HomeCelotehPancasila untuk Sobat Ambyar

Pancasila untuk Sobat Ambyar

Kecil Besar

“Ning Stasiun Balapan, Kuto Solo sing dadi kenangan,” – Didi Kempot, Stasiun Balapan


PinterPolitik.com

Hai sobat-sobat ambyar, gimana nih, masih pada patah hati? Udah denger lagu sang Godfather of Brokenheart, Didi Kempot belum hari ini? Wah, masa belum sih, ayo puter dulu Cidro atau Sewu Kuto-nya!

Hmmm, sepertinya demam Didi Kempot sekarang sedang benar-benar melanda di negeri ini. Hampir setiap event musik yang menampilkan sang penyanyi, selalu ramai dihadiri para pemuda-pemudi patah hati. Di sana, para sadboy dan sadgirl ini bernyanyi layaknya sebuah koor sambil meneteskan air mata.

Nah, sepertinya demam Didi Kempot ini dilirik juga oleh para politisi negeri ini. Yang teranyar misalnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki ide untuk memanfaatkan popularitas penyanyi terkenal itu. Kira-kira ide apa yang terlontar oleh pejabat setingkat Pak Jokowi terkait dengan Didi Kempot?

Jadi, kalau kata Pak Jokowi, para milenial ini kan menyukai musik. Untuk itu, menurutnya, tidak apa-apa untuk menitipkan lirik di salah satu lagi Didi Kempot untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila.

Ide Pak Jokowi ini sebenarnya bukannya tanpa dasar. Kalau menurut mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, ada survei yang menunjukkan tiga hal yang disukai anak muda oleh anak muda, yaitu olahraga, film, dan musik. Nah, sang presiden ingin agar survei itu jadi rujukan dalam penyebaran nilai-nilai Pancasila.

Wah, gimana nih para sobat ambyar? Apakah siap mendengarkan kalau  sang Godfather of Brokenheart menyanyikan lagu yang liriknya berisi penyebaran nilai Pancasila? Kalau Didi Kempot menyanyikan lagu yang ada nilai Pancasila, apakah para sobat ambyar masih akan memproklamirkan diri sebagai sadboy dan sadgirl?

Terlepas dari itu, fenomena penggunaan lagu untuk menanamkan nilai-nilai ideologis sebenarnya bukan hal yang sama sekali baru di dunia. Kalau kata Lily Kong, musik digunakan oleh elite berkuasa untuk melanggengkan ideologi tertentu. Penelitian Lily sendiri mengambil konteks di Singapura.

Baca juga :  Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Ya, kita tunggu aja deh, gimana nantinya rencana Pak Jokowi dengan penyebaran nilai-nilai Pancasila melalui lagu Didi Kempot ini. Yang jelas, sekarang ini Didi Kempot memang tengah jadi fenomena jadi wajar kalau sang presiden mau memanfaatkan popularitas sang penyanyi. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...