HomeCelotehElon Musk Sangat Berbahaya?

Elon Musk Sangat Berbahaya?

Elon Musk mengejutkan dunia karena membeli 100 persen saham Twitter. Berbagai pihak menaruh tanda tanya, hingga menyindir keputusan Elon yang dinilai ganjil. Lantas, mungkinkah membeli Twitter akan membuat Elon menjadi sosok paling berbahaya di dunia?


PinterPolitik.com

Bagi penikmat sastra, rasa-rasanya tidak asing dengan karya besar Dante Alighieri yang berjudul Divina Commedia atau Divine Comedy. Karya yang ditulis dari tahun 1308 sampai 1320 ini disebut-sebut sebagai salah satu karya terbesar dalam literasi sastra. Menurut filsuf Erich Auerbach, Dante menempatkan dirinya sebagai orang pertama yang menggambarkan manusia berlawanan dengan arketipe mistis.

Dalam Divina Commedia, Dante menggambarkan manusia sebagai kumpulan sifat baik dan buruk. Manusia adalah produk waktu yang senantiasa berubah dan bertumbuh. Manusia bukanlah produk jadi atau produk ideal seperti para dewa atau sosok maha kuasa.

Terkait judulnya, yakni Divina Commedia atau Komedi Ilahi, ini kerap digunakan untuk menggambarkan komedi di tengah tragedi, atau sebaliknya. Atas penggunaan ini, penulis menjadi teringat pada Elon Musk, sosok yang saat ini menjadi salah satu pusat perhatian dunia.

Bayangkan saja, untuk membeli 100 persen saham Twitter, Elon merogoh kocek sebesar US$44 miliar atau sekitar Rp638,5 triliun. Jumlah yang begitu fantastis. Elon bahkan mampu mengakuisisi 15 klub sepakbola terbesar dunia dengan uang sebanyak itu.

Keputusan itu menjadi buah bibir dunia, berbagai pihak mengkritik dan heran terhadap keputusan Elon. Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi, misalnya, memberi tanda tanya karena bisnis digital bukan DNA Elon dan tren Twitter tengah menurun saat ini.

Mungkin dapat dikatakan, Elon Musk tengah mengalami commedia saat ini. Berbagai keheranan dan meme terhadap keputusannya membeli Twitter adalah serangan komedi. Namun, seperti yang terlukis dalam Divina Commedia, apakah ada tragedi di balik komedi ini?

Baca juga :  Jokowi Viral di Malaysia
elon musk kuasai twitter ed.
- Advertisement -

Jika diperhatikan, kemungkinan itu ada dan cukup besar. Mengutip Klon Kitchen dalam tulisannya The New Superpowers: How and Why the Tech Industry is Shaping the International System, revolusi industri keempat telah membentuk kembali kontur tatanan global. Munculnya perusahaan-perusahaan teknologi raksasa telah menantang otoritas, kedaulatan, dan kapasitas pemerintahan negara.

Suka atau tidak, teknologi saat ini menjadi jantung dari peradaban. Alih-alih sebagai bagian pinggiran, teknologi telah menjadi penentu ke mana peradaban manusia berkembang dan berlabuh.

Dalam literatur perang, ini yang kerap kita sebut sebagai perang asimetris. Perang tidak lagi terjadi antara negara dengan negara, melainkan telah berkembang melawan aktor non-negara seperti perusahaan multinasional dan kelompok transnasional.

Dengan status dan posisi Elon Musk saat ini, mungkin dapat dikatakan ia adalah sosok paling berbahaya dalam perang asimetris. Selain sebagai sosok paling kaya saat ini dengan harta US$219 miliar atau Rp3.179 triliun, membeli Twitter semakin mengokohkannya sebagai salah satu pemain raksasa industri teknologi.

Konteks besarnya pengaruh itu dapat dilihat dari upaya berbagai petinggi pemerintahan negara untuk bertemu dengan Elon. Ini misalnya terlihat dari upaya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Pandjaitan baru-baru ini yang menawari Elon proyek investasi di Indonesia. 

Suka atau tidak, gestur Luhut dan berbagai pihak yang mendatangi Elon, jelas menunjukkan betapa tingginya daya tawar politik sang pendiri Tesla tersebut. 

Well, itu lah Elon Musk, salah satu sosok paling berpengaruh sekaligus paling berbahaya di dunia saat ini. (R53)

spot_img

#Trending Article

Jokowi Dijutekin Biden?

Ketika mendarat di Washington DC, Amerika Serikat (AS), tidak ada pejabat tinggi AS yang menyambut Presiden Jokowi. Mungkinkah sang RI-1 tengah tidak dihiraukan atau...

Berani Ganjar Tinggalkan PDIP?

Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo tidak diundang dalam halal bihalal PDIP Jateng. Apakah PDIP sudah tidak memperhitungkan Ganjar? Apakah Ganjar harus meninggalkan PDIP? PinterPolitik.com Bagi...

Jokowi Sudah Selesai?

Presiden Jokowi dan Ibu Iriana mulai mengemas barang-barangnya di Istana untuk dikirim ke Solo, Jawa Tengah. Apakah ini pesan kekuasaan RI-1 sudah selesai secara...

Anies Lagi, Anies Lagi

Beberapa pihak menyebut nama Jakarta International Stadium (JIS) melanggar undang-undang karena tidak menggunakan bahasa Indonesia. Apakah kritik ini terjadi karena yang merampungkan pembangunannya adalah...

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Cak Imin Bisa “Tenggelam”?

Politikus PKB Umar Hasibuan sebut soal kemungkinan ancaman pembajakan terhadap PKB. Bila terjadi, mungkinkah Cak Imin bisa makin tenggelam?

Partai Mana yang Diinginkan Gatot?

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menolak ajakan Din Syamsuddin untuk bergabung dalam Partai Pelita. Mungkinkah yang diinginkan Gatot adalah partai besar? PinterPolitik.com Kalau membahas eks Panglima...

Mampukah Gus Yahya “Jatuhkan” Cak Imin?

Menurut Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, untuk pertama kalinya dalam sejarah terjadi hubungan yang tidak mesra antara PKB dengan PBNU. Jika ketegangan terus...

More Stories

Berani Ganjar Tinggalkan PDIP?

Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo tidak diundang dalam halal bihalal PDIP Jateng. Apakah PDIP sudah tidak memperhitungkan Ganjar? Apakah Ganjar harus meninggalkan PDIP? PinterPolitik.com Bagi...

Partai Mana yang Diinginkan Gatot?

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menolak ajakan Din Syamsuddin untuk bergabung dalam Partai Pelita. Mungkinkah yang diinginkan Gatot adalah partai besar? PinterPolitik.com Kalau membahas eks Panglima...

SIN Pajak Lunasi Semua Utang Negara?

Menurut mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Dr. Hadi Poernomo, Single Identity Number (SIN) Pajak dapat melunasi semua utang negara. Bagaimana mungkin itu bisa...