HomeNalar PolitikTrust Game Intelijen Ompreng MBG?

Trust Game Intelijen Ompreng MBG?

Kecil Besar

Rompi pink Kejagung untuk tiga petinggi BGN, pidato Prabowo tanpa menyebut kepolisian dalam bingkai penegakan hukum, pujian “agak baik” untuk nasi pulen SPPG, candaan intelijen, hingga kursi BGN yang tak kembali ke Polri. Bukan sekadar kebetulan kiranya, melainkan pola kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya.


PinterPolitik.com

Momentum rompi pink Kejaksaan Agung yang baru saja dikenakan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan dua wakilnya, yakni Sony Sanjaya dan Lodewyk Pusung pada 3 Juni 2026 kemarin membuat perbincangan mengenai angin politik-hukum saat ini ngeri-ngeri sedap.

Malamnya, setiap makna kalimat pidato Presiden Prabowo Subianto di hadapan belasan ribu sarjana penggerak serta mitra Makan Bergizi Gratis (MBG) kiranya patut dimaknai secara mendalam. Terutama, yang terkait penegakan hukum.

Pertama, mengenai mandat penegakan hukum yang ditujukan kepada tiga lembaga KPK, BPKP, dan Kejagung. Menariknya, tanpa menyebutkan institusi kepolisian.

Kedua, soal pujian yang diiringi canda nasi pulen SPPG Polri yang dipertanyakan apakah enak karena kunjungan presiden atau seperti apa.

Bahkan, candaan berlanjut dengan panggilan kepada Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) M. Herindra untuk menyelidiki ihwal yang sebenarnya bermakna pelaksanaan konsistensi kualitas gizi MBG bagi anak bangsa.

Terakhir, dan yang mungkin saja saling terkait baik secara langsung maupun tak langsung adalah ditunjuknya pengganti tiga petinggi BGN (Kepala dan Wakil Kepala) yang kini tak diisi sosok berlatarbelakang kepolisian.

Seolah, di balik ompreng yang terlihat sederhana kendati disokong anggaran raksasa itu terdapat kompleksitas politik-kekuasaan yang sedang bergerak. Benarkah demikian?

Merengkuh Kepercayaan

Jeremy Bentham merancang Panoptikon, bangunan penjara di mana semua tahanan bisa diamati oleh satu pengawas tanpa pernah tahu kapan mereka benar-benar diawasi.

Baca juga :  Cerdas Cermat & Sindrom Defensif Indonesia

Michel Foucault kemudian mengembangkannya menjadi teori tentang kekuasaan modern, bahwa pengawasan paling efektif bukan yang hadir terus-menerus, melainkan yang membuat subjeknya bertingkah seolah selalu diamati.

Presiden Prabowo, mungkin tanpa merujuk Foucault secara eksplisit, sedang mengidentifikasi kegagalan Panoptikon dalam program MBG atas kasus Dadan cs.

Dengan menyebut kualitas dapur SPPG Polri “agak baik”, predikat yang seolah berjarak, yang memuji sekaligus meragukan, lalu bertanya langsung bahwa apakah nasi pulen itu memang seenak itu setiap hari, atau karena mereka tahu Presiden akan datang?

Pertanyaan itu adalah diagnosis filosofis yang sangat tepat. Apa yang terjadi di dapur SPPG ketika tidak ada kunjungan adalah realitas MBG yang sesungguhnya.

Apa yang tersaji saat Presiden hadir adalah pertunjukan, sebuah simulacrum, dalam bahasa Jean Baudrillard, yang tidak lagi merujuk pada realitas melainkan menggantikannya.

Bila yang selalu dilaporkan adalah kondisi kunjungan, bukan kondisi harian, maka negara sedang memerintah berdasarkan bayangan dari realitas, bukan realitas itu sendiri.

Maka candaan kepada Kepala BIN M. Herindra untuk “menyelidiki” konsistensi kualitas itu bukan sekadar humor.

Dalam kerangka Foucaultian, ia adalah permintaan untuk mengaktifkan kembali prinsip Panoptikon yang sebenarnya: pengawasan yang tidak bisa dipersiapkan, yang datang tanpa jadwal, dari lembaga yang tidak berada dalam rantai komando yang sama dengan yang diawasi.

BIN dipilih bukan karena spesialisasinya dalam gizi, melainkan karena ia berada di luar sistem yang ingin diverifikasi. Independensi kelembagaan sebagai prasyarat kebenaran, itulah isi candaan itu.

Bila yang selalu dilaporkan adalah kondisi saat kunjungan, negara sedang memerintah berdasarkan simulacrum, bayangan realitas yang menggantikan realitas itu sendiri. Candaan tentang BIN mungkin saja adalah bagian dari aba-aba trust game dan permintaan untuk kembali ke realitas yang sebenarnya. Mengapa demikian?

Baca juga :  Triple Helix & Industri Militer Indonesia
dadan rusak citra mbg

Logika Kepercayaan Institusional

Trust game dalam teori permainan (game theory) adalah situasi di mana satu pihak harus memutuskan seberapa besar kepercayaan yang diberikan kepada pihak lain, dengan konsekuensi yang asimetris jika kepercayaan itu ternyata salah tempat.

Dalam konteks MBG, trust game itu seolah sedang dimainkan atau lebih tepatnya diuji di beberapa papan sekaligus, papan pengawasan hukum, papan kepemimpinan BGN, dan papan kunjungan presiden ke dapur SPPG atau icip menu MBG di sekolah.

Selain itu, Hannah Arendt menulis bahwa kekuasaan tidak terletak pada tindakan tunggal seorang penguasa, melainkan pada pola yang terbentuk dari serangkaian tindakan yang tampak terpisah. Pola itu, bukan momen, yang mendefinisikan arah kekuasaan.

Sekali lagi, pola itu seakan terlihat ketika kita mencermati siapa yang menggantikan tiga petinggi BGN yang kini menyandang status tersangka.

Kursi yang ditinggalkan representasi Polri tidak dikembalikan ke Polri. Ini mungkin bukan keputusan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian.

Tak lain, soal kemungkinan mandat pengawasan yang tidak menyebut Polri, penindakan oleh Kejagung terhadap representasi Polri di BGN, pujian bersyarat yang diikuti perintah pemantauan oleh lembaga di luar Polri, dan kini kekosongan jabatan yang tidak diisi oleh wajah Polri.

Dalam bahasa Arendt, ini adalah kekuasaan yang sedang mendefinisikan ulang kepercayaannya, bukan melalui dekrit, melainkan melalui akumulasi pilihan yang masing-masing bisa tampak biasa, tetapi bersama-sama membentuk arah yang tidak bisa diabaikan.

Di balik ompreng yang sederhana itu, sesuatu yang lebih besar sedang bergerak. Dan ia bergerak ke satu arah yang harapannya lebih baik. (J61)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari โ€” dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing

BGN and the โ€˜Nurturingโ€™ Nanik

Prabowo tunjuk Nanik S. Deyang sebagai Kepala BGN baru. Mampukah sentuhan perempuan menyembuhkan dapur 60 juta porsi yang sedang sakit?ย 

Driver Ojol Sang Marhaen Modern

Simbolisme Marhaen kini bergeser ke kisah Fatimah Iryanti. Seratus tahun lalu, Soekarno menemukan wajah kemiskinan di sawah yang kering. Hari ini, wajah itu duduk di jok motor, menanggung terik kota, mengantar pesanan demi pesanan yang surplusnya tidak pernah benar-benar sampai ke tangannya.

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara โ€œsenyapโ€.

“Termul” Pensiun, AI Ambil Alih

Mereka tidak mencoba meyakinkan Anda. Mereka hanya perlu meyakinkan Anda bahwa semua orang lain sudah setuju. AI akan mengambil posisi Buzzer Konvensional. Mereka tidak bergerak dengan ratusan akun, mereka bergerak dengan ribuan atau jutaan akun. Manusia biasa tidak mungkin bisa melakukannya. Selamat Datang di fenomena AI SWARM.ย 

Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Pertemuan Megawati dan Sultan Hamengku Buwono X beberapa hari lalu terlihat seperti silaturahmi biasa โ€” kangen-kangenan setelah lama tak berjumpa. Namun di balik hangatnya obrolan itu, banyak pihak membaca makna lebih dalam: Sultan sekali lagi berdiri di persimpangan politik Indonesia, menjadi titik temu yang tak bisa diabaikan.

Nadiem dan Senjata Karet UU Tipikor?

Karena yang sesungguhnya sedang diuji bukan hanya niat seorang menteri. Yang sedang diuji adalah seberapa jauh rumusan hukum Indonesia mampu membedakan antara keputusan yang koruptif dengan keputusan yang keliru.

Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Seorang pria dari Solo itu tidak akan pernah diam sampai permainan โ€œcaturโ€ politiknya menang lagi. Langkah politik yang akan dipersiapkan seolah ia teriak kembali โ€œSaya akan lawan!โ€ untuk yang kedua kalinya.ย 

More Stories

Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Head-to-head menarik terkonstruksi dengan Muhaimin Iskandar, seiring impresi Gus Ipul yang membangun kedekatan dengan lingkar Istana, mengawal Sekolah Rakyat, dan mengakumulasi modal simbolik secara โ€œsenyapโ€.

Dahsyatnya โ€œBuahlil Feverโ€

Lagu โ€œMas Bahlil Gantengโ€ kiranya menjadi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konteks sosial-politik Indonesia. Kedahsyatannya yang dinyanyikan dewasa maupun Gen-Alpha, mendobrak algoritma untuk mengubah citra seketika saat seorang pejabat yang awalnya dinaungi nuansa skeptisisme.

The Grand Banten Model, Dinasti-Prosperity

Sekian lama hanya โ€œnggak diajakโ€ dalam diskursus politik-pemerintahan tanah Jawa, Banten agaknya mulai bergerak ke arah positif dengan kebijakan baru dalam lima helix kunci yang sangat menentukan di era Presiden Prabowo Subianto.