai tersebut. Ini jadi kapabilitas yang penting bagi Anies.

Walaupun demikian, beberapa pihak lain juga masih menganggap Anies sebagai kandidat yang berkemungkinan paling besar tereliminasi jika dua poros koalisi terbentuk pada Pilpres 2024, meski isu ini masih bersifat spekulatif dan belum terkonfirmasi. Apalagi, Cak Imin juga masih punya ganjalan hukum terkait kasus “Kardus Duren” yang berpotensi akan jadi batu sandungan.

Well, apapun itu, yang jelas setiap sudut punya pendasaran pemikirannya masing-masing. Menyebut klaim 1 juta massa punya motif politik pun tak akan banyak berpengaruh jika politik tidak digeser ke arah jualan gagasan. Oleh karena itu, menarik untuk ditunggu gebrakan-gebrakan apa yang akan ditawarkan Anies dan Cak Imin ke depannya. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Misteri Post Power Jokowi

Setelah dua periode memimpin Indonesia, masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan berakhir.

Rahasia di Balik Polemik Israel-PBNU?

Pertemuan “oknum” Nahdliyin dengan Presiden Israel Isaac Herzog mendapat kritik tajam di tanah air, termasuk dari PBNU sendiri. Namun, perdebatan akan esensi penting dibalik peran konkret apa yang harus dilakukan untuk perdamaian di Palestina kembali muncul ke permukaan. Meski kerap dianggap kontroversial, PBNU kiranya memang telah lebih selangkah di depan. Benarkah demikian?

Trump Ditembak, Ngefek ke Prabowo?

Upaya penembakan Donald Trump bisa berujung pada tumbangnya Joe Biden? Apa efeknya ke pemerintahan Prabowo Subianto ke depannya?

Mengapa Barat Bisa ‘Kuasai’ Dunia?�

Negara-negara Barat tidak dipungkiri telah jadi ‘kiblat’ dari perkembangan negara modern selama beberapa dekade terakhir. Lantas, mengapa Barat bisa lebih maju?�

Rela “Disandera” PDIP, Ganjar Bukan Jokowi?

Pemberian jabatan bagi Ganjar Pranowo di struktur DPP PDIP kiranya hanya merupakan strategi manajemen impresi temporer demi kohesivitas partai menjelang Pilkada 2024 dan tak menjadi jaminan bagi sang Gubernur Jawa Tengah 2013-2023. Benarkah demikian?

Operasi ‘Sudutkan’ Erick Thohir?

Berbagai persoalan melanda sejumlah BUMN. Sebagai menteri BUMN, Erick Thohir semakin tersudutkan di penghujung masa jabatannya.

Koalisi Pilkada, Tes dari Prabowo?

Partai-partai politik sedang bernegosiasi dan bicara soal koalisi-koalisi di Pilkada 2024. Mengapa ini juga penting bagi pemerintahan Prabowo nanti?

Menkominfo dan Kegagalan Menteri “Giveaway” Jokowi?

Menkominfo Budi Arie tengah mendapatkan sorotan dari banyak pihak. Ini pasca kasus peretasan yang terjadi pada Pusat Data Nasional oleh peretas Brain Chiper.

More Stories

Misteri Post Power Jokowi

Setelah dua periode memimpin Indonesia, masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan berakhir.

Menkominfo dan Kegagalan Menteri “Giveaway” Jokowi?

Menkominfo Budi Arie tengah mendapatkan sorotan dari banyak pihak. Ini pasca kasus peretasan yang terjadi pada Pusat Data Nasional oleh peretas Brain Chiper.

Royal Rumble Pilkada: Jokowi vs Mega vs Prabowo

Pilkada 2024 akan makin menarik karena melibatkan pertarungan perebutan pengaruh para elite. Ini penting karena kekuasaan di level daerah nyatanya bisa menentukan siapa yang paling berpengaruh di level elite.