HomeCelotehPrabowo Sebenarnya Raja Jawa?

Prabowo Sebenarnya Raja Jawa?

Kecil Besar

“Pertahanan ibarat asuransi, kita punya mobil yang bagus tanpa asuransi, ini sulit di dunia modern. Jadi, bukan berharap ada kecelakaan, tapi kenyataannya manusia selalu penuh dengan hal yang tidak terduga. Demikian juga dengan peradaban manusia dan sejarah bangsa. Tidak ada bangsa di dunia yang niat untuk perang, tapi kenyataannya perang selalu terjadi,” – Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan (Menhan) RI


PinterPolitik.com

Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan biodiversity (keanekaragaman hayati), baik laut maupun di darat yang berlimpah. Namun, kehidupan yang ada di Bumi Pertiwi ini tak selamanya bisa bertahan alias akan mengalami kepunahan.

Flora dan fauna, misalnya, telah menjadi korban kepunahan di beberapa spesies. Tapi, rupanya kepunahan tak hanya menimpa flora dan fauna saja, melainkan manusia dan negara yang mereka tempati yang juga bisa mengalami kepunahan.

Pernyataan yang sama diutarakan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto yang menyebut bahwa suatu kerajaan atau negara bisa punah bila tidak berinvestasi di bidang pertahanan untuk melindungi wilayahnya.

Bagi Prabowo, investasi perang merupakan upaya pencegahan jika memang nantinya bangsa ini akan berhadapan dengan situasi sulit itu. Ia menyebutkan bahwa kehidupan umat manusia penuh dengan hal yang tak terduga. Salah satunya adalah perang yang tak bisa dihindari.

Upaya preventif Prabowo ini sejalan dengan banyak penelitian internasional yang mencoba mengukur dan memprediksi penyebab negara-negara mengalami kepunahan.

Beberapa faktor itu antara lain adalah karena adanya perang, bencana alam, serta penurunan tingkat kelahiran. Faktor-faktor itu menjadi masalah utama yang mendorong laju kepunahan.

Hmm, tapi pernyataan Prabowo terkait kepunahan bukanlah hal yang baru. Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang lalu, Prabowo pernah berucap kalau dirinya kalah, maka Indonesia akan punah. Uppss

Baca juga :  Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?
image 13
Prabowo: Indonesia Bisa Punah!

Anyway, ungkapan Prabowo ini selalu ditarik pada tafsir terkait “politik kekhawatiran”. Padahal, masih banyak alternatif tafsir yang mungkin saja dapat menjadi insight baru melihat realitas politik Indonesia saat ini. 

Mungkin saja ini bagian dari “ramalan politik” yang dapat menjadi kompas untuk hadapi kehidupan di masa datang. 

Coba deh dipikir-pikir. Ungkapan seperti “Winter is coming” yang pernah diucapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF)Bank Dunia (WB) di Bali. Bukankah itu termasuk ramalan politik juga? 

Benedict Anderson dalam bukunya The Idea of Power In Javanese Culture menarasikan bagaimana kekuasaan dan kepemimpinan di Jawa tidak terpisahkan dengan ramalan yang merupakan bagian dari konsep spiritual. 

Menurut kepercayaan ini, masyarakat manusia selalu berada di bawah pengaruh daya-daya kosmis alam semesta yang bersumber pada penjuru mata angin dan pada konfigurasi bintang-bintang dan planet-planet. 

Nah, ramalan menempati ruang tersendiri pada konteks kosmologi (ilmu alam raya) perbintangan sehingga tidak asing jika ilmu perbintangan (astrologi) dianggap sebagai ilmu ramalan. 

Istilah astrologi berasal dari kata astro yang artinya bintang dan logos yang artinya ilmu. Punya rupa yang sama tapi berbeda makna, astronomi dengan kata nomi di sini artinya ilmu tetapi lebih berkaitan dengan ilmu yang punya objek fisik. 

Sederhananya, astrologi adalah pseudosains yang menyatakan bahwa gerakan planet dan bintang di alam semesta memiliki efek dalam kehidupan manusia. Sementara, astronomi adalah ilmu alam yang mempelajari benda-benda angkasa dan fenomena yang terkait dengan angkasa luar. 

Dalam konteks politik Jawa, daya-daya kosmis ini dapat menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan. Namun, juga bisa sebaliknya membawa kehancuran. 

Baca juga :  The One-Man Band

Orang Jawa percaya bahwa raja-lah satu-satunya perantara yang menghubungkan mikrokosmos manusia dan makrokosmos para dewa. Demikianlah menjadi raja yang ideal menurut tafsiran Anderson. 

Pada titik ini, kita bisa melihat tafsiran alternatif dari pernyataan Prabowo tentang kepunahan. Bisa jadi, sebagai tokoh politik, Prabowo mempunyai insting yang kuat tentang ramalan masa depan. 

Hmm, atau, bisa jadi ini narasi yang ingin mengatakan bahwa politik Indonesia yang masih dominan dengan tradisi Jawa membutuhkan sosok yang mampu berkomunikasi dengan alam seperti Pak Prabowo. Hehehe. (I76)


Ini Alasan Prabowo Selalu Kalah Pilpres
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...