HomeNalar PolitikCorona Merebak, Di Mana Prabowo?

Corona Merebak, Di Mana Prabowo?

Kecil Besar

Seiring dengan meningkatkan kasus virus Corona (Covid-19) di Indonesia, berbagai pihak mulai mempertanyakan di mana kehadiran Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang dinilai tidak terlihat dalam upaya penanganan. Benarkah Prabowo memang tidak terlihat, ataukah terdapat intrik politik lain di balik hal tersebut?


PinterPolitik.com

Selaku wabah virus yang ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), keterlibatan berbagai lembaga dan sektor tentu saja sangat diharapkan dalam menanggulangi wabah virus Corona (Covid-19) yang kasusnya terus meningkat di Indonesia.

Per 19 Maret 2020, tercatat terdapat 309 kasus Covid-19 di Indonesia. Getirnya, dengan angka kematian yang mencapai 25 kasus atau 8 persen, Indonesia menempatkan diri sebagai salah satu negara dengan persentase kematian akibat Covid-19 tertinggi di dunia.

Sebagai pembanding, Tiongkok yang merupakan negara dengan kasus Covid-19 terbanyak dengan 81.102 kasus, justru hanya memiliki persentase kematian  sebesar 3,99 persen atau 3.241  kasus.

Terlebih lagi dengan adanya prediksi bahwa angka kasus akan terus meningkat dan memuncak ketika lebaran, tentu tidak mengejutkan apabila sejumlah pihak kemudian menyimpulkan bahwa wabah Covid-19 telah termasuk ke dalam kategori ancaman negara non-militer.

Atas dasar tersebut, berbagai pihak kemudian mempertanyakan di manakah sosok Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menimbang pada situasi genting yang tengah terjadi akibat Covid-19?

Selaku sosok yang membawahi militer, tentunya Prabowo amat dinanti kehadirannya dalam wabah virus yang telah disebut sebagai ancaman non-militer tersebut.

Lantas pertanyaannya, mengapa Prabowo tidak aktif memberikan arahan kepada publik, seperti halnya menteri yang lain dalam wabah Covid-19? Benarkah Ketua Umum Partai Gerindra tersebut telah tenggelam, ataukan terdapat intrik politik tertentu di balik hal tersebut?

Menteri Pertahanan Berperan Besar?

Sebagai pembanding atas kasus Prabowo, ada baiknya kita melihat wabah Covid-19 yang tengah terjadi di India – negara yang juga memiliki masalah kepadatan penduduk seperti Indonesia.

Menariknya, di negara tersebut, Kementerian Pertahanan yang justru terlihat dalam menyiapkan tujuh fasilitas karantina tambahan untuk pasien COVID-19. Langkah itu sendiri ditempuh karena telah dipelajari bahwa akan terdapat 400 warga India yang diperkirakan akan kembali dari Iran ke Mumbai.

Sikap tanggap serupa juga dapat dilihat dari Menhan Inggris Ben Wallace yang menyatakan akan menyiapkan sampai 20 ribu pasukan untuk mengantisipasi meningkatnya skala krisis akibat wabah Covid-19, seperti terjadinya penjarahan toko. Tidak hanya itu, sampai saat ini, militer Inggris juga diketahui tengah disibukkan dengan upaya pemulangan warga Inggris dari berbagai negara, seperti dari Kuba, Jepang, dan Tiongkok.

Alex Ward dalam tulisannya di Vox juga menjabarkan bagaimana besarnya peran militer Amerika Serikat (AS) dalam menanggulangi ancaman non-militer, seperti wabah Covid-19. Menurut Ward, militer AS bahkan telah terlibat selama lebih dari seabad dalam menangani krisis medis di seluruh dunia.

Capaian itu memang tidak terlepas dari kapabilitas militer AS yang diketahui memiliki keahlian untuk membantu perawatan medis, membangun rumah sakit mobile army surgical hospital (MASH), menyediakan tempat tinggal dan makanan, peralatan medis, serta untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Pada kasus Covid-19, militer AS diketahui telah terjun ke berbagai daerah, seperti Georgia, Florida, dan New York untuk melakukan berbagai langkah penanggulangan.

Dalam keterangannya, Menhan AS Mark Esper bahkan telah menegaskan bahwa Pentagon akan memberikan berbagai bantuan, seperti menyediakan 2.000 ventilator dan 5 juta respirator, serta menawarkan laboratorium untuk menguji warga sipil terhadap Covid-19.

Covid-19 adalah PSYWAR?

Tidak hanya berperan dalam memberi bantuan logistik, nyatanya militer juga harus disiagakan penuh karena wabah Covid-19 dapat pula menjadi ancaman militer serius seperti Psychological Warfare (PSYWAR) atau peperangan psikologis.

Terkait hal tersebut, menariknya mantan perwira militer AS, Scott Bennett menyebutkan bahwa Covid-19 adalah fabrikasi operasi psikologis yang digabungkan dengan penyakit fisik untuk menyebarkan ketakutan, kepanikan, dan intimidasi di pasar ekonomi Tiongkok, serta membelah aliansi militer Tiongkok-Rusia-Iran.

Lanjutnya, wabah Covid-19 adalah operasi psikologis yang dieksploitasi dan dirancang untuk menimbulkan kepanikan sehingga membuka pintu bagi bantuan dan pengembangan vaksin. Terlebih lagi, dengan AS yang memiliki berbagai perusahaan farmasi besar, motif tersebut tentu sangat masuk akal.

Senada, Chua Mui Hoong dalam tulisannya Coronavirus: Fighting a Psychological Battle, membandingkan wabah Covid-19 dengan wabah-wabah sebelumnya – seperti severe acute respiratory syndrome (SARS) – menemukan bahwa, kendati tingkat penularan Covid-19 sangat tinggi, uniknnya, dengan tingkat kematian sebesar 2-3 persen, angka tersebut lebih kecil dari wabah-wabah sebelumnya.

Atas hal tersebut, Hoong menyebutkan bahwa Covid-19 telah menghadirkan peperangan psikologis, yang mana masyarakat tengah menghadapai prasangka, paranoid, dan kekhawatiran yang masif.

Menariknya, kendati mungkin PSYWAR terdengar seperti penemuan di perang modern, PSYWAR ternyata sama tuanya dengan perang itu sendiri. Itu misalnya terlihat ketika para prajurit Legiun Romawi yang memukul perisai dengan pedang mereka secara ritmis, yang mana itu menciptakan efek kejutan dan kekaguman yang dirancang untuk menimbulkan teror pada lawan-lawannya.

Konteks adanya dugaan bahwa Covid-19 adalah PSYWAR nampaknya memiliki korelasi dengan misteri postingan juru bicara Menhan Dahnil Anzar Simanjuntak di intagram pribadinya yang tiba-tiba menguplod foto dirinya bersama dengan Prabowo dengan caption bertuliskan: “Sebagian dari kita mengalami Blessing of Unknowing, sebagian lagi mengalami Suffering of Knowing. Filosofi kepemimpinan”.

Pertanyaannya, apakah mungkin Suffering of Knowing – penderitaan karena mengetahui – yang ditulis oleh Dahnil bermakna bahwa Prabowo tengah berjuang keras melawan PSYWAR yang diakibatkan oleh Covid-19?

Hal tersebut memang tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, jika benar demikian, mantan Danjen Kopassus tersebut tentu tengah disibukkan dengan persoalan tersebut.

Mengapa Prabowo Dicari?

Di luar persoalan Covid-19 adalah PSYWAR, sebenarnya terdapat suatu keganjilan terkait mengapa Prabowo tiba-tiba disorot di tengah meningkatnya kasus Covid-19.

Hal serupa juga dipertanyakan oleh pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi yang mengaku tiba-tiba diminta pandangan oleh berbagai media terkait mengapa peran Prabowo tidak terlihat di tengah kesibukan pemerintah mengatasi Covid-19.

Selain keanehan tersebut, Fahmi juga menegaskan bahwa ancaman non-militer, seperti wabah penyakit menular – yang dalam konteks ini adalah Covid-19 – sebenarnya bukanlah leading sector (sektor unggulan) dari Menhan.

Lalu, sorotan tersebut juga patut untuk dipertanyakan karena sedari awal militer memang telah terlibat dalam penanggulangan Covid-19.

Hal tersebut misalnya terlihat dari peran besar TNI dalam penjemputan WNI yang menjadi anak buah kapal (ABK) World Dream dan Diamond Princess. Pun begitu dengan proses penjemputan ratusan WNI dari Wuhan, Tiongkok. Tidak ketinggalan pula, TNI juga berperan dalam menyiapkan fasilitas karantina di Pulau Sebaru Kecil untuk menampung WNI yang menjadi ABK World Dream dan Diamond Princess.

Apalagi, jika mengacu pada aturan yang ada, terdapat Peraturan Menteri Pertahanan (Permenhan) Nomor 22 Tahun 2017 yang mengatur mengenai keterlibatan TNI dalam menanggulangi wabah penyakit menular.

Keterlibatan tersebut misalnya dengan TNI berperan dalam mengumpulkan data intelijen medis dan data peta geomedik yang kemudian ikut serta dalam melakukan sosialisasi pelaksanaan penanggulangan wabah. Dengan demikian, pelibatan TNI dalam menanggulangi Covid-19 sebenarnya adalah hal yang organik.

Pada titik ini, seperti yang dicurigai pula oleh Fahmi, boleh jadi terdapat upaya dalam melakukan pengalihan isu agar isu tertentu tidak mengkristal menjadi suatu masalah besar nantinya.

Sedikit melakukan spekulasi, mungkin dapat dipahami bahwa isu yang ingin dialihkan adalah peningkatan kasus Covid-19 yang tengah terjadi saat ini. Akan tetapi, benar tidaknya hal tersebut tentu tidak diketahui secara pasti.

Pada akhirnya, mungkin dapat dipahami bahwa tiba-tiba disorotnya Prabowo, nampaknya menyimpan segudang keganjilan – mulai dari momen, ataupun terkait adanya kesan pengabaian peran TNI dalam menanggulangi Covid-19. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  The Grand Banten Model, Dinasti-Prosperity
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...