HomeNalar PolitikDigerogoti Kasus, Jokowi Seperti Pompey?

Digerogoti Kasus, Jokowi Seperti Pompey?

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut

Mendekati akhir jabatannya, sejumlah masalah mulai menggerogoti Presiden Joko Widodo (Jokowi). Apakah ini artinya dukungan elite kepadanya mulai melemah?


PinterPolitik.com

Ketika masa-masa awal Pemilihan Presiden 2024 (Pilpres 2024), mungkin sebagian besar orang akan setuju bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki kekuatan politik yang begitu besar. Siapa pun, pada saat itu, tampak saling berebut โ€œrestuโ€ Jokowi. Tanpa terkecuali Anies Baswedan, yang sempat temui Gibran Rakabuming Raka di Kota Solo pada November 2022.

Dengan pengaruhnya yang begitu besar di akhir periode, banyak pengamat politik kala itu menilai bahwa Jokowi tampaknya merupakan anti-tesis dari teori lameduck president, sebuah istilah yang meyakini bahwa pengaruh politik seorang presiden akan melemah di akhir periode.

Namun, di sisa 2 bulan terakhir jabatannya ini, apakah pandangan tersebut masih berlaku untuk Jokowi? Well, kalau kita lihat perkembangan berita, jawabannya sepertinya: tidak.

Kalau kita perhatikan baik-baik, saat ini Jokowi dan masing-masing โ€œpenerusโ€-nya tampak semakin tertodong kasus hukum. Kaesang Pangarep mulai tersandera dugaan gratifikasi jet pribadi, yang juga ikut menyeret kakaknya, Gibran. Sementara, Jokowi sendiri tampaknya โ€œdikelitikiโ€ kasus rasuah timah setelah namanya disebut oleh salah satu saksi untuk Helena Lim, dkk. Jokowi disebut minta agar tambang illegal dibina agar jadi legal.

Dalam perspektif politik, kasus-kasus tersebut layak membuat kita bertanya-tanya tentang soliditas dukungan serta kekuatan politik Jokowi. Apakah ini adalah indikasi bahwa pengaruh politik Jokowi kian melemah?

image

Jokowi dan Pompey Magnus

โ€œPolitik itu dinamisโ€. Adagium ini mungkin merupakan pepatah paling diyakini oleh banyak orang ketika mereka pertama kali menaruh perhatian kepada politik. Kendati satu aktor politik adalah musuh dari lawannya pada tahun ini, tetapi bisa saja pada tahun depan ia menjadi pendamping dari lawannya tersebut.

Karena dinamisnya politik, salah satu alasan utama yang dapat diasumsikan terkait melemahnya kekuatan politik Jokowi pun adalah kecenderungannya mengandalkan political loyaltyโ€”kesetiaan para politisi dan elite politik. Kesetiaan ini, bagaimanapun, memiliki sifat yang sangat rapuh dan mudah berubah. Untuk memahami situasi ini dengan lebih baik, kita bisa melihat sebuah analogi yang menarik dalam sejarah Romawi, yaitu perbandingan antara Julius Caesar dan Pompey.

Baca juga :  Prabowo's Coffee Theory

Pompey adalah seorang pemimpin yang awalnya memiliki posisi yang sangat kuat secara politik. Dengan dukungan dari Senat Romawi dan sebagian besar elite aristokrasi, dia tampak tidak terkalahkan. Namun, salah satu kelemahan utama Pompey adalah ketergantungannya pada political loyalty dari para senator dan elite politik. Kesetiaan yang berasal dari kelompok ini terbukti sangat mudah goyah ketika situasi berubah.

Pada akhirnya, Pompey kalah dari Julius Caesar, seorang jenderal dan pemimpin politik yang berhasil memanfaatkan dua bentuk kesetiaan yang lebih kuat dan berkelanjutan: military loyalty dan people loyalty.

Caesar tidak hanya memiliki dukungan dari pasukan militernya, tetapi juga dari rakyat. Military loyaltyโ€”kesetiaan para prajuritnyaโ€”diperoleh melalui hubungan yang dibangun dari kepercayaan dan rasa hormat. Caesar tidak hanya memerintah dari jauh, tetapi turun langsung ke medan perang bersama prajurit-prajuritnya, menunjukkan keberanian dan kepemimpinan yang kuat.

Ini menciptakan hubungan yang kuat dengan pasukannya, menjadikannya pemimpin yang didukung penuh oleh mereka. Selain itu, Caesar juga sangat ahli dalam menggalang people loyalty. Melalui kebijakan yang populis, dia mendapatkan dukungan dari rakyat, terutama kelas bawah dan menengah yang merasakan manfaat langsung dari kebijakan-kebijakannya.

Sebaliknya, Pompey lebih nyaman mengandalkan para aristokrat dan elite politik. Kesetiaan politik ini, seperti yang terbukti dalam sejarah, adalah kesetiaan yang sangat mudah goyah. Ketika situasi berubah, para politisi lebih sering mengikuti arah yang menguntungkan mereka, bukan pemimpin yang mereka dukung. Pada akhirnya, ketika Caesar maju dengan kekuatan rakyat dan militer di belakangnya, para pendukung Pompey dengan cepat beralih pihak atau mundur, menyebabkan kekalahannya di medan perang.

Kondisi ini memberikan analogi yang relevan dengan apa yang mungkin mulai terjadi pada Jokowi saat ini. Selama masa-masa akhir kepemimpinannya, Jokowi tampak sangat mengandalkan dukungan dari elite politik dan koalisi partai politik. Namun, sama seperti Pompey, political loyalty dari para politisi dan elite partai bukanlah kesetiaan yang dapat diandalkan untuk jangka panjang.

Baca juga :  Jebakan Rindu Soeharto?

Lantas, mungkinkah Jokowi bernasib sama seperti Pompey, yakni ditinggal orang-orang yang selama ini tampak setia padanya?

image

Jangan Melupakan Sejarah

Elite politik cenderung oportunistik, mengalihkan dukungan ketika situasi politik berubah atau ketika ada tokoh yang dianggap lebih kuat atau lebih menjanjikan secara elektoral. Ketika Jokowi mulai kehilangan pengaruh dan muncul pesaing baru yang lebih kuat, bisa jadi para politisi yang sebelumnya mendukungnya akan mulai mencari perahu politik baru yang lebih menguntungkan.

Pada saat yang sama, Jokowi tampaknya tidak memiliki kekuatan military loyalty atau people loyalty yang cukup kuat. Hubungan Jokowi dengan militer tidak pernah benar-benar menonjol, hanya sebagai panglima tertinggi ketika dirinya menjadi presiden, berbeda misalnya dengan Prabowo Subianto yang memang dikenal sebagai tokoh berpengaruh dalam militer sebelum dirinya terpilih jadi presiden.

Sementara itu, terkait dukungan dari rakyat kepada Jokowi, meskipun masih ada, tidak selalu sekuat di awal kepemimpinannya. Kebijakan-kebijakan populis yang pernah membuatnya dicintai banyak orang kini tak lagi banyak terdengar, terutama dengan berbagai tantangan ekonomi dan politik yang dihadapi negara.

Dalam konteks ini, kesalahan terbesar yang mungkin dilakukan Jokowi adalah ketergantungannya pada political loyalty, yang sama rapuhnya dengan yang dimiliki Pompey. Tanpa kekuatan people loyalty dan military loyalty yang dapat menopang pengaruh politiknya, Jokowi bisa menghadapi situasi yang serupa dengan Pompey: kehilangan kekuasaan ketika para elite politik yang dulu mendukungnya beralih ke pihak yang lebih kuat atau lebih menguntungkan secara politis.

Terlebih lagi, suka tidak suka tampuk kekuasaan sudah hampir saatnya berganti. Oktober nanti, Jokowi mau tidak mau akan menjadi seseorang yang secara de facto tidak akan memiliki akses kekuatan seperti yang sekarang ia miliki. Maka dari itu, penting untuk kita pertanyakan kembali, kira-kira sampai kapan loyalitas para elite tersebut akan terjaga? (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?ย 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje โ€” apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing