HomeCelotehManggantung Nasib Ma’ruf dan Terawan

Manggantung Nasib Ma’ruf dan Terawan

Kecil Besar

“Kami mendesak Presiden Joko Widodo untuk mengganti Menkes Terawan dengan figur yang lebih paham kesehatan publik, punya kepekaan krisis, yang akan memandu kita melewati krisis kesehatan terburuk ini”. – Haris Azhar, Direktur Eksekutif Lokataru


PinterPolitik.com

Desakan berbagai pihak memang bermunculan yang meminta Presiden Jokowi mengevaluasi kinerja Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Pasalnya, cara doi menangani situasi krisis yang sedang dihadapi oleh Indonesia dianggap bermasalah.

Cara doi melakukan komunikasi publik misalnya, dianggap kurang tepat untuk masalah segenting dan sepenting virus corona alias Covid-19 yang saat tulisan ini dibuat sudah bertambah lagi kasusnya menjadi 309 di Indonesia dengan 25 di antaranya meninggal dunia.

Selain itu, Kementerian Kesehatan yang dipimpinnya juga dianggap tidak mempersiapkan protokol penanganan Covid-19 sebelum kasus ini merebak di Indonesia.

Makanya, nggak heran beberapa pihak sampai menginginkan agar Pak Jokowi mencopot sang menteri dari posisinya.

Nah, ternyata ada yang membela Menkes Terawan di tengah simpang siur isu terkait ketidaksiapan pemerintah dan “anggap remeh” yang dituduhkan kepada pemerintahan Jokowi. Wakil Presiden Ma’ruf Amin misalnya, meminta publik untuk tak saling menyalahkan, terutama kepada Menkes Terawan.

Ma’ruf meminta semua pihak bahu membahu bersama melawan persoalan virus corona ini.

Hmmm, tapi pembelaan Ma’ruf kok jadi kayak “orang sakit menolong orang sakit” ya? Soalnya bukan hanya Menkes Terawan yang sedang disorot, tetapi Ma’ruf Amin sendiri juga tengah disorot loh. Upppss.

Iya sih, beberapa bulan terakhir memang banyak pihak yang mempertanyakan kinerja dan kontribusi Ma’ruf dalam pemerintahan Jokowi. Beberapa pengamat bahkan menyebutkan bahwa kinerja Ma’ruf belum dirasakan oleh masyarakat.

Kalau mau dibandingkan sama wapres terdahulu, Pak Jusuf Kalla (JK) misalnya, jauh banget lah. Pak JK kan terkenal dengan pemikiran-pemikirannya yang cepat dan kerap menjadi solusi untuk persoalan-persoalan yang dihadapi oleh negara.

Bener sih, pembelaan Pak Ma’ruf terhadap Menkes Terawan jadi kayak the sick man membela the sick man yang lain. Masalahnya, konteks pembelaan itu bisa berdampak pada makin buruknya penyelesaian persoalan Covid-19 di Indonesia.

Kalau dulu negara-negara di Eropa pernah dijuluki sebagai the sick man of Europe – misalnya di akhir era kekuasaan Kekaisaran Ottoman – karena kekacauan ekonomi dan politik, saat ini mungkin bisa dibilang ada the sick men in the cabinet di pemerintahannya Pak Jokowi.

Semoga cepat berlalu ya. CBadai Covid-19-nya loh ya, bukan Wapres dan Menkes-nya. Uppps. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.