HomeCelotehBamsoet Ragukan Pemerintah?

Bamsoet Ragukan Pemerintah?

Kecil Besar

“Pemerintah dan Satgas Penanganan Covid-19 tidak perlu terburu-buru dalam melakukan program vaksinasi dan terlebih dahulu memastikan keamanan serta kehalalan vaksin”. – Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI


PinterPolitik.com

Isu tentang vaksin Covid-19 memang jadi topik selain UU Cipta Kerja yang kini menguasai pemberitaan nasional. Selain karena konsen kebijakannya yang dianggap menentukan kehidupan masyarakat dan negara dalam beberapa waktu ke depan, persoalan mengenai vaksin ini penting karena masih adanya pro kontra yang terjadi dalam pengembangan vaksin tersebut.

Bukannya gimana-gimana, baru-baru ini sempat beredar berita bahwa ada relawan uji coba vaksin AstraZeneca di Brasil meninggal dunia. Simpang siur terjadi pasca berita tersebut tersebar, ada yang menyebutkan bahwa relawan tersebut meninggal akibat vaksin yang sudah disuntikkan.

Sementara media lain menyebutkan yang bersangkutan belum sempat menerima vaksin uji coba tersebut. Ia disebut menjadi bagian dari kelompok kontrol yang memang diperlakukan tidak menerima vaksin dan pada akhirnya meninggal karena Covid-19.

Sekalipun isunya simpang siur, yang jelas ini menunjukkan bahwa persoalan uji coba yang demikian ini melahirkan ketakutan di masyarakat terkait aman atau tidaknya vaksin tersebut. Apalagi AstraZeneca adalah salah satu produsen vaksin yang sudah menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia.

Nggak tanggung-tanggung, nilai kesepakatannya mencapai Rp 3,6 triliun cuma buat DP doang yang nilainya 50 persen dari keseluruhan. Hmm, gimana jadinya kalau masyarakat pada nolak divaksin sekalipun udah dibeli pemerintah.

Mungkin hal inilah yang membuat Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta agar pemerintah dan Satgas Covid-19 tidak perlu terburu-buru dalam melakukan program vaksinasi. Intinya sih sebelum produk vaksinya benar-benar lulus uji klinis, sebaiknya jangan terburu-buru.

Demikian pun dengan konteks kehalalannya yang beberapa waktu terakhir emang jadi konsen banyak pihak di Indonesia. Sebelum dipastikan dari sisi kehalalannya juga, sebaiknya jangan terburu-buru.

Hmmm, pernyataan Pak Bamsoet ini jadi terkesan meragukan pemerintah atau gimana sih? Soalnya kalau keraguan yang ada begitu besar, jangan sampai justru mempengaruhi masyarakat untuk pada akhirnya malah nggak mau menerima produk vaksin yang disediakan pemerintah.

Emang Pak Bamsoet ingin warga Jakarta didenda Rp 5 juta? Soalnya di Jakarta udah ada Peraturan Daerah (Perda) bahwa masyarakat yang nggak mau divaksin bisa didenda hingga Rp 5 juta loh. Wihh.

Bicara soal keraguan ini, jadi teringat sama social experiment bernama “Ten Meter Tower” yang memperlihatkan bagaimana keraguan orang bisa berdampak pada keputusan yang dibuatnya. Buat yang belum tahu, ini acara yang meminta orang-orang untuk loncat dari ketinggian 10 meter ke arah kolam renang, dan menganilisis perilaku mereka ketika mengalami keraguan untuk melompat.

Hmm, cocok banget Pak Bamsoet nyobain tantangan ini. Uppps. Hehehe.

Intinya jangan sampai keraguan juga berdampak pembuatan keputusan ya. Tapi setidaknya poin positif yang diberikan oleh Pak Bamsoet adalah setiap kebijakan harus diambil dengan perencanaan matang. Iya deh, Pak. Hehehe. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Menkominfo “Membunuh” Online Shop?

“Bagi rakyat, politik bukan urusan koalisi atau oposisi, tetapi bagaimana kebijakan publik mengubah hidup sehari-hari”. – Najwa Shihab Pinterpolitik.com Dampak demonstrasi dan kericuhan 21-22 Mei...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

Kivlan Zen Menantang SBY?

“Ketahui seperti apa dirimu sendiri dan kamu akan memenangkan segala situasi” . – Sun Tzu PinterPolitik.com Gengs, sebagai masyarakat biasa nih, kalian kaget nggak secara tiba-tiba...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Capim KPK Seperti ‘Kucing Kurap’?

“Bukan masalah apakah kucing itu hitam atau putih, selama dia bisa menangkap tikus,” –  Deng Xiaoping PinterPolitik.com Kursi panas Pimpinan KPK masih diperebutkan, bahkan kini sudah...

Mega-SBY, A Birthday and Three Funerals

“Taufiq mendukung SBY usai terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya. Begitu pula SBY di kemudian hari menginstruksikan kadernya di kursi parlemen untuk memilih Taufiq...

More Stories

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.