HomeCelotehTVRI, Buaya, dan Jati Diri Bangsa

TVRI, Buaya, dan Jati Diri Bangsa

Kecil Besar

“Discovery Channel kita nonton buaya di Afrika, padahal buaya di Indonesia barangkali akan lebih baik,” – Arief Hidayat Thamrin, Ketua Dewas TVRI


PinterPolitik.com

Kisruh soal pemecatan Helmy Yahya dari kursi Dirut TVRI ternyata masih menyisakan banyak cerita ya. Sepertinya masih banyak orang yang ingin menggali lebih dalam polemik kasus ini sehingga beragam pernyataan masih banyak diajukan.

Netizen misalnya banyak yang dibuat bingung dengan perkara ini. Banyak yang menilai TVRI di bawah Helmy Yahya justru tampil lebih segar dengan beragam perubahannya. Oleh karena itu, pemecatan Helmy jadi sesuatu yang mengejutkan buat mereka.

Di tengah berbagai kondisi tersebut, Komisi I DPR RI mengadakan rapat dengan Dewan Pengawas (Dewas) TVRI yang menjatuhkan vonis pemecatan kepada Helmy. Nah, di forum tersebut, berbagai pertanyaan dari para netizen coba perlahan diajukan oleh para wakil rakyat.

Ternyata, ada alasan khusus dari Dewas menempuh jalur pemecatan kepada Helmy Yahya. Keputusan untuk menayangkan Liga Inggris jadi salah satu yang diungkapkan pada kesempatan tersebut. Loh kok bisa? Bukannya keren ya stasiun televisi nasional kita menayangkan laga olahraga kelas dunia?

Ketua Dewas TVRI Arief Hidayat Thamrin mungkin aja gak sepenuhnya sejalan dengan pendapat semacam itu. Kalau kata Pak Arief, tupoksi TVRI itu edukasi jati diri, pemersatu bangsa. Lalu dia menambahkan bahwa realisasinya nonton Liga Inggris.

Sebentar, Liga Inggris, jati diri bangsa. Boleh gak ya ada yang nanya, jadi Liga Inggris dianggap tidak sesuai jati diri bangsa apa gimana? Dalam konteks itu, jati diri bangsa apa sih yang dimaksud?

Terus boleh juga gak ya ada yang nanya, apakah pelatih timnas Indonesia yang selama beberapa waktu terakhir berasal dari mancanegara itu sesuai jati diri bangsa? Apakah menjamurnya pemain naturalisasi di timnas sepakbola Indonesia sesuai dengan jati diri bangsa?

Ternyata gak cuma soal Liga Inggris aja nih yang terungkap di rapat tersebut. Perkara Discovery Channel juga salah satu yang disebut dalam rapat dengan para wakil rakyat. Kata Pak Arief, Discovery Channel kita menonton buaya di Afrika, padahal menurutnya buaya di Indonesia barangkali akan lebih baik.

Buaya. Di Indonesia. Lebih baik. Sebentar, boleh ada yang nanya lagi gak ya, buaya Indonesia lebih baik itu maksudnya apa? Dari sisi apa? Taringnya? Sisiknya? Mangsanya? Eits, ini semua pertanyaan loh, gak ada tuduhan atau cibiran.

Hmmm, kalau dipikir-pikir, pernyataan Dewas TVRI ini mungkin kerasa seperti spanduk-spanduk ala generasi yang lebih tua kalau soal nasonalisme dan jati diri bangsa. Dari hal itu, apakah ini saatnya untuk mengatakan “OK Boomer” dalam kasus TVRI?

Ya gak tahulah, kan niatnya Dewas TVRI ini baik, demi jati diri bangsa. Kita tunggu aja nih, langkah TVRI ke depan demi jati diri bangsa itu. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...