HomeCelotehDi Balik Gatot vs Pangdam Jaya

Di Balik Gatot vs Pangdam Jaya

Kecil Besar

“Jadi saya ulangi, tolong pisahkan apa yang dilakukan Pangdam Jaya itu tidak mewakili TNI seluruhnya. Termasuk juga dilakukan oleh Koopssus di Petamburan dengan menggunakan kendaraan taktis itu pun sama tidak boleh, tidak boleh gunakan kendaraan taktis dalam keadaan damai ini. Jangan seolah semua TNI. Ini perlu saya ingatkan”. – Gatot Nurmantyo, mantan Panglima TNI 


PinterPolitik.com

Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman beberapa waktu terakhir emang menjadi salah satu sosok yang mendapatkan sorotan. Ketegasannya dalam menurunkan baliho bergambar pentolan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, mendapatkan sorotan banyak pihak.

Di satu sisi, banyak yang mengapresiasi tindakan tersebut karena dianggap memberikan efek kejut bagi FPI dan Rizieq yang sekembalinya dari Arab Saudi memang mencuri panggung politik nasional. Bahkan, aksi-aksi Rizieq dianggap melewati batas, termasuk dalam hal kepatuhan terhadap protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Namun, banyak pula yang menilai apa yang dilakukan oleh Pangdam Jaya tersebut berlebihan. Selain sempat menyebutkan akan siap berhadapan dengan FPI – bahkan membubarkan ormas tersebut jika berulah – aksi yang dilakukan oleh sang jenderal dianggap berbenturan dengan konteks perlindungan terhadap hak-hak sipil.

Nggak heran, kritikan akhirnya berdatangan dari banyak pihak.

Salah satunya yang cukup keras menyindir soal hal ini adalah mantan Panglima TNI sekaligus Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo. Doi menyebutkan apa yang dilakukan oleh Pangdam Jaya “berlebihan”.

Yang disorot Gatot adalah terkait penggunaan kendaraan taktis ketika lewat di Petamburan. Menurut Gatot, kondisi saat ini bukan darurat militer. Sehingga, bukan hal yang tepat menggunakan alutsista untuk menegakkan ketertiban, apalagi terhadap FPI yang bukan ormas terlarang seperti HTI.

Baca juga :  Komprador Gurita Batu Bara

Gatot juga bilang bahwa sikap yang ditunjukkan Pangdam Jaya tidaklah mewakili sikap TNI secara keseluruhan.

Hmmm, jadi bingung nih sama Pak Gatot. Soalnya, kalau kita perhatikan, apa yang dilakukan oleh Pangdam Jaya ini merupakan kelanjutan dari sikap tegas yang ditunjukkan oleh Panglima TNI Hadi Tjahjanto dalam salah satu konferensi pers pasca kembalinya Rizieq Shihab ke tanah air.

Kala itu, Hadi secara tegas mengingatkan pihak-pihak yang dianggap mengganggu persatuan Indonesia. Ia menyebutkan bahwa pihak-pihak tersebut akan berhadapan langsung dengan TNI.

Well, Hadi memang tidak langsung menunjuk ke arah FPI dan Rizieq sih. Tapi, kalau membaca situasi yang terjadi kala itu, arahnya jelas ke sana.

Hmm, sepertinya Pak Gatot masih ingin mengukuhkan pengaruhnya di militer nih. Soalnya, hal tersebut adalah salah satu modal yang membuat doi kuat secara politik. Tinggal pertanyaannya adalah apakah kiprah Gatot sebagai mantan Panglima TNI masih cukup kuat untuk menarik para prajurit aktif ke arahnya.

Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

Mencari Jejak Cak Imin

“Where'd you go? I miss you so. Seems like it's been forever that you've been gone” – Skylar Grey, penyanyi asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Sebagian besar...

Ma’ruf Amin yang Dirindukan

“I miss you, I miss you” – blink-182, grup band pop-punk asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Tahun 2020 baru saja dimulai dengan memasuki awal bulan Januari. Namun,...

Prabowo vs Ma’ruf ‘Panaskan’ Tangsel

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih” – Jenderal Soedirman, Jenderal Revolusi Indonesia PinterPolitik.com Adakah di sini yang nge-fans sama Cristiano Ronaldo...

More Stories

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk — tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...