HomeCelotehMenyoal Misi Gibran-Kaesang di Solo

Menyoal Misi Gibran-Kaesang di Solo

Kecil Besar

Kaesang Pangarep – putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) – menjadi pemilik saham Persis Solo sebesar 40 persen. Apakah ini awal duet Kaesang dengan Gibran Rakabuming Raka – juga putra Presiden Jokowi – yang kini menjabat sebagai Wali Kota Solo?


PinterPolitik.com

Setelah beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia diramaikan oleh kabar olahraga berupa mundurnya Indonesia dari All England 2021, kini kabar baru juga datang dari cabang olahraga lainnya. Cabang satu ini menjadi salah satu cabang favorit bagi masyarakat luas.

Apa lagi kalau bukan sepak bola? Cabang olahraga satu ini nggak hanya jadi favorit masyarakat Indonesia lho, melainkan hampir seluruh negara yang ada di planet Bumi.

Uniknya nih, kabar ini diungkapkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang sebelumnya juga pernah memiliki saham di salah satu klub internasional, yakni Inter Milan. Melalui akun Instagram miliknya, Pak Erick mengunggah sebuah foto dirinya bersama Kaesang Pangarep – salah satu putra dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ternyata, eh,ternyata, Mas Kaesang dikabarkan telah membeli kepemilikan 40 persen saham sebuah klub bola yang berasal dari tempat asalnya, yakni Persis Solo. Wah, mungkin, setelah menguasai bisnis kuliner bersama saudaranya, Gibran Rakabuming Raka, dan seorang chef terkenal, kini saatnya Mas Kaesang mulai melebarkan bisnisnya ke bidang olahraga nihHmm.

Boleh jadi, inilah saatnya dua bersaudara – Kaesang dan Gibran – kini mulai “menguasai” Solo tuh. Pasalnya, sang kakak kini menjabat sebagai Wali Kota Solo. Dalam kegiatan pengumuman kepemilikan yang baru ini, Mas Gibran juga mengungkit salah satu janji kampanyenya, yaitu untuk memajukan persepakbolaan Solo.

Wah, bisa jadi ini adalah duet dua bersaudara layaknya si kembar Kray tuh. Kalau kalian pernah nonton film yang judulnya Legend (2015), pasti tahu sih siapa si kembar Kray – Ronald “Ronnie” Kray dan Reginald “Reggie” Kray.

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?

Baca Juga: Mas Gibran dan Misi Rahasia

Gibran Bobby Hanya 4 Tahun

Mereka ini dalam sejarahnya merupakan salah satu pemimpin geng yang berkuasa di East End, London, Inggris, pada tahun 1950-an dan 1960-an. Bahkan nih, Kray bersaudara ini juga populer dan nongkrong bareng sejumlah selebriti lho, seperti Frank Sinatra dan Judy Garland.

Wah wah. Mungkin nih, layaknya Kray bersaudara yang menguasai London, Gibran dan Kaesang ini ingin mulai berekspansi ke Solo nih. Bukan nggak mungkin, kan, dengan peran masing-masing, Kaesang bisa membantu Mas Kaesang mewujudkan janji-janji kampanyenya untuk masyarakat Solo tuhHehe.

Tapimimin jadi bertanya-tanya deh. Kira-kira, Mas Gibran dan Mas Kaesang ini lagi dalam hubungan yang baik-baik saja kan? Soalnya, Mas Kaesang kabarnya sempat nyindir Mas Gibran lho setelah Wali Kota Solo tersebut memberikan sambutan. Bahkan, ada kabar yang menyebutkan kalau Kaesang sempat di-cuekin lho sama kakaknya.

Hmm, kalau benar begitu, Gibran-Kaesang ini lebih mirip dengan Kray bersaudara atau dua pangeran William dan Harry – dua putra dari Pangeran Charles – ya? Soalnya tuh, Harry dan William lagi nggak akrab nih dengan polemik rasisme yang menghantui keluarga kerajaan Inggris.

Ya, terlepas mana yang lebih mirip dengan Gibran dan Kaesang, keluarga Pak Presiden Jokowi ini emang bakal selalu jadi perhatian publik sihWahgimana nanti kalau Pak Jokowi beneran tiga periode ya? Jadi buah bibir masyarakat terus dongHehe. (A43)

Baca Juga: Mencari Suhu untuk Gibran


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Puji Jokowi Untuk si Pembenci

"Ya saya kira sangat bagus. Karena beliau seorang tokoh politik yang berpengalaman. Leadership dan rekam jejak beliau, saya kira tidak diragukan lagi. Sangat bagus...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

More Stories

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu?