HomeCelotehPrabowo Ingin Tiru Megawati?

Prabowo Ingin Tiru Megawati?

“Perjuangan politik haruslah dalam koridor konstitusi. Harus dilakukan tanpa kekerasan” – Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan (Menhan) Indonesia


PinterPolitik.com

Film selalu dapat menjadi mirror society atau gambaran masyarakat. Sepakat kan, gengs? Nah, sebelum ke pokok obrolan, mimin mau cerita sedikit tentang pergolakan kepemimpinan dalam film Godfather mulai dari episode pertama sampai terakhir.

Trilogi Godfather menceritakan tentang sosok pemimpin marga Corleone, dari Italia yang hijrah ke Amerika Serikat (AS), bernama Don Vito Corleone. Ia menjalankan bisnis mafia kelas kakap di setiap pelosok AS.

Karena pesaingnya juga banyak sekali, hidup Vito sering terancam. Hingga suatu hari nasib nahas menimpanya. Ia tertembak dan meninggal setelah menjalani perawatan intens. Pucuk kepemimpinan Corleone pun goyah, cuy.

Akhirnya mau nggak mau, anak kandungnya yang dulunya militer bernama Michael Corleone, harus memikul estafet kepemimpinan klan. Namun, ia tidak sendiri, sebab anak-anak baptis Vito pun membantunya, seperti Fredo.

Posisi mereka setara, sama-sama menjadi pemimpin di sektor bisnis Corleone. Namun, ingat, cuy, darah lebih kental daripada air, kan? Makanya, tetap saja Michael yang jadi pemukanya.

Apa yang bisa kita ambil dari sedikit cerita Godfather adalah pola pergantian pemimpin punya banyak varian ya, gengs. Kalau pola klasik, saat pemimpin masa kepemimpinan selesai, maka si anak yang gantikan. Begitu terus, sampai lahir pola baru bernama musyawarah, yang apabila skalanya besar bisa dipakai model voting.

Tapi, namanya juga peradaban manusia meski warisan kepemimpinan turun temurun itu klasik, tapi tetap saja masih dipakai beberapa orang atau golongan sampai sekarang. Bahkan nih, pola warisan ini kerap bergesekan dengan musyawarah (voting).

- Advertisement -

Biar nggak kelihatan mencolok, biasanya pola warisan berjalan satir banget. Paling umum sih warisan pikiran yang diajarkan pemimpin kepada anak didiknya meski nggak sedarah.

Baca juga :  Enam Faktor Koalisi

Kurang lebih seperti posisi Fredo yang dapat didikan dari Vito. Jadi singkatnya, di dunia modern sekalipun, pola pergantian tampuk kepemimpinan nggak punya pakem tunggal. Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, seperti tampak dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Gerindra kemarin.

Dalam kongres itu, Prabowo Subianto terpilih kembali menjadi Ketua Umum. Ya, mimin nggak kaget sih kalau Pak Prabowo bisa terpilih lagi. Justru, yang bikin mimin kaget itu kok bisa Gerindra tanpa angin tanpa badai melaksanakan KLB.

Padahal kan, KLB biasanya itu digelar sebab ada sesuatu yang genting untuk segera diluruskan. Bukan hanya mimin lho yang heran, bahkan Direktur Parameter Politik juga dibikin melongo, “Saya kira itu adalah suatu momentum politik”.

Mimin ngerasanya juga begitu. Jangan-jangan KLB hanya jadi modus percepatan waktu belaka supaya Prabowo mudah melenggang tanpa halangan dari pesaing yang potensial ya, cuy? Ah sudah lah, lagian kemarin Pak Prabowo jabat sebagai Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua Umum, eh sekarang juga terpilih lagi. Hehehe.

Kalau Prabowo memang ingin membangun dinasti politik layaknya Bu Megawati di PDIP, ya, pantes, kemarin meminta Bu Mega memberi sambutan.

Namun, kalau mau me-blowup seakan Gerindra ‘punya’ Prabowo, seperti halnya PDIP punya trah Soekarno, lantas siapa ya kira-kira penerus Prabowo kalau doi sudah nggak mood jadi Ketum? Hmm, mungkin Pak Prabowo lebih bisa menjawab ya, cuyHehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

- Advertisement -

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Banner Ruang Publik
spot_img

#Trending Article

Joe Biden Menginspirasi Prabowo?

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari, KH Irfan Yusuf Hakim (Gus Irfan), menyebut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berucap bahwa Prabowo...

Mampukah Gus Yahya “Jatuhkan” Cak Imin?

Menurut Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, untuk pertama kalinya dalam sejarah terjadi hubungan yang tidak mesra antara PKB dengan PBNU. Jika ketegangan terus...

Megawati sang Profesor

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menerima gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of The Arts (SIA), Korea Selatan. Apakah ini menunjukkan Megawati seorang politisi...

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Mengapa Jokowi Merasa Kesepian?

Rocky Gerung menyebut batin Jokowi kini tengah kesepian kala momen Hari Raya Idulfitri 1443H. Mengapa Jokowi merasa kesepian?

Kenapa Megawati Singgung BTS?

Ketika menerima gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of the Arts (SIA) Korea Selatan (Korsel), Megawati Soekarnoputri menyebut tidak ingin kalah dari cucunya yang...

Jokowi Dijutekin Biden?

Ketika mendarat di Washington DC, Amerika Serikat (AS), tidak ada pejabat tinggi AS yang menyambut Presiden Jokowi. Mungkinkah sang RI-1 tengah tidak dihiraukan atau...

Mencari Capres Ganteng ala Puan

Ketua DPR RI Puan Maharani sindir soal sosok capres potensial yang dapat dukungan karena ganteng. Siapa capres ganteng yang dimaksud Puan?

More Stories

Megawati Sukses “Kontrol” Jokowi?

“Extraordinary claims require extraordinary evidence” – Carl Edward Sagan, astronom asal Amerika Serikat (AS) PinterPolitik.com Gengs, mimin mau berlagak bijak sebentar boleh, ya? Hehe. Kali ini, mimin mau berbagi pencerahan tentang...

Arief Poyuono ‘Tantang’ Erick Thohir?

“Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata” – Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN PinterPolitik.com Gengs, kalian...

Sri Mulyani ‘Tiru’ Soekarno?

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” – Soekarno, Proklamator Indonesia PinterPolitik.com Tahukah kalian, apa yang menyebabkan Indonesia selalu...