HomeCelotehDiplomasi Soto: Andalan Mas Gibran?

Diplomasi Soto: Andalan Mas Gibran?

Kecil Besar

Sejumlah pimpinan partai politik dari PKB, Partai Gelora, dan Partai Gerindra datang menemui Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Di salah satu pertemuan itu, masakan soto lagi-lagi jadi andalan dalam banyak kesempatan pertemuan yang dilakukan oleh Mas Gibran.


PinterPolitik.com

Setiap orang pasti memiliki kegemaran tersendiri soal makanan. Biasanya sih, makanan dan masakan yang dijadikan makanan favorit adalah jenis-jenis makanan yang mengambil tempat yang spesial dalam hati kita.

Nigel Ng yang merupakan seorang pelawak asal Malaysia, misalnya, memiliki perasaan khusus lho dengan nasi goreng (fried rice). Sampai-sampai nih, dengan alter ego-nya yang bernama Uncle Roger, Nigel sangat suka tuh mengomentari para koki atau selebriti lainnya kala memasak nasi goreng.

Nggak hanya Nigel nih yang kerap diidentikkan dengan masakan-masakan spesifik. Tokoh kucing kartun yang bernama Garfield, misalnya, juga memiliki kegemaran tersendiri pada sebuah masakan asal Italia yang bernama lasagna.

Hmm, kalau mimin sih juga punya kegemaran kok soal makan. Salah satu makanan favorit mimin adalah soto. Soalnya nih, buat mimin, soto itu bisa mengingatkan mimin dengan aroma dan rasa yang khas ala ‘rumah’.

Ternyata, oh, ternyata nihnggak hanya mimin lho yang suka dengan soto. Ada juga politikus yang tengah naik daun yang kebetulan juga suka dengan jenis masakan satu ini. Nama politikus itu adalah Gibran Rakabuming Raka alias Mas Wali Kota Solo.

Lhagimana nggak? Mas Gibran ini selalu menjadikan soto sebagai andalan ketika bertemu dengan politisi lain. Ketika bertemu dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gerindra Ahmad Muzani, misalnya, Mas Gibran juga memilih soto sebagai menu makan bersama.

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?

Baca Juga: Gibran, The ‘King’ of Solo?

Gibran Magnet Politisi

Nggak hanya dengan Pak Muzani, Mas Gibran juga memilih buat menyantap soto kala bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo. Uniknya lagi nih, soto juga jadi andalan ketika Mas Gibran bertemu dengan Ketua Umum (Ketum) PAN Zulkifli Hasan (Zulhas).

Wah wahkayak-nya ada yang maniak banget nih pada jenis masakan yang dikenal sebagai soto ini. Sampai-sampai, gaya blusukan-nya Mas Gibran juga menjadikan soto sebagai salah satu menu utama pada September 2020 lalu.

Mungkin nih, Mas Gibran mau menerapkan filosofi soto itu sendiri nih. Ada yang bilang kalau soto itu memiliki filosofi dalam budaya Jawa, sebagai bagi roso, bagi rotopadha rosopadha roto yang artinya kurang lebih adalah berbagi rasa dan berbagi rata.

Hmm, mungkin, filosofi ini juga nih yang diterapkan oleh Pak Presiden Joko Widodo (Jokowi). Buktinya, Pak Jokowi mau tuh berbagi dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang notabene adalah lawan presiden dalam Pilpres 2019 lalu. Hehe.

Tapi, ya, terlepas dari filosofi itu, ini juga jadi penanda kalau gaya blusukan ala Mas Gibran dan Pak Jokowi nggak benar-benar persis sama. Kan, sering tuh, ketika sang ayah tidak suka menggunakan air conditioner (AC) dalam ruangan, si anak malah nggak bisa kalau tanpa AC. Hehe.

Eh, apa mungkin ini bentuk “keunikan” Mas Gibran juga ya? Biasanya tuh, kalau Ibu Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, nasi goreng justru jadi andalan “diplomasi” kan? Kalau ini, apa mungkin ya jadi diplomasi soto? Menarik juga nih – karena mimin juga suka soto kali ya. Hehe. (A43)

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?

Baca Juga: Petuah Sakti Cak Imin untuk Gibran


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

More Stories

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu?