HomeCelotehSoal Hukuman Mati, PDIP Beda Standar?

Soal Hukuman Mati, PDIP Beda Standar?

Kecil Besar

“One day, you’re here. One day, you’re there. One day, you care. You’re so unfair” – Justin Timberlake, penyanyi asal Amerika Serikat


PinterPolitik.com

Hari Antikorupsi Sedunia 2019 memang telah berlalu. Namun, semangat pemberantasan korupsi sepertinya masih membara nih di masyarakat luas.

Usulan mengenai hukuman mati bagi para koruptor misalnya, hingga kini masih menjadi topik yang ramai dibicarakan di berbagai media dan publik. Ide ini mencuat ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri acara peringatan Hari Antikorupsi Sedunia di SMKN 57 Jakarta.

Sebagian masyarakat menyetujui usulan itu agar menciptakan efek jera bagi para pelanggarnya. Namun, tampaknya tidak semuanya sepakat dengan usulan tersebut. Amnesty International misalnya, bilang kalau diberlakukannya hukuman mati bakal melanggar hak asasi manusia (HAM).

Selain itu, menurut mereka, hukuman mati juga nggak bakal ngebikin jera para koruptor. Pasalnya, banyak negara udah mulai ngehapus hukuman mati karena ternyata nggak relevan dengan jumlah kejahatan yang terjadi.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto juga punya pendapat yang sejalan nih sama Amnesty International. Kata beliau nih, hukuman mati belum tentu relevan di Indonesia.

Oleh sebab itu, Pak Hasto lebih setuju kalau hukuman yang diberlakukan adalah pemiskinan terhadap para koruptor. Katanya nih, hukuman itu bisa ngebikin efek jera nih.

Selain itu, beliau menilai hukuman mati itu tidak manusiawi dan tidak sejalan dengan ideologi Pancasila. Bahkan, beliau mencontohkan konvensi-konvensi internasional yang telah menghapuskan hukuman mati.

Wah, bisa-bisa citra Indonesia di mata dunia jadi jelek dong kalau memberlakukan hukuman mati. Apalagi nih, Indonesia kan habis ini menduduki posisi penting sebagai anggota Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) periode 2020-2022.

Hmm, benar juga ya Pak Hasto. Soal hukuman mati untuk pengedar narkotika misalnya, banyak dicecar nih sama negara-negara lain. Brasil dan Belanda sampai-sampai menarik pulang duta besarnya lho pada tahun 2015 dulu. Waduh.

Tapi nih, uniknya, Pak Hasto punya pendapat yang berbeda lagi nih soal hukuman mati kejahatan narkotika. Pada tahun 2016, beliau pernah bilang kalau PDIP perlu ngedukung penuh nih upaya pemerintahan Jokowi untuk memerangi narkoba – dari dukungan politik sampai pemberlakuan hukuman mati.

Lha, kok jadi beda-beda gini? Yang benar mendukung atau menolak nih jadinya, Pak Hasto? Masa iya soal kemanusiaan jadi separuh-separuh gitu, Pak?

Tapi, mungkin kita perlu positive thinking dulu nih. Bisa aja, Pak Hasto sudah sadar kalau hukuman mati dianggap melanggar HAM oleh berbagai pihak. Mulai sekarang, beliau boleh jadi telah mulai mendorong agenda-agenda perlindungan HAM, termasuk untuk para koruptor. Hehe. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Jokowi si Politisi Jenius?

Profesor Kishore Mahbubani menyebut Presiden Jokowi sebagai pemimpin jenius dalam tulisan terbarunya. Berbagai kebijakan mantan Wali Kota Solo tersebut mendapat pujian. Mahbubani bahkan menilai pemerintahan Jokowi layak ditiru oleh berbagai negara. Apakah Presiden Jokowi adalah politisi jenius?

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Giring Ingin Balik Nyanyi Lagi?

Video Ketum PSI Giring Ganesha nyanyikan lagu Nidji tersebar di media sosial. Apakah Giring ingin balik nyanyi lagi dan lupakan politik?

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

More Stories

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

MBG dan Runtuhnya ‘Republik Tepung’

Prabowo melarang telur dadar di program MBG karena rawan dicampur tepung. Mungkinkah kebiasaan "tepung" ini mengancam masa depan bangsa?