Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Dewa Kipas dan Memori Kekalahan Prabowo

Dewa Kipas dan Memori Kekalahan Prabowo


A43 - Tuesday, March 23, 2021 16:00
Prabowo Subianto (tengah) ketika menghadiri sebuah gala dinner bersama warga komunitas Tionghoa di Jakarta pada tahun 2018 silam. (Foto: Tim Media Prabowo-Sandiaga)

0 min read

Publik Indonesia baru saja dihebohkan oleh pertandingan catur antara Dewa Kipas (Dadang Subur) dan World Grand Master (WGM) Irene Sukandar. Kekalahan Dewa Kipas dalam pertandingan itu pun disebut mengingatkan sejumlah netizen akan memori kekalahan Prabowo Subianto.


PinterPolitik.com

Siapa yang kemarin nggak ngikutin pertandingan catur spektakular antara Dewa Kipas (Dadang Subur) dan World Grand Master (WGM) Irene Sukandar? Hampir semua pasti nonton. Gimana nggak? Pertandingan ini mengundang banyak penonton dan animo masyarakat secara virtual lho.

Drama catur antara Dewa Kipas dan Irene ini bermula dari kemenangan pria yang bernama asli Dadang itu atas seorang pecatur asal Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai GothamChess. Drama kemenangan itu berlanjut ke debat antar-netizen soal diblokirnya Dewa Kipas dari platform permainan catur online.

Sontak saja, warganet Indonesia yang merasa tidak terima membela Dewa Kipas mati-matian dan mengatakan bahwa ini adalah bentuk diskriminasi terhadap Indonesia. Menanggapi drama ini, platform catur tersebut pun menjelaskan bahwa Dewa Kipas dianggap telah melakukan kecurangan.

Anggapan kecurangan ini akhirnya ditanggapi juga oleh Irene – seorang WGM asal Indonesia. Singkat cerita, berbagai drama ini berujung pada pertandingan antara sang WGM dengan Dewa Kipas yang mampu menyedot perhatian banyak orang.

Meski begitu, ternyata, Dewa Kipas kalah telak terhadap Irene. Kekalahan ini pun membuat sebagian masyarakat berasumsi bahwa Pak Dadang memang melakukan kecurangan. Sebagian justru bercanda kalau Dewa Kipas kalah karena pertandingan tidak dilakukan di pos ronda.

Uniknya lagi, lelucon para netizen ini tidak hanya menyerang soal tempat pertandingan, melainkan juga dibawa ke drama politik yang sempat terjadi beberapa tahun lalu. Kalau kita ingat-ingat lagi nih, drama kekalahan seperti ini mirip-mirip lah ya dengan drama politik yang dulu disebut dijalankan oleh Prabowo Subianto.

Politikus yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) ini ternyata dulu berkali-kali mengikuti kontestasi panggung politik nasional guna mencapai kursi RI-1. Meksi begitu, Pak Prabowo selalu berujung kalah ketika menghadapi Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2014 dan 2019.

Baca Juga: Prabowo: The Greatest Showman?

Anies Capres Pilihan Anak Muda

Sampai-sampai, meski diputuskan telah kalah, Pak Prabowo pun tetap mengklaim menang dan menganggap pemilihan umum (Pemilu) yang dilakukan dipenuhi dengan kecurangan. Bahkan, cara serupa juga ditiru lho oleh mantan Presiden AS Donald Trump pada tahun 2020 kemarin. Hehe.

Tapi, tenang aja, Pak Prabowo. Kalau Pak Prabowo nonton seri Queen’s Gambit (2020), Pak Menhan pasti tahu kalau Beth Harmon yang disebut-sebut sangat ahli bermain catur juga sempat beberapa kalah kok ketika melawan Borgov. Bahkan, Beth sempat frustrasi juga kok dengan berbagai kekalahannya.

Meski kalah beberapa kali, Beth pun akhirnya berhasil menang lho atas Borgov. Semua ini berkat bantuan dan bimbingan dari rekan-rekannya yang juga merupakan pecatur lho.

Mungkin nih, biar Pak Prabowo nggak kalah lagi seperti Dewa Kipas, Pak Ketua Umum Gerindra kayak-nya juga perlu nih menggandeng teman yang mumpuni bak Beth. Siapa tahu, kan, Pak Prabowo nanti malah jadi juara di akhir drama politik ini kan?

Apalagi, tahun 2024 ini bisa jadi kesempatan emas bagi Pak Prabowo – mengingat Pak Jokowi nggak bisa maju lagi (kalau beneran jadi hanya dua periode ya). Mungkin, Pak Prabowo bisa ajak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk maju Pilpres 2024 nanti tuh. Hehe.

Bila Pak Prabowo populer di kalangan umum secara luas, Pak Anies – berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia – jauh lebih populer lho di kalangan usia muda-mudi (17-21 tahun). Apalagi, kelompok usia ini menjadi lumbung suara besar lho. Hehe.

Ya, kalau Pak Prabowo jadi dengan Pak Anies, mimin punya usulan nih buat nama dan jargon kampanyenya nih, yakni Brownies. Atau, bisa juga wo ai ni yang artinya sekaligus, “aku sayang kamu.”

Kan, barang kali mau nunjukkin rasa sayang dan peduli Pak Prabowo terhadap para pendukungnya kan. Ya, semoga aja benar sayang dan peduli aja sih – dan nggak ditinggal (lagi) tentunya. Hehe. (A43)

Baca Juga: Waktunya Prabowo Tes Remedial?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait