HomeNalar PolitikAnies-Sudirman Lulus Atau Dipecat?

Anies-Sudirman Lulus Atau Dipecat?

Kecil Besar

Pak Anies mengatakan kepada Pak Sudirman Said bahwa mereka berdua ‘lulus cepat’ dari kabinet Jokowi. Apa maksudnya ya?


PinterPolitik.com

[dropcap]S[/dropcap]etelah menang di Jakarta, kelihatannya Partai Gerindra nggak mau berpangku tangan menyongsong Pilkada serentak dan Pilres 2019. Mereka mulai melebarkan sayap ke daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi sasaran pijakan selanjutnya adalah Jawa Tengah.

Di daerah ini, Partai berlambang Rajawali ini sepakat untuk mengusung Pak Sudirman Said, mantan Menteri ESDM dalam kabinet Jokowi. Terkait jabatan yang pernah diembannya itu, Pak Anies Baswedan ikut nyeletuk.

Pak Anies yang juga mantan Mendikbud mengatakan kepada Pak Sudirman bahwa mereka berdua ‘lulus cepat’ dari kabinet Jokowi. Entah ini dalam konteks guyon atau sindiran, tapi komentar Pak Anies malah jadi bahan nyinyiran netizen.

Misalnya, dalam cuitan pemilik akun @GzlWorld yang mengatakan bahwa maksud dari Pak Anies untuk menegaskan bahwa ia dan Pak Sudirman sama-sama berstatus ‘mantan pecatan’.

Ada juga pemilik akun bernama @hudattamini yang mengatakan bahwa tidak ada istilah lulus kalau dipecat, yang paling tepat adalah drop out.

Atau cuitan dari pemilik akun bernama @suciharto. Ia mengatakan bahwa ‘diberhentikan’ sama dengan ‘lulus cepat’. Ia lantas menambahkan ‘iki logika opo’?

Mungkin di satu sisi, ini bisa masuk kategori becanda. Saya sendiri saja merasa lucu dengan pernyataan Pak Anies ini. Di sisi lain, ini bisa menjadi bentuk sindiran kepada pemerintahan Pakde Joko. Pak Anies double speak lagi? Atau Pak Anies masih sakit hati karena dipehaka di tengah jalan oleh Pakde?

Memang beliau baru dua bulan memimpin Jakarta, tapi banyak orang bilang dia udah gagal. Ibarat kuncup bunga yang layu sebelum mekar, begitu katanya. Aih, kasian banget ya.

Dari pada jadi seksi repot untuk Pilgub daerah lain, lebih baik Pak Anies fokus pada pembangunan Jakarta aja deh. Apalagi sekarang kan udah musim penghujan, mending bapak fokus ngurusin banjir aja. Bukankah itu lebih baik? (K-32)

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi
spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

PDIP dan Gerindra Ngos-ngosan

PDI Perjuangan dan Gerindra diprediksi bakal ngos-ngosan dalam Pilgub Jabar nanti. Ada apa ya? PinterPolitik.com Pilgub Jabar kian dekat. Beberapa Partai Politik (Parpol) pun mulai berlomba-lomba...

Arumi, ‘Srikandi Baru’ Puan

Arumi resmi menjadi “srikandi baru” PUAN. Maksudnya gimana? PinterPolitik.com Fenomena artis berpolitik udah bukan hal baru dalam dunia politik tanah air. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk...

Megawati ‘Biro Jodoh’ Jokowi

Megawati tengah mencari calon pendamping Jokowi. Alih profesi jadi ‘biro jodoh’ ya, Bu? PinterPolitik.com Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu laksana lilin yang bernyala. Lilin...