HomeHeadlineEra Bocor yang Disamarkan

Era Bocor yang Disamarkan

OPINI - Ekonomi Politik

Kecil Besar

Audio dibuat menggunakan AI.

Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis


KATA PEMRED #36
PinterPolitik.com

Di sebuah minimarket, tiga layar menyala bersamaan. Televisi kecil di atas kasir memuji pasar yang katanya tetap tenang. Mesin ATM menampilkan saldo yang bergerak pelan, nyaris tanpa bunyi. Ponsel seseorang di antrean berkedip: ajakan bermain lagi malam ini, setoran kecil yang mengalir ke server entah di negara mana.

Tiga layar itu ada di minimarket mana pun pada awal Juni 2026. Pekan ketika rupiah, untuk pertama kali dalam sejarah, menembus 18.000 per dolar Amerika. Pada 4 Juni mata uang itu dibuka di 18.003 dan tergelincir ke 18.039 menurut kurs acuan. Ketiganya bercerita tentang satu hal: ke mana uang negeri ini mengalir, dan apakah negara berani mengakui arahnya.

Refleks pertama adalah menoleh ke luar. Harga minyak melonjak karena perang di Timur Tengah. Investor dunia memburu dolar. Suku bunga global belum turun. Semua benar. Tetapi kebocoran tidak melahirkan angka 18.000. Kebocoran mempersempit bantalan. Angin dari luar berubah menjadi badai justru karena lambung kapal sudah lama retak dari dalam.

Kata โ€œbocorโ€ bukan dari oposisi. Itu kata Presiden. Di Kejaksaan Agung, akhir Desember 2025, Prabowo Subianto menyamakan negara dengan tubuh manusia. Kalau tiap hari bocor sedikit, ujungnya tubuh itu ambruk. โ€œMati negara,โ€ katanya. Ia menyebut modusnya satu per satu: dirampok, dicuri, laporan palsu, harga ekspor dipalsukan, pejabat disogok, barang diselundupkan. Mei 2026, di depan paripurna DPR, ia mengangkakannya: ratusan miliar dolar lolos lewat ekspor batu bara dan sawit yang dicatat di bawah harga pasar.

Lama kalimat itu hanya terdengar sebagai pidato. Lalu sebuah lembaga negara, tanpa banyak kamera, menaruh angka di bawahnya. Dalam catatan akhir tahun PPATK, selisih bersih dana yang masuk dan keluar lintas negara melonjak dari 93,6 triliun rupiah pada 2024 menjadi 348,6 triliun rupiah pada 2025. Hampir empat kali lipat dalam setahun. Di lembaga yang sama, transaksi yang diduga terkait korupsi menyentuh 984 triliun rupiah, dan perputaran judi daring ratusan triliun lagi. Tak semua rupiah itu berubah jadi dolar lalu lenyap. Polanya rutin: uang gelap enggan tinggal dalam mata uang lemah, di negeri yang ia sendiri tak percayai.

Ada dua sungai uang di sini. Di permukaan mengalir sungai resmi: defisit anggaran di bawah 3 persen, intervensi Bank Indonesia, aturan devisa hasil ekspor yang ditata ulang. Di bawahnya mengalir sungai kedua, tanpa kamera: judi lintas negara, proyek yang digelembungkan, uang haram yang menjelma tanah, saham, dan dolar. Bertahun-tahun sungai kedua cuma bisa diraba. Sekarang ia punya debit. Angka 348,6 triliun rupiah itu metafora Presiden yang berubah menjadi satuan.

Baca juga :  Negara yang Akhirnya Belajar Melihat

Di sinilah cerita berbelok dari yang biasa kita dengar. Soalnya boleh jadi bukan kekurangan dolar. Indonesia menghasilkan cukup dolar. Sebagian dari dolar itu tak pernah benar-benar pulang. Ini bukan cerita devisa. Ini cerita memulangkan kepercayaan. Negara bisa mengekspor lebih banyak nikel, batu bara, sawit, bahkan kelak jasa kecerdasan buatan. Tetapi selama pemilik modal di dalam negeri lebih percaya rekening di luar daripada lembaganya sendiri, setiap tambahan dolar hanya jadi transit, bukan tabungan bangsa.

Negara diam-diam mengakui itu lewat tindakan. Sejak 2 Juni 2026, Bank Indonesia memotong batas beli dolar tunai tanpa dokumen menjadi 25.000 dolar per orang sebulan, turun bertahap dari 100.000. Cadangan devisa surut ke 146,2 miliar dolar. Surplus dagang April tinggal 89 juta dolar, anjlok dari 3,32 miliar sebulan sebelumnya. Yang dihadapi bank sentral saat menjatah dolar bukan pemodal di New York. Yang dihadapi eksportir, pemilik modal, dan pelaku ekonomi di dalam negeri sendiri. Musuh kurs tak selalu asing. Kadang ia penduduknya sendiri.

Inilah yang sering luput. Pada banyak krisis mata uang di Amerika Latin dan Asia, pelarian modal warga lokal justru lebih besar daripada uang asing yang keluar. Publik gemar menyalahkan investor asing. Padahal kerap warganya sendiri yang lebih dulu meninggalkan kapal. Maka pelarian modal bukan peristiwa keuangan. Ia referendum diam-diam para elite atas masa depan negara. Tak ada surat suara, tak ada bilik, tak ada hitung cepat. Tetapi setiap dolar yang dipindahkan ke luar negeri adalah satu suara.

Pasar pun membaca sebuah nama. Awal 2026, DPR menyetujui Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ada gema jauh di balik nama itu. Ia putra Soedradjad Djiwandono, gubernur bank sentral pada hari-hari rupiah runtuh tahun 1998. Satu marga membawa ingatan satu krisis ke ambang krisis yang lain. Cadangan yang โ€œcukupโ€ hanya menenangkan selama orang percaya bank sentral akan memilih kurs yang stabil, bukan politik yang nyaman. Pasar jarang panik karena kurang angka. Ia panik ketika tak lagi percaya pada apa yang angka itu sembunyikan. Lihat saja peramalnya berselisih. Bank Dunia memangkas proyeksi 2026 ke 4,7 persen, Dana Moneter Internasional menahan di 5 persen, Bank Pembangunan Asia di 5,2 persen. Selisih itu sendiri sudah jadi pesan.

Baca juga :  Nadiem dan Senjata Karet UU Tipikor?

Taruhannya jauh lebih besar dari kurs. Prabowo sedang menjalankan Makan Bergizi Gratis, hilirisasi, pertahanan, dan infrastruktur. Semuanya butuh fiskal, devisa, dan kepercayaan. Maka kebocoran bukan sekadar ancaman bagi rupiah. Ia ancaman bagi kapasitas negara. Negara yang kehilangan kemampuan menjaga uangnya akan kehilangan kemampuan membiayai ambisinya. Di sinilah dua agenda yang dianggap terpisah sebenarnya satu. Negara Hasil hanya bisa bertahan bila ditopang Negara Audit. Makin besar proyek, makin mahal harga sebuah kebocoran. Keberhasilan pembangunan dan disiplin pengawasan bukan dua jalan. Mereka sepasang kembar.

Jujur di sini bukan kata kosong. Ia tindakan. Beberapa tahun lalu, di India, seorang gubernur bank sentral memilih mengumumkan angka yang pahit lebih dulu, sebelum pasar menemukannya sendiri. Kepercayaan justru tumbuh karena ia menolak berpura-pura. Itu wujud konkret dari menaruh kebocoran di pusat perencanaan kurs: bukan menyembunyikan luka sampai pasar mengendusnya, tetapi membuka buku lebih dulu. Sebagian langkah hulu sudah jalan. Ekspor komoditas ditarik ke satu pintu, devisa ditahan lebih lama di dalam negeri. Tetapi perburuan judi daring dan aset korupsi belum pernah duduk di satu meja dengan kurs dan anggaran.

Maka satu pertanyaan tinggal menggantung, dan tak mudah ditepis. Jika Presiden sudah mengakui kebocoran, dan lembaga negara sudah mengukurnya sampai ke digit terakhir, mengapa kebocoran masih diperlakukan sebagai urusan penegakan hukum, dan belum menjadi variabel inti stabilitas makroekonomi? Selama jawaban atas pertanyaan itu ditunda, rupiah bukan tokoh utama dalam cerita ini. Tokoh utamanya adalah kepercayaan para elite pada negaranya sendiri. Dan kepercayaan itu sedang dihitung tiap hari, bukan di bilik suara, melainkan di tiap dolar yang diam-diam dipindahkan ke luar negeri. Angka 18.000 di pojok layar ATM itu cuma cara pasar membaca rekapitulasinya dengan suara keras.

**********************


Tentang Penulis

Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis


Hak cipta dilindungi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Penggandaan, pengutipan, atau penyebaran sebagian atau seluruh tulisan ini tanpa izin tertulis dapat dikenai ketentuan pidana Pasal 113.

Artikel Sebelumnya
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jika Ahok jadi Ketua KPK

Andai jika orang yang suka bicara dengan tajam dan blak-blakan diminta untuk menjadi ketua KPK. Apa yang sebenarnya akan berubah, dan apa yang justru tidak bisa berubah sama sekali?

Khofifah dan Jebakan “Bebek Songkem”?

Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah?ย 

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian "agak baik" untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, โ€œrayapโ€ tidak takut pada menterinya.

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing

BGN and the โ€˜Nurturingโ€™ Nanik

Prabowo tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit?ย 

Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Simbolisme Marhaen kini bergeser ke kisah Fatimah Iryanti. Seratus tahun lalu, Soekarno menemukan wajah kemiskinan di sawah yang kering. Hari ini, wajah itu duduk di jok motor, menanggung terik kota, mengantar pesanan demi pesanan yang surplusnya tidak pernah benar-benar sampai ke tangannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara โ€œsenyapโ€.

More Stories

Mendayung di Antara Dua Kecerdasan

Dr. Wim Tangkilisan membahas bagaimana Indonesia harus menjaga kedaulatan kecerdasan buatan di tengah rivalitas AS-Tiongkok, dengan strategi bebas aktif, talenta, energi, dan infrastruktur digital yang mandiri.

Beijing Mengunci Kecerdasannya

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #34PinterPolitik.com Di sebuah ruang kerja di Singapura, sebuah...

Negara Penyangga

Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #33PinterPolitik.com Geopolitik jarang mengetuk pintu. Ia datang seperti hujan...